Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Monday, June 17, 2013

Tolak Kenaikan BBM!! (Sebuah Puisi Liris)

BBM mau naiiik!!!
Begitu kudengar di sepanjang jalan yang kulalui tadi pagi
Jalanan yang basah baru saja terguyur hujan
Sisa hujan masih nyata jejaknya pada udara yang seolah berkabut
Hingga menggilas jejak-jejak roda para pengguna BBM

Bagi pengguna setia angkot
Peduli apa aku pada kenaikan BBM?
Toh sang supir paling juga menaikan tarif angkot bukan?
Atau aku harus ikut dalam barisan para demonstran?
Berparade memacetkan jalan raya
Berteriak memekik dan menambah kebisingan kota
Apakah para demonstran itu peduli pada pengguna angkot sepertiku?
Yang berpacu dengan waktu menuju jam kerja demi sesuap nasi
Belum lagi kulihat ada perempuan hamil naik becak
Didampingi suami tercinta yang memisuh, "Jancuuuk!! bojoku arepe mbrojol. Demo mbarang nggarai macet!!"
Di sisi jalan yang lain, beberapa pedagang yang mengangkut dagangannya dengan sepeda onthel,
terpaksa menuntun sepedanya menembus kemacetan

Tolak kenaikan BBM!!!
Tolak kenaikan BBM!!!
Begitu kudengar para demonstran berteriak, memekik heroik bak pahlawan
Masalahnya menjadi pahlawan untuk siapaaa???
Bagi kami para pekerja yang terpaksa datang terlambat?
Bagi perempuan hamil tadi yang resikonya bisa melahirkan di atas becak?
Atau bagi para pedagang yang berusaha mencari seperak dua perak demi bisa makan, tak peduli demo BBM?

Aku tercenung di atas angkot, sambil melahap pemandangan di kotaku
Melihat deretan mobil mewah para demonstran
Melihat mobil dinas para pejabat yang antri BBM bersubsidi
Kucari barisan aksara dan memunguti cecerannya di atas aspal
Mencoba mencerna, harus kujuduli apa episode drama BBM ini?
Atau mungkin tak perlu lagi kata, karena para demonstran dan para pejabat
sebentar lagi akan lupa pada segala retorika
Semua akan baik-baik saja
Karena ini Indonesia
Rakyatnya telah terbiasa dijanjikan kata-kata. Toh Gusti Allah tetap mencukupi segalanya
sesuai dengan kebutuhan.

Tolak kenaikan BBM!!!
Aku menuli telinga, kususun lagi barisan kata

Tolak kenaikan BBM!!!
Kusapukan pena pada lembaran tissue

Tolak kenaikan BBM!!!
Menyusun kembali kata tentangmu, negeriku :
Cukuplah membingkai wajahmu dengan kedua mataku
Lalu meletakkan lukisan dirimu di dinding hatiku
Menjadikannya memorabilia, pernah ada

sebuah negeri bernama Indonesia 
Sarat masalah, sarat demo, nihil tindakan nyata
 
Tolak kenaikan BBM!!!
Aku cuma tahu bagaimana menolak sistem yang salah, lewat gumaman hati 
dan sedikit tarian pena

Tolak kenaikan BBM!!!
Ciiih ...!

Tolak kenaikan BBM!!!
Aaargh ...!

Tolak kenaikan BBM!!!
Preeet ...!

Tidak ada pesta yang tak usai
Setelah demo selesai, semua kembali pada habitatnya. 
Tanpa solusi, tanpa prestasi, tanpa petisi yang berarti
Hanya kata-kata, hanya sementara, menguap begitu saja
Karena ini Indonesia, negara demokrasi yang katanya berlandas pancasila

Tolak kenaikan BBM!!!
Jika mau sejahtera, telusuri lembar sejarah
Tengok lagi, sistem apa yang bisa memperbaikinya
Liberal, gagal
Komunisme, runtuh
Sosialis, habis
Demokrasi, menangis
Lalu apalagi?
Temukan pada lembaran sejarah yang hilang
Itu jika kau mau!




