Showing posts with label Prosa. Show all posts
Showing posts with label Prosa. Show all posts

Monday, June 17, 2013

Tolak Kenaikan BBM!! (Sebuah Puisi Liris)

BBM mau naiiik!!!
Begitu kudengar di sepanjang jalan yang kulalui tadi pagi
Jalanan yang basah baru saja terguyur hujan
Sisa hujan masih nyata jejaknya pada udara yang seolah berkabut
Hingga menggilas jejak-jejak roda para pengguna BBM

Bagi pengguna setia angkot
Peduli apa aku pada kenaikan BBM?
Toh sang supir paling juga menaikan tarif angkot bukan?
Atau aku harus ikut dalam barisan para demonstran?
Berparade memacetkan jalan raya
Berteriak memekik dan menambah kebisingan kota
Apakah para demonstran itu peduli pada pengguna angkot sepertiku?
Yang berpacu dengan waktu menuju jam kerja demi sesuap nasi
Belum lagi kulihat ada perempuan hamil naik becak
Didampingi suami tercinta yang memisuh, "Jancuuuk!! bojoku arepe mbrojol. Demo mbarang nggarai macet!!"
Di sisi jalan yang lain, beberapa pedagang yang mengangkut dagangannya dengan sepeda onthel,
terpaksa menuntun sepedanya menembus kemacetan

Tolak kenaikan BBM!!!
Tolak kenaikan BBM!!!
Begitu kudengar para demonstran berteriak, memekik heroik bak pahlawan
Masalahnya menjadi pahlawan untuk siapaaa???
Bagi kami para pekerja yang terpaksa datang terlambat?
Bagi perempuan hamil tadi yang resikonya bisa melahirkan di atas becak?
Atau bagi para pedagang yang berusaha mencari seperak dua perak demi bisa makan, tak peduli demo BBM?

Aku tercenung di atas angkot, sambil melahap pemandangan di kotaku
Melihat deretan mobil mewah para demonstran
Melihat mobil dinas para pejabat yang antri BBM bersubsidi
Kucari barisan aksara dan memunguti cecerannya di atas aspal
Mencoba mencerna, harus kujuduli apa episode drama BBM ini?
Atau mungkin tak perlu lagi kata, karena para demonstran dan para pejabat
sebentar lagi akan lupa pada segala retorika
Semua akan baik-baik saja
Karena ini Indonesia
Rakyatnya telah terbiasa dijanjikan kata-kata. Toh Gusti Allah tetap mencukupi segalanya
sesuai dengan kebutuhan.

Tolak kenaikan BBM!!!
Aku menuli telinga, kususun lagi barisan kata

Tolak kenaikan BBM!!!
Kusapukan pena pada lembaran tissue

Tolak kenaikan BBM!!!
Menyusun kembali kata tentangmu, negeriku :
Cukuplah membingkai wajahmu dengan kedua mataku
Lalu meletakkan lukisan dirimu di dinding hatiku
Menjadikannya memorabilia, pernah ada

sebuah negeri bernama Indonesia 
Sarat masalah, sarat demo, nihil tindakan nyata
 
Tolak kenaikan BBM!!!
Aku cuma tahu bagaimana menolak sistem yang salah, lewat gumaman hati 
dan sedikit tarian pena

Tolak kenaikan BBM!!!
Ciiih ...!

Tolak kenaikan BBM!!!
Aaargh ...!

Tolak kenaikan BBM!!!
Preeet ...!

Tidak ada pesta yang tak usai
Setelah demo selesai, semua kembali pada habitatnya. 
Tanpa solusi, tanpa prestasi, tanpa petisi yang berarti
Hanya kata-kata, hanya sementara, menguap begitu saja
Karena ini Indonesia, negara demokrasi yang katanya berlandas pancasila

Tolak kenaikan BBM!!!
Jika mau sejahtera, telusuri lembar sejarah
Tengok lagi, sistem apa yang bisa memperbaikinya
Liberal, gagal
Komunisme, runtuh
Sosialis, habis
Demokrasi, menangis
Lalu apalagi?
Temukan pada lembaran sejarah yang hilang
Itu jika kau mau!