Saturday, December 22, 2012

Surga Yang Dipertanyakan

Hari ini, 22 Desember, konon diperingati sebagai hari ibu. Di mana-mana bertabur kalimat indah tentang cinta, kasih dan rindu terhadap seorang ibu. Perempuan di belahan bumi manapun pasti bahagia jika menerima ucapan,"Selamat hari ibu."

Ucapan selamat hari ibu pun menghiasi jejaring sosial di dunia maya. Tak kenal usia, gender ataupun strata, semua berlomba merangkai frasa menjadi hadiah bagi para ibu tercinta. Tapi benarkah setiap ibu layak mendapat ucapan selamat hari ibu? Lalu benarkah setiap ibu menyimpan surga di kakinya?

Pertanyaan itu menyeruak begitu saja dalam benakku, saat seorang bocah lelaki usia duabelas tahun bertanya, "Bund, apa aku harus mengucapkan selamat hari ibu pada ibuku?"

Aku terperangah, lalu menjawab, "Tentu saja nak, Ibumu berhak atas ucapan itu darimu."

"Selama ini, hanya nenek yang kukenal sebagai Ibuku, Bund. Hanya nenek yang menyayangiku. Bahkan kadang aku berfikir, apakah aku ini anak ibuku," ucap lelaki belasan tahun di hadapanku dengan guratan wajah terluka.

"Sayang, bagaimanapun, ia adalah Ibumu. Perempuan yang melahirkanmu, Menyusui dan membesarkanmu," aku berkata sambil menahan segenap deru di dadaku.

"Nggak Bund. Ibu tidak pernah menyayangiku. Ia hanya mengandung dan melahirkanku. Selebihnya aku besar dalam asuhan nenek. Entah di mana ia saat aku ingin dipeluk, saat aku ingin dimanja dan saat aku ketakutan. Ibu cuma bisa melahirkan, tapi aku nggak pernah tahu, ayahku siapa. Aku ini cuma anak haram, Bund!" Tangis mulai berhamburan dari kelopak matanya, dadanya bergelombang memancarkan emosi jiwa yang ditanggungnya berlarat seumur usianya.

Kurengkuh lelaki kecil itu dalam dekapanku. Kubelai rambut ikalnya. Sambil menahan airmata yang siap luruh, kubisikkan padanya, "Jangan pernah berfikir seperti itu, Nak. Kalaupun itu yang terjadi, ibumu pasti punya alasan mengapa menitipkanmu pada nenek. Percayalah, Ibumu punya cinta buatmu. Punya surga untukmu di kakinya."

"TIDAAAK!!!' Dilepaskannya pelukanku. Urat wajahnya mengeras dan memerah karena kemarahannya.

"Ibu tidak pernah menyayangiku atau adik-adikku. Ibu seenaknya saja hamil lalu menyerahkan kami pada nenek. Lihat bund ... lihaaat! apa wajahku mirip dengan adik-adikku?! Nggak kaaan?! Itu karena kami memang bukan dari ayah yang sama! Karena Ibuku seorang PELACUUUR ...!

BRAAAK .... Penuh amarah dia meninju meja dengan kepal tangannya. Airmata kian deras dengan sedan yang tertahan di dadanya. Aku merasakan nyeri yang menyayat di ujung hati dan menelikung di sudut nadi. Aku tak tahu harus berkata apa, karena memang anak ini terlahir dari rahim salah seorang pelacur di gang Dolly yang telah beralih profesi menjadi mucikari.

Aku luruh dalam diamku, membiarkan anak itu menumpahkan emosi jiwanya. Perlahan dia mendekatiku. Bersimpuh di kakiku. "Bund, hanya perempuan seperti bunda yang memiliki surga. Meski Bunda tak punya anak dari rahim sendiri, tapi aku akan berkata kau lah surga buatku. Karena aku lahir dari ketulusan hatimu."

Sekali lagi kudekap dia dalam pelukku. Airmataku tak lagi terkendali. Meluncur deras bersama tangis anak lelaki di hadapanku. Meski begitu, tetap kujaga nalarku untuk membuatnya tetap menghormati sang ibu, sekalipun ia seorang pelacur.

"Sayang, adanya kamu hari ini, dengan segala sifat baik dalam dirimu, bakat yang Allah anugerahkan padamu, tidakkah kamu sadari, bahwa doa ibumu mengalir dalam darahmu? Mungkin ia tak pernah mengatakan sejuta cinta padamu. Atau mungkin tak pernah ia memelukmu ...."

Aku menarik nafas, mengalirkan ketenangan dalam jiwaku, lalu kulanjutkan ucapanku, "Bunda yakin, dalam keterpurukannya, sebaris doa selalu dilantunnya buat putra-putri yang lahir dari rahimnya. Bagaimanapun, tanpanya, kamu tidak pernah ada di dunia ini. Tetaplah doakan ibumu, jadilah anak sholeh baginya. Doamu akan menjadi penerang baginya, Anakku. Ingat juga, bagaimanapun ibumu, surga harus kau raih dengan segala perbuatan baikmu sendiri."

Lelaki kecil di hadapanku tergugu sambil menghela nafas dalam berkali-kali. Disusutnya airmata dengan lengan bajunya, merenggangkan diri dari pelukanku. "Bund, temani aku meraih surga itu. Setidaknya aku tak pernah lagi sendiri. Karena Bunda selalu ada buatku dan adik-adik di sini. Aku ingin yakin, bahwa ibuku juga memiliki surga di kakinya, seperti Bunda."

Aku tersenyum sambil menghapus kristal bening yang tersisa di kelopak mataku. Kuacak rambut ikalnya sambil menganggukkan kepala, berusaha meyakinkannya. Tak perlu lagi kata, karena kami segera larut dalam aktivitas membuat kartu ucapan selamat hari ibu. Semoga waktu memberiku kesempatan untuk bisa selalu mendampingi mereka.

*Mengingat kisah setahun yang lalu di lokalisasi Dolly. Tak terasa sudah hari ibu ke 2 bersama mereka. Karang Menjangan, 22 Desember 2012










Wednesday, June 13, 2012

Cerita Di Balik Surabaya Whatever Love

Buku Surabaya Whatever Love, sebuah antologi cerpen bertemakan cinta dalam segala dimensinya. Bersetting segala hal yang berhubungan dengan Surabaya. Ada yang manis semisal kopi yang diminum di pinggir Pantai Kenjeran. Ada cinta yang aneka warna serupa bunga-bunga yang berjajar di sepanjang Jalan Kayun. Bahkan ada yang berbau mistis semisteri mitos Waduk Wiyung. Meski ada kisah cinta sederhana di atas Jembatan Petekan, yakinlah cinta tak sekecut soto Madura atau sehitam rawon. 

Dua puluh penulis yang cerpennya berpadu satu dalam buku ini, adalah penulis-penulis Jawa Timur yang tergabung dalam grup CENDOL (CErita Nulis Diskusi OnLine). Masing-masing memiliki gaya bertutur sendiri-sendiri yang terikat dengan benang merah, cinta dan Surabaya.

Saya termasuk salah satu penulis di dalam buku ini. Cerpen saya berjudul Nyanyi Sunyi Sekeping Hati. Berkisah tentang Laras yang workaholic dan Dokter Satrio yang lucu dan romantis. Bagaimana kisah mereka? Apakah akan berakhir dengan kesedihan? atau justru kebahagiaan? Eeehm, kalau penasaran, segera miliki bukunya. Karena tidak cuma tulisan saya yang ada di sana, 19 cerpen lainnya sangat layak dibaca.
Jadikan Surabaya WHatever Love sebagai oleh-oleh dari Surabaya yang takkan basi dimakan waktu. Hadiahkan buku ini buat orang-orang yang anda sayangi.