Wednesday, August 29, 2012

Mengemas Bayangmu


Pada gerimis hati kau datang
Bawakan segumpal harap di jelang petang
Katamu untuk melingkis biru
Dari hati yang beku

Di siang benderang kau menghilang
Tanpa berita apalagi surat terlayang
Sementara buhul hati belum lagi terurai
Masih serupa benang berkelindan masai

Sudah kubilang padamu dulu
Jangan sentuh apapun meski kau mau
Karena ia fragile serupa kaca
Mudah berderai dan pecah

Pergilah ... jika itu maumu sudah
Jangan lagi peduli pada gemeretak patah
Biarkan saja, ia kan kembali lesat dan tegak
Bersama panah waktu yang tak henti berdetak

Pergilah ... jangan lagi peduli pada pendar jingga kala
Ia kan teduh  dalam pelukan malam
Biarkan saja ia dirangkul sang candra
Untuk melesapkan luka pada pusaran kelam

Jangan tolehkan lagi pandangmu
Karena biru telah kembali beku
Tak peduli pada tatap sayumu
Yang ada cuma kelu memilin kalbu

*TMA, 28 Agustus 2012

Wednesday, May 30, 2012

Mensinergikan Pembaca, Penulis Dan Penerbit Bagi Indonesia

Beberapa tahun belakangan ini saya menaruh perhatian besar terhadap hari buku atau kerap disebut sebagai world book day yang jatuh setiap tanggal 23 April. Saya yakin sedikit sekali di antara kita yang mengenal apalagi memperingati hari buku tersebut. Bukan sebuah hari istimewa dibandingkan dengan hingar bingar peringatan hari besar lainnya dalam penanggalan banga Indonesia. 
 
Kebudayaan membaca di  Negara kita terlibas dengan kebudayaan menonton televisi.  Masyarakat kita belum rampung menyerap budaya membaca ketika televisi  hadir dirumah-rumah setiap rakyat Indonesia. Membaca menjadi sebuah kondisi yang dianggap terlalu serius. Sementara menonton televisi  menjadi kegiatan yang penuh dengan kesenangan yang tak cuma melibatkan otak dan mata, tapi  juga telinga dan bahkan menghanyutkan imaji penontonnya hingga emosi mereka larut dalam jalinan cerita yang ditayangkan dalam televisi. Terlebih sejak era televisi swasta tumbuh subur bak jamur dimusim hujan dengan berbagai program tayangan yang membius permirsanya dengan iming-iming kemewahan dan  popularitas instan sebagai gaya hidup permisif, semakin membuat banyak anak bangsa melalaikan waktu demi menanti tayangan program yang membius angan semata. 

Rendahnya minat baca bangsa Indonesia turut memperburuk industri perbukuan di negara kita. Jika merunut teori supply and demand, rendahnya minat baca membuat industri perbukuan juga menjadi lesu. Indoenesia  hanya mampu menerbitkan 12.000 judul buku per tahun sementara  Singapura mampu menerbitkan 15.000 judul pertahun  dan Tiongkok 120.000 judul buku pertahun.  Tentu saja keadaan ini juga mempengaruhi efek pemakaian kertas. Indonesia cuma mencapai angka 26kg/kapita pertahun sangat jauh dibawah rata-rata pemakaian kertas ASEAN yang mencapai 52kg/kapita pertahun. Belum lagi daya beli buku, jauh berada diurutan terakhir dari daftar belanja bulanan kita.

Dengan kondisi demikian, bagaimana pencanangan Indonesia Menulis yang diresmikan pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2012, bisa berjalan mulus dan membangkitkan minat menulis di setiap lapisan masyarakat?  Menumbuhkan minat baca saja tak cukup jika tanpa diiringi dengan menumbuhkan keinginan menulis. Sebaliknya, pencanangan Indonesia Menulis saja juga tak akan berjalan signifikan tanpa ada upaya terus membangkitkan minat baca. Karena menumbuhkan minat baca tidak akan semakin maju jika minat menulis masih tertatih menemukan ruangnya.

Lalu bagaimana mengatasi satu masalah dengan dua sisi yang sama pentingnya? Mari kita tengok sumber daya yang ada di sekitar kita.

1. Wujudkan perpustakaan mini di manapun. Mulailah dari rumah, kantor, lingkungan masyarakat, taman bermain dan prasarana umum lainnya. Sisihkan sedikit anggaran untuk investasi buku yang akan abadi jika dirawat dan dipelihara dengan baik. Tidak ada salahnya mengusulkan kepada perpustakaan kota setempat untuk membantu pengadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di lingkungan tempat tinggal kita.  Juga tidak perlu malu mengusulkan pada atasan di mana kita bekerja untuk sedikit menyisihkan ruang sebagai oase baca yang setidaknya membuat para karyawan memiliki tempat mereguk ilmu di jam-jam sempit.

2. Sepuluh tahun belakangan ini industri perbukuan mulai bergeliat. Terlebih sejak adanya sarana facebook, twitter, dan blog di dunia maya yang merambah setiap tempat bahkan hingga ke pelosok pedesaan yang terjangkau listrik dan jaringan internet. Manfaatkanlah sarana tersebut semaksimal mugnkin. Gunakan semua itu untuk memacu diri menumbuhkan semangat menulis. Lalu kirimkan tulisan-tulisan tersebut untuk dibaca banyak orang. Yakinlah, tulisan yang bermanfaat akan menggugah jiwa dan menerangi hati para pembacanya. Dengan demikian pena kita akan memiliki kontribusi dalam merubah peradaban, kehidupan dan pola pikir meski hanya pada segelintir pembaca yang membacanya. Kita tidak pernah tahu dari mana sebuah manfaat, hidayah atau pencerahan itu datang. Tapi kita tahu bahwa kita bisa menjadi sumber pencerahan dan pemberi manfaat lewat kata-kata yang kita rangkai menjadi sebentuk tulisan.

3. Membangun jaringan pembaca, penulis dan penerbit. Dengan mengadakan silaturahmi di dunia maya bahkan jika perlu pertemuan nyata yang akan lebih memberi dampak maksimal dalam menyuntikkan semangat kebersamaan membangun Indonesia Membaca dan Menulis. Dengan jaringan sosial yang rapi dan tertata maka perlahan budaya membaca tumbuh dan membesar dalam banyak komunitas dan media yang membesarkannya. Pelan namun pasti penulis-penulis muda berbakat  bermunculan dan menyalakan pelita harapan perkembangan dunia baca Indonesia. Demikian pula penerbitan kian menemukan geliatnya pada sinergi kebutuhan membaca dan menulis yang tumbuh secara signifikan. Karena bagaimanapaun penerbit membutuhkan naskah-naskah bernas yang sesungguhnya banyak bertebaran di kalangan penulis pemula yang tidak akan pernah kalah bersaing dari penulis senior. Penerbit yang baik akan selalu berfikir, penulis senior menang usia, tapi penulis pemula menang kesempatan. Bangun komunikasi yang baik dengan kalangan penerbit, dengan demikian penulis pemula akan mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk menerbitkan karya.

Sinergi yang terbangun dengan kokoh di antara jaringan pembaca-penulis-penerbit, akan membuat Indonesia kian rancak dan cerdas di mata dunia. Jika demikian yang terjadi, maka pencanangan Indonesia Menulis yang derapnya dimulai dari Jawa Timur, bukan tidak mungkin akan mampu menorehkan tinta emas peradaban yang akan dikenang bahkan hingga saat seluruh tinta di dunia mengering. Mari wujudkan, mulailah dari diri kita sendiri, tapi jangan lupakan bahwa banyak jemari akan menjadikan segala yang berat menjadi ringan.

*Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp.

Thursday, May 17, 2012

Segenggam Terima kasih

Aku menujumu
Meraih segenggam ilmu
Lewat kata nan padu
Meski berjarak serat mayaku

Kau tak cuma sebaris nama
Tapi menapak dengan logika
Pada setiap untaian kata
Yang lahir dari bening jiwa

Syukur kulantun
Pada untain pujian santun
Terima kasih telah menuntun
Pada ilmu tak surut meski berbilang kurun

Aku bercermin pada kisahmu
Menuju Cahaya di atas cahaya
Tentang cintamu pada Rabbku
Yang kini kau cintai sebagai Rabbmu, Rabb kita

Perjalanan yang tak mudah
Adalah cermin jiwa indah
Yang bersemayam pada tulus jiwa
Meraih hidayah semata