Untuk lebih lengkapnya, sila cek ke http://www.facebook.com/SurabayaWhateverLove

Friday, March 2, 2012

Sebuah Perkenalan


Aku duduk di sebuah  taman sambil menulis beberapa laporan di laptopku. Telingaku terusik suara seorang gadis yang sedang berpidato di depan sekerumunan orang.

"Hai perkenalkan, namaku Tania. Usiaku 25 tahun. Aku murid baru. Jujur saja, terpaksa aku datang ke kota ini, karena mama ingin menjauhkanku dari ramainya Jakarta. Aku sendiri juga tidak suka keramaian. Bikin kepalaku selalu berdenyut dan telingaku sakit setiap kali berada dalam suasana riuh  yang hingar bingar."

"Aku penyuka warna langit saat rembang petang datang. Sebuah batas antara biru terang dan pekat malam. Aku selalu merasa diriku istimewa dalam caraku. Ya, karena aku yakin, aku tak sama dengan siapapun. Aku menikmati menjadi seorang Tania yang penyuka hujan, cokelat panas yang uapnya mengepul dan buku sebagai sahabat sejati."

"O ya, aku mau bercerita tentang mantan pacarku. Dia sangat istimewa. Dengan mata teduhnya yang terbingkai alis tebal yang rapi, rahang kokoh dan tentu saja tampan. Dia selalu bersikap manis, bertutur kata lembut dan selalu melindungiku bahkan dari kegalakan seseorang yang kusebut ayah."

"Tidak ada cacat cela dalam setiap perilakunya. Satu-satunya kesalahannya, adalah dia terlalu baik terhadap semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Kebaikan yang selalunya disalah artikan sebagai sebuah perhatian atas nama cinta. Terutama oleh para perempuan yang keganjenan itu. Aku sih nyantai saja, tiap kali si Arni, Rina, Niar atau Irna berusaha cari perhatian di depannya. Tapi alun datar emosi di hatiku akan mendadak sontak mengombak, bergelombang, tiap kali Ajeng bicara padaku bahwa dia mencintai kekasihku. Uuuh ... mau rasanya kurobek mulutnya dan kucakar pipinya yang putih itu."

"Tapi sekarang aku lebih tenang, setidaknya Ajeng takkan lagi bisa ketemu dengan mantan kekasihku itu. Meskipun dia sempat sorak-sorak bergembira karena jebakan mautnya berhasil membuat mantan kekasihku melamarnya."

"Kalian lihat apa yang kubawa di dalam tasku? Nih lihat ... ini segumpal hati milik mantan kekasihku. Hatinya akan selalu kumiliki, meski raganya tak bisa lagi bersamaku. Sebongkah daging ini sudah kering darahnya. Bahkan bentuknya pun sudah tak lagi indah. Tapi di dalamnya pernah ada cinta. Setidaknya 4 tahun yang lalu, terakhir kali kutemui dirinya sambil membawa satu ampul obat bius dan seperangkat alat bedah yang kubeli bebas di sebuah toko peralatan medis."

"Hai! jangan keluarkan semua mainanmu, Tania! tuw kan berantakan...," seorang perempuan berseragam perawat mengusik keasyikanku mengamati seorang gadis yang sedang bertutur tentang dirinya.

"Maaf ya mas, ini pasien baru kami. Schizophrenia. Suka berhalusinasi. Kepribadiannya kacau. Kasihan, padahal cantik," ucap sang perawat sambil menggandeng Tania kembali ke kamarnya.

Thursday, March 1, 2012

Dia


Kupandangi raut wajahnya yang tertekuk berlipat-lipat. Meski berusaha dibauri dengan tawa, tetap saja segaris senyum sinis nampak jelas. Sebagai teman lamanya, meski bertahun-tahun baru bertemu lagi, aku paham kegelisahannya.

"Ah, sudahlah aku bukan tokoh, bukan pejabat. Nggak penting kan?" Dia berucap sambil melirikku.

Aku menggedikkan bahu sambil menyeruput es dawet di gelas yang tersisa setengahnya.

"Terus maumu apa?" tanyaku sambil menelengkan wajah menghadapnya.

"Ya nggak mau apa-apa. Tapi seharusnya mereka tuw tahu, aku looh senior ... yaaah meski bukan pejabat atau pengusaha siiih ..." ujarnya masih dengan gaya yang sok cool.

"Eeehm, apakah dalam duniamu ada strata? tingkatan dan golongan?" Aku kembali bertanya.

"Mbuh lah ... tapi ya kupikir, anak itu sok ngetop. Dia bisa mempengaruh mereka. Songooong ... masa maen coret namaku begitu aja. emangnya siapa dia? Huuh! Nyebelin!"

"Lah emangnya dia siapa?" tanyaku ingin tahu.

"Halah cuma pemain baru yang sok tahu. Dia bukan siapa-siapa. Heran aku, kenapa bisa kepake ya orang kaya gitu?" dengusnya sambil menyibakkan rambut yang bersilang warna putih uban dan merah cat rambut.

"Pasti dia punya sesuatu yang membuat dirinya menjadi penting saat ini," ucapku datar.

"Apa? Nggak ada, dia cuma pinter ngomong. Sukanya ngatur orang!" cercanya.

"Kenapa orang-orang yang diatur itu nggak pada protes?" Aku bertanya sambil membuka majalah di depanku.

"Ya itu lah, karena dia pinter ngomong. Makanya nggak ada yang protes. Sebel!"

"Apa sih kerjaannya dia?"

"Ehm, apa ya? Ah paling-paling juga cuma EO kacangan. Nggak ngetop! Nggak ...."

"Terus kenapa kamu harus marah? Bukannya kamu ngerasa lebih ngetop dan lebih keren dari dia? Nyante aja lah ...." kupotong ucapanya yang belum selesai. "Lagi pula kenapa sih kamu sewot gitu? Merasa tersaingi?"

"Ya sebeeel aja ... namaku dia coret dari daftar undangan. Alasannya sepele. Karena prioritas. Karena sistem! Bisa kupastikan pasti suaminya makan ati punya istri seperti itu, Tukang ngatur!"

"Loh kan jelas alasannya. Apa salahnya?" Aku bertanya kian sebal dengan kenyinyiranya.

"Sebab ...."

"Hai mas! Sudah dari tadi ya nunggu aku?" Ucapan perempuan nyinyir itu terpotong oleh suara merdu seorang perempuan yang menghampiriku. Mencium punggung tanganku dan mengecup kedua pipiku.

"Jadi ... dia ...?" Perempuan nyinyir itu menatapku dengan penuh tanya dan bingung.

"Ya, Dia ISTRIKU! Cantik, baik dan aku lebih tahu tentang dia lebih dari siapapun," sambarku sambil menggamit lengan perempuanku tercinta. Berlalu meninggalkannya yang terbengong-bengong, bingung. Rasakanlah!




Tuesday, February 28, 2012

Silent Reunion


 "Sayang, apa khabar?" ucapnya sambil memelukku erat. Harum parfumnya menguar memenuhi udara berselimut cahaya rembulan.

"Baik mas. Lama amat sih? Aku udah nunggu dari tadi," kataku sambil menyurukan kepala dalam dekap hangatnya. 

"Iya maaf, banyak yang harus diselesaikan. Kamu tahu, nggak mudah untuk dapat ijin keluar. Peraturan begitu ketat. Belum lagi antrian panjang untuk dapat ijin keluar pada jam-jam seperti ini."  Kembali dia membawaku dalam pelukan dan mengelus kepalaku lembut. Sepenuh rasa yang dimilikinya untukku.

"Bagaimana harimu? Adakah yang menggelisahkanmu, Dek? Ragamu kudekap, tapi benak dan hatimu entah ada di pelukan siapa," ujarnya sambil berusaha mengukur kedalaman hatiku lewat nafas berat yang berkali-kali kuhembuskan.

Aku tak mampu menjawab. Kuakui jiwaku tidak sedang bersamanya. Hatiku mengkhianati tubuhku dan melukai jiwanya. Tanpa kata, aku kian membenamkan kepalaku dalam pelukannya seiring tangis yang perlahan mengisak.