Terima kasih padamu
Yang sudi menjadi sahabatku
Meski hanya lewat lantun kata
Di antarai fb dan blog kita

*Puisi kamar buat seorang sahabat, mas Insan Robbani. Muallaf yang sungguh luar biasa.
Srikana, 17 Mei 2012, pukul 23.25

Tuesday, May 15, 2012

Kepala Atau Pemimpin?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kepala berarti juga pemimpin. Tapi dalam kenyataan sehari-sehari seorang kepala belum tentu seorang pemimpin. Mengapa? karena untuk menjadi seorang pemimpin dibutuhkan kecakapan yang tidak cuma sebatas dia bisa menjadi seorang kepala. 

Makin tinggi seorang pemimpin, seharusnya makin tinggi hakekat hidupnya, bukan duniawinya. Ketika seseorang berada dalam posisi memimpin sebuah negara, sebuah yayasan, sebuah organisasi, atau sebuah rumah tangga, seharusnya seseorang lebih berfikir tentang hakekat kepemimpinan itu sendiri bukan cuma sekedar sebuah posisi duniawi.

Menggali hakekat kepemimpinan dalam budaya Jawa, sesungguhnya menjadi seorang pemimpin adalah sebuah jalan untuk mukti bukan sekedar untuk mencapai mulyo. Mukti adalah sebuah jalan pengabdian bukan sekedar mencapai kemulyaan. Menjadi seorang pemimpin harus berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Sebuah kebenaran memang pahit untuk disampaikan dan besar resiko yang akan dihadapi. Tapi bagaimanapun kebenaran harus disuarakan oleh seorang pemimpin, sekalipun dia harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak menyukainya dalam kebenaran.

Seorang pemimpin juga harus memiliki rasa ikhlas yang harus terbangun dari hari ke hari dan terus meninggi seiring jalan pengabdian yang dipilihnya. Keikhlasan akan membuat seorang pemimpin selalu mawas diri demi kepentingan bersama. Rasa ikhlas tidak bisa dijalankan sendiri, seorang pemimpin harus memiliki orang-orang kepercayaan di sekelilingnya yang akan dengan ikhlas juga memberikan masukan, saran bahkan kritik yang membangun demi kebaikan yang harus dijaga bersama.

Adakalanya seorang pemimpin tidak harus berada di depan. Bisa jadi ia menyisih ke pinggir lapangan, bahkan surut sementara ke belakang untuk memastikan bahwa armada yang dipimpinnya baik-baik saja. Pada saat sang pemimpin berada di pinggir atau di belakang , ia akan lebih mudah melihat ke seluruh ruang yang dipimpinnya. Ia akan mendengar banyak hal dari orang-orang di luar wilayah kepemimpinannya sebagai sebuah masukan yang berarti untuk memperbaiki sikap dan mengambil keputusan di saat yang tepat demi keselamatan armada yang dipimpinnya. Meski di belakang, seorang pemimpin bisa mengarahkan jalannya roda organisasi dengan dukungan yang kuat dari orang-orang yang dipercayanya memegang kemudi.

Di saat lain, seorang pemimpin harus mampu menjadi koco pengilon atau cermin bagi siapapun yang berada dalam pengayomannya. Namun demikian, seorang pemimpin tetaplah manusia yang bisa salah. Tapi hakekat kepemimpinan harus dipahami bahwa kesalahan bisa diminimalisir sekecil mungkin. Ini bagian yang terberat bagi seorang pemimpin. Ia harus pandai menjaga sikap, perilaku, ucapan dan perintah. Karena ia menjadi cermin bagi sekelilingnya. Managemen emosi dan mental harus benar-benar dikuasainya agar bisa tetap memberikan kenyamanan bagi yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin yang ikhlas, adalah pemimpin yang tidak cuma merasa jadi kepala, melainkan melu handarbeni, merasa memiliki terhadap apa yang dipimpinnya. Ibarat seorang ibu memiliki anaknya, seorang ayah memiliki keluarganya. Ibarat seorang kapten terhadap kapal dan seluruh isinya. maka apapun akan dilakukannya untuk menjaga keselamatan, kebaikan dan kebersamaan di dalamnya. Apapun, selagi dalam jalur kebaikan yang dibenarkan. Itu sebabnya kadang sebagai seorang kapten kapal, ia harus tegas meski berat hati untuk melemparkan satu-dua penumpang yang rentan membahayakan banyak orang, ke laut, demi menyelamatkan ratusan orang lain dalam kapal yang dikemudinya.