"Loh ... loh ... kenapa nangis sayang? Salahkah pertanyaanku?" Dia bertanya hati-hati dan lembut.

Aku cuma menggeleng berkali-kali dan tangispun pecah. Berderai dari mata dan hatiku. Tanpa kata, dia memelukku erat. Mengalirkan kesejukkan pada kering jiwaku. Dibiarkannya aku menangis, sambil tetap membelai kepalaku dengan lembut dan sesekali mengecup rambutku.

"Mas ...," panggilku pelan.

"Ya sayang," jawabnya sambil merenggangkan pelukan.

"Mau kah mas berjanji untuk selalu ada buatku? Agar hatiku tak menyelisih tubuh seperti ini. Benakku penuh Mas. Aku tak tahu kepada siapa harus berbagi kecuali kepadamu. Cintamu membuatku bergantung padamu dalam banyak hal. Sering aku tak bisa memutuskan apapun saat kau tak bersamaku. Apa aku salah jika hatiku mengembara mencari tautan saat kau tak bersamaku? Apa aku salah jika tautan itu adalah mereka yang juga menyayangiku?" Kutumpahkan seluruh rasaku sambil menatap matanya yang selalu saja berbinar hangat.

"Sayang, Aku memang tak selalu bisa ada untukmu. Tapi percayakah kau bahwa raga dan hatiku hanya dimiliki olehmu? Aku tidak bisa selalu ada buatmu, tapi coba ingat, sudah berapa banyak waktu yang telah kita lalui bersama? Ya, meskipun belum sebanyak pasangan yang sudah menikah puluhan tahun. Tapi adakah kau temui pada waktu yang telah terlewati, hatiku tak bersamamu? Adakah kau dapati, perhatianku tak penuh buatmu? Atau bisakah kau sebutkan satu saja, perbuatanku yang melukai hatimu?" Ditatapnya mataku, mengalirkan kesejukan dan kehangatan yang selalu saja sama, menentramkan hatiku.

Aku menggeleng. Karena tak kujumpai satupun cacat cela dari putaran waktu yang ternoda bersamanya. "Maafkan aku, Mas. Cintaku padamu, kadang membuatku egois. Ingin selalu memilikimu. Ingin selalu kau dampingi dalam setiap hela nafasku."

"Sayang ... cinta ... kau lupa? aku selalu bersamamu, di sini, di hatimu," katanya sambil menepuk lembut dadaku. "Cinta itu yang akan selalu membuatmu kuat, dalam badai sekalipun."

Aku tergugu. Dia terdiam. Cuma tatap mata, hela nafas, larikan senyum dan sesekali pelukan lembut menjadi bahasa cinta  di antara kami. 

"Sayang, mau kah kau berjanji padaku?" Tiba-tiba suamiku bertanya.

"Janji apa?"

"Berjanjilah, kau akan selalu menungguku. Seberat apapun hidup yang kau jalani saat aku tak bersamamu. Aku akan selalu kembali. You are my home. Please honey ...? pintanya sambil menggenggam kedua telapak tanganku.

"Mas, telah kuberikan janji setiaku saat kau menikahiku. Jadi apapun itu, aku akan selalu menanti saat jumpaku denganmu. Karena raga dan hatiku telah kau miliki." Aku menjawab pintanya, lirih, tapi terdengar jelas pada hening malam yang selaputnya kian pekat.

"Aku percaya dengan kesetiaanmu, Dek. Sekarang aku lega untuk meninggalkanmu. Sudah waktunya aku pergi. Cuma beberapa jam saja aku dapt ijin untuk menemuimu." Sesungging senyum dihadiahkannya padaku sambil mengecup bibirku lembut.

"Ah, tidak bisakah sebentar lagi saja bertahan di sini, Mas?" rengekku seperti anak kecil.

"Tidak bisa sayang. Waktuku sudah habis. Sudah sampai dipertiga malam. Sebaiknya kamu segera wudhu dan sholat. Doakan aku selalu ya. Pintakan sebuah waktu buat reuni kita kelak di surga." Dia berkata sambil perlahan melepaskan pelukanku. Berbalik, meninggalkanku.

"Maaas ...! Jangan pergiii!" Aku berteriak dengan suara parau. Bayang tubuhnya kian menipis, seiring kesadaranku kembali. Bangun dari mimpiku. Kuucap istighfar. Bergegas ke kamar mandi, wudhu. Lalu menggelar sajadah, larut dalam lantun doa di pertiga malam. Berharap sebuah kesetiaan cinta akan membawaku pada silent reunion dengan suamiku yang saat ini menunggu di keabadian.









Saturday, February 25, 2012

Makelar

Kulemparkan tas sekolah penuh semangat hingga mengenai sebuah vas bunga.

Derasnya hujan tak mampu menyamarkan suara benda itu berderai, pecah. Rumah begitu sunyi Kuhentakkan kaki. Marah. Segera masuk kamar dan mengganti seragamku. Lunglai berjalan ke meja makan. Perutku sudah keroncongan tapi mendadak nafsu makanku hilang. Seseorang menepuk pundakku.

"Hai! Nglamun aja! ayo makan, aku juga lapar nih. Ibumu masak apa hari ini?"

 "Tuw lihat aja sendiri," ujarku sambil menunjuk meja makan dengan mataku. Melihatnya menyerbu makanan dengan lahap, selera makanku terbit lagi. 

Segera kuambil sepiring nasi yang kubanjiri dengan sayur asem dilengkapi tempe goreng, ikan asin dan sambal.

 "Mas, ada kerjaan part time nggak untukku? Sekolahku libur dua minggu. Bosen di rumah. Mama sibuk sendiri." Aku bertanya padanya yang masih melahap sisa makanan di piring.

 "Ada, tapi diijinin nggak sama mamamu?" Dia balik bertanya padaku.

 "Ah masa bodoh! Mana mama peduli aku sekolah atau nggak. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Lagian aku sudah SMA bukan anak kecil lagi," ucapku sebal.

 "Oke lah, besok siang tunggu aku di ujung jalan dekat warung kopi Cak Nan."

"Sip!"

"Renaaa, pinjemin payung buat tamu ibu!" Tiba-tiba teriakan mama membuyarkan percakapan kami.

 "Mas, ambilin tuw payungnya! Males aku ...," perintahku padanya.

Bergegas dia mengambil payung dan menyerahkannya pada sang tamu.

 "Loh, Booos! Eh kebetulan, saya dapat karyawan baru. Tuw orangnya. Cantik kan?"

 Kudengar Dia bercakap dengan sang tamu dan sekilas kulihat matanya mengerling padaku. Segera kuhampiri dia, dan ... plaaak! Kutampar wajahnya.

"Jadi maksudmu, pekerjaan untukku adalah menjadi perek bagi germo tua ini?! Mamaku memang pelacur! Tapi jangan kau pikir aku akan menjual tubuhku. Tak selamanya air cucuran atap jatuh ke pelimbahan! Bangsat!" Kutinggalkan dua lelaki itu termangu. Sepupu yang kusayangi ternyata makelar PSK.

Sunday, January 1, 2012

SKETSA KATA TERLARANG

Berkali-kali Ratih bolak balik dari kamar ke ruang tamu, sementara Rakhman, suaminya mengawasi dari balik koran yang sedang dibacanya sambil sesekali menyeruput kopi susu yang diletakkan dihadapannya. Tidak biasanya Ratih segelisah pagi ini.

“Kamu kenapa sih Dik? dari tadi mondar mandir nggak jelas kaya gitu," Rakhman buka suara tak tahan melihat istrinya wira wiri.

“Eh, anu…kerudungku, dandananku sudah rapi belum mas? Aduuuh ini sesi terakhirku mas, aku nervous," alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Ratih malah balik bertanya sambil membetulkan letak kerudungnya dengan gelisah.