Bagaimanapun menjadi seorang pemimpin adalah pengemban amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di mahkamah paling adil dengan Allah sebagai seadil-adilnya hakim. Seorang pemimpin adalah penyuara kebenaran. Meski kadang kebenaran tidak perlu digembar gemborkan. Adakalanya ia harus bersikap tuli terhadap protes yang meneriaki kewarasan dan keadilan dari segelintir orang yang nyata adalah virus yang memang harus diberangus. Seorang pemimpin yang sehat, tidak akan berteriak,"saya waras, saya sehat." Karena diam kadang diperlukan untuk membungkam sebuah kenyinyiran yang disuarakan atas nama keangkuhan jiwa.

Jika Abu Bakar Shiddiq, RA dikenal sebagai pemimpin yang lemah lembut, sederhana dan welas asih, maka Umar Bin Khattab selain memiliki rasa empati yang luar biasa terhadap rakyatnya, dia dikenal tegas bersikap atas sebuah kebenaran dan mematahkan keonaran. Aku cuma manusia biasa, tapi ketika amanah kepemimpinan diletakkan dalam genggam tanganku, maka semoga aku bisa bersikap serupa Abu Bakar Shiddiq dan Umar Bin Khattab dengan tetap meengacu pada prinsip agung kepemimpinan dalam budaya Jawa yang turun temurun diajarkan padaku.  Semata karena mengacu pada sebuah hadits,"setiap orang adalah pemimpin yang akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."

*Sebuah nasihat buat diri pribadi. Renungan dalam masa hibernasi. Srikana, 16 Mei 2012

Friday, May 4, 2012

Ode Rindu

Biar kupeluk malam
Khabarkan sunyi
Pada sepotong sepi
Di gigil rindu

Biar kupagut hatimu
Lewat titian angin
Hembuskan dingin
Berkawan bisu

Biar saja segala terbang
Bersayap resah
Dihembus pilu
Berkarib halimun

Biar kunanti saja
Reuni sunyi
Pada tanah merah
Bertabur melati

Karena semua
telah kau bawa
Rindu
Cinta
Dan Kasih
Ke abadimu
Tak terjangkau mata

*Saat Mendadak Rindu pada mereka tercinta, Srikana, 5Mei 2012, dinihari pukul 01.00

Wednesday, February 22, 2012

Orgasme

"Bisa ketemu sekarang? Kutunggu di Kenjeran?" Sebuah sms nyelonong masuk ke hapeku. Sebaris nama yang akhir-akhir ini mengusik pikiranku.

Aku berdandan secantik mungkin untuk menemuinya. Segera kustater sepeda motorku dan melaju ke tempat yang dijanjikannya.

Sosoknya yang tinggi besar mudah kutemukan di keremangan lampu pinggir pantai Kenjeran, di tempat yang agak tersembunyi.

"Lama kita nggak ketemu ya ... apa khabarmu?" tanyanya dengan senyum sumringah.

"Baik, gimana istri dan anakmu?"

"Ah, kenapa bertanya itu? Aku kan kangen sama kamu," ucapnya sambil merengkuhku dalam pelukan.

Aku tertawa mendengar ucapannya yang membungakan hati.

"Aku juga kangen kamu," ujarku sambil mengulas sesungging senyum.

Kubiarkan dia membawaku rebah di dadanya. Dimainkannya anak-anak rambutku yang jatuh tak beraturan. Kusesap udara malam yang bercampur asap rokoknya. Ah, lama sekali aku tak menikmati suasana ini.

Malam kian beranjak menjelang dinihari. Entah sudah berapa kali bibirku dikulum dalam keremangan. Entah sudah berapa kali pula kubiarkan tangannya menyusup ke balik pakaianku. Aku mabuk dalam belaiannya pada setiap lekuk tubuhku. Sementara sepasang mata mungil bermain dalam benakku. Aku harus segera pulang, meski tak bisa memenuhi permintaannya.

"Maaf, aku harus pulang. Thalia menungguku." AKu berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

"Ah, setan kecil itu selalu saja mengganggung kencan kita!" makinya sambil menarikku kembali.

"Setan kecil katamu? Bukankah darahmu juga mengalir dalam tubuhnya?!" sentakku kesal, penuh marah.

"Salahmu! Kenapa tak kau gugurkan dia!"

"Sssst sudahlah ... aku nggak mau ribut. Biar kunikmati sesaat lagi bersamamu." Aku mengalah dan kembali larut dalam dekapannya yang menyambutku dengan penuh kemenangan.

Kubelai dadanya dengan lembut, meredakan amuk emosi di hatinya. Kubiarkan juga dia mengecupi seluruh bagian tubuhku. Perlahan tangan kiriku meraih cundrik, keris kecil yang sudah kuolesi racun dan sejak tadi kusisipkan di saku. Dengan penuh kelembutan, kutikamkan tepat ke arah jantungnya saat aku mengelus dadanya. Sesaat dia mengejang, lalu terkulai. Aku orgasme melihat nyawa iblisnya melayang, puas!

Tuesday, February 21, 2012

Gehu Hot Jeletot

“Aku ingin makan something hot and spicy,” rajukku.

“Ehm, gimana kalau tahu krispy balado?” tanya suamiku.

“Nggak ah, itu mah biasa,”

“Lalu, apa dong, Dek?”

“Ehm … ayo ikut aku, mas!” Aku menyeret tangan suamiku menuju dapur.

Kukeluarkan beberapa isi kulkas. Tahu, paprika, tauge, cabe rawit, bawang bombay, bawang putih dan kecap.

“Tolong bawakan semua ini ke teras, ya mas,” pintaku manja sambil bergelayut di bahunya.

Dengan tatapan bingung suamiku nurut

“Sekalian pindahkan kompor gas dan tabungnya …!” teriakku.

“Kita mau ngapain sih dek?”

“Tolong masakin gehu hot and spicy dong, maaas …,” rengekku sambil menunjuk toge, tahu dan teman-temannya.

“Sekarang?”

“Iyalah, masa tahun depan! Keburu anak ini lahir …,” ujarku, cemberut.

“Hah! Jadi? Huwaaah … nyidam …!” pekik suamiku sambil memelukku.

“Impian lima tahun kita, mas,” gumamku sambil menyurukkan kepala ke dadanya.

“Mas akan buat gehu hot jeletot, sekarang.” Dia kegirangan sambil mengelus perutku yang belum lagi membuncit.

Monday, February 20, 2012

Rindu Dua Hati

"Aku rindu," ucapnya sambil menjatuhkan diri ke pelukanku.

"Bah! ratusan kali kau bilang rindu. Tapi sehelai khabarpun tak kau kirim." Kulepaskan pelukannya, memberinya selembar kertas, dan melangkah ke sudut. Membuka bilah kaca jendela, lalu menghirup udara dari ketinggian rumah susunku.

"Aku kirim email berkali-kali, tapi tak kau balas," ujarnya sambil menghela tubuhnya ke sofa di ujung ranjang.

"Itu kan cuma dalihmu saja. Emailku tak pernah berganti, tapi tak satupun kutemukan sebaris kalimatmu," jawabku sambil membuang nafas kesal.

"Lalu email siapa yang kukirimi khabar nyaris tiap hari selama seminggu ini?" tanyanya sambil mengerling padaku.

"Mana kutahu? Mungkin kekasihmu, selingkuhanmu, bahkan mungkin penggemar gelapmu," kataku sambil meleparkan kertas dan menggedikkan bahu.

"Tapi aku rindu kamuuu ...!" Dia berteriak sambil meremas kertasku dan membuangnya sembarangan.

"Ini lihat! Kubawakan pempek dengan cuko pedas. Sengaja kubeli dari tepian Musi, langgananmu itu, Ayuk." Dia mendekatiku sambil menyodorkan sepiring pempek kegemaranku.

Kucium aroma sedapnya hingga cuping hidungku bergerak ritmis. Kuambil lagi kertas dari sakuku, kutuliskan, "Pandai kali lah kau menembus kemarahanku. lain kali jangan tinggalkan Ayuk sendiri terlalu lama. Cuma kamu yang bisa ngobrol denganku."

"Ya Ayuk ... cuma Ayuk kakakku seorang juga, yang memahami diriku, yang tak bisa mendengar suara-suara. Ayo kita habiskan pempek ini."

Kupeluk dia, dengan kerinduan yang penuh. Lalu menghabiskan malam dengan makan pempek berkuah cuko, sambil bercakap lewat bahasa tulisan dan isyarat, antara aku si bisu dan adikku si tuli.

Friday, February 10, 2012

Perjodohan

“Jadi kau putuskan untuk pulang?” Tanya seorang lelaki padaku, yang duduk di hadapannya sambil mengaduk-ngaduk isi gelas bubble tea dengan resah. Ditatapnya aku dengan ribuan tanya yang menari-nari di hatinya.

“Iya, bunda memintaku segera menikah. Keluarga besarku bahkan berfikir untuk meruwatku.” Ucapku dengan suara lirih yang bahkan nyaris terbawa desir angin yang berembus kencang menerpa selasar cafe Marina Bay, tempat kami duduk menikmati senja sambil memandang kubah Esplanade dari kejauhan.

“Lalu bagaimana dengan aku, Ran?” Dia bertanya sambil menggenggam telapak tangan kiriku, penuh rasa cemas dan gusar.

“Entahlah, aku juga bingung. Please Ref, aku tak mungkin menolak kehendak bunda kali ini.” Kutatap wajah Refly dengan mata berlumuran duka yang kental dan siap meluncur menjadi butir-butir kristal bening ke kedua pipiku.

“Aku tahu, kita memang berdiri pada dua budaya yang tak sama Ranny. Tapi berulang kali kukatakan padamu, aku siap melamarmu dan menjelaskan tentang hubungan kita pada keluarga besarmu. Singapura-Jakarta sekejap saja bisa kutempuh."

“Tapi kau tahu, itu tak mungkin Refly! Bundaku bersikeras agar aku menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki Jawa yang …,”

“Ngerti unggah ungguh, gupuh, suguh, lungguh, gitu kan?!” Refly memotong ucapanku yang belum lagi selesai.

“Ya,” jawabku, kemudian tergugu sambil melempar pandangan jauh ke kubah Esplanade, seolah hendak kusampirkan resah pada puncak bangunan tersebut.

“Tapi aku akan kembali ke sini, menyelesaikan kuliahku yang masih tertunda,” ucapku setelah berkali-kali menarik nafas panjang.

“Lalu aku?” Refly bertanya sambil mencari jawab di mata gadisnya.

“Juga untukmu,” jawabku, meski tak yakin dengan apa yang baru saja kuucapkan

“Oh my dear, you know I really love you so much, honey. Aku akan menunggumu di tempat ini.” Refly berdiri, berjalan memutari meja, dan memelukku yang tetap duduk terpaku sambil memaksakan seulas senyum.

Senja beranjak kian petang. Kunikmati hari-hari terakhirku di sini sambil menatap air mancur Merlion dari atas jembatan Marina Bay. Kusandarkan tubuh pada dada bidang Refly yang memeluk pinggangku dari belakang. Sementara alunan hati tak kupahami nada-nadanya.

Maafkan aku, Refly. Terpaksa kubohongi dirimu. Setelah aku yakin kau tak pernah mencintaiku sepenuh hati. Kusembunyikan darimu bukti-bukti yang kutemukan saat kau bercinta dengan Mr. Han Liu, dosenku.

Thursday, February 9, 2012

Jangan Usik Percumbuanku!

Pagi masih melipir di antara bulir-bulir embun yang enggan beranjak. Kalaulah tak dihela sapuan bilah-bilah sinar surya, pastilah tetes-tetes bening itu tak hendak menguap. Kuhirup kuat-kuat udara segar nan dingin yang dihantarkan lewat hembus angin yang masuk lewat celah jendela kamarku. Kupandangi jam dinding yang baru menunjukkan waktu usai subuh.

Kuhampiri kekasihku usai sholat. Dia masih asyik tertidur setelah semalaman lelah bercumbu denganku. Kubelai mesra baju birunya, kuhirup aroma tubuhnya yang selalu saja mampu membius sinap-sinap di kepalaku. Kusentuh