“Sudah, sudah rapi, lagian kenapa nggak kamu lihat di cermin saja sih," jawab suaminya sambil kembali menekuri bacaannya.

Ratih cemberut dan merampas koran dari tangan sang suami sambil berkata,“kan sudah kubilang mas, tolong jangan sebut kata itu sampai Aku siap," katanya sedikit berteriak.

“Tapi sampai kapan? ini tahun ketiga pernikahan kita dan kamu masih selalu bertanya hal yang sama setiap kali mau pergi," jawab Rakhman jengkel.

“Untuk apa Aku menikah kalau kamu nggak mau jadi cerminku? Ah kamu kan tahu mas, Aku belum siap berteman dengan benda itu, lagipula Aku bukannya tidak berusaha untuk berkompromi dengannya." Ratih mulai terisak menjawab pertanyaan suaminya.

“Dan kita terus bertengkar gara-gara benda sialan itu! heran darimana sih kamu dapat penyakit nggak jelas macam itu, nggak keren blaass," timpal Rakhman semakin jengkel sambil merebut kembali koran dari tangan istrinya.

Ratih kian terisak dan berkata,”bukannya kamu sudah tahu keadaanku sejak kita pacaran dan katamu, kamu siap jadi cerminku."

“Ya sudah, sekarang sudah hampir pukul delapan, nanti kamu kesiangan menjalani sesi terapimu, maaf ya." Rakhman mengalah sambil mengelus kepala istrinya berusaha meredakan gundah dan kecemasannya.

Ratih menghapus airmata, tersenyum tipis, mencium tangan Rakhman,”Aku berangkat sekarang mas, doakan semoga dia bisa segera pindah ke dalam kamar kita”.

“Harus dong, itu kan hadiah ulang tahunmu, kasihan teronggok di gudang dua tahun ini. Hati-hati di jalan sayang”, jawab Rakhman sambil menerima kecup lembut dipunggung tangannya.

Ratih melenggang sambil mengucap salam. Rakhman menjawab salamnya sambil berharap sesi hipnoterapi hari ini berhasil mengatasi phobi cermin dalam diri istrinya dan membayangkan meletakkan cermin berukir di sudut kiri kamar di depan meja tulis.


*Diikut sertakan pada Flash Fiction Contest NBC Surabaya, 29 April 2011
Meraih juara kedua pilihan juri.

Tuesday, June 14, 2011

Workshop dan Pelatihan Menulis Fiksi


Komunitas CENDOL (CErita, Nulis dan Diskusi OnLine) Jawa Timur sebagai bagian dari Grup Diskusi Fiksi, Menulis Fiksi, Membaca Fiksi (Universal Nikko + Mayok0 Aik0, mengadakan Workshop dan Pelatihan Menulis Fiksi yang akan diselenggarakan pada:

Waktu : Minggu, 17 Juli 2011. pukul 08.00 s/d 17.00 WIB
Tempat : Pasar Buku Indonesia Cerdas, Kapas Krampung Plaza
Pemateri : Donatus A.Nugroho (Raja 1000 cerpen) dan Putra Gara (Novelis sejarah)
Tiket : Rp 55.000 (lima puluh lima ribu rupiah)
Fasilitas : - Kumcer Dua Sisi Susi seharga Rp 55.000.
- Makalah dan sertifikat
- Kesempatan menerbitkan naskah pada penerbit Universal Nikko
- Makan siang
- Door prize
Cp : Titie Surya, 085732033498
Norek : Bank BRI norek 3199-01-011200-53-6 atas nama Ulfia
Bank BCA norek 1500586041 atas nama Nunung Nurnaningsih
Konfirmasi pendaftaran melalui email titie_surya@yahoo.com dengan scan bukti transfer (di attachment)

Pendaftaran peserta berdasarkan target quota, artinya jika dalam seminggu quota terpenuhi maka pendaftaran akan ditutup, karena itu pastikan anda tidak ketinggalan peluang emas ini.


Koordinator CENDOL JAWA TIMUR
Titie Surya

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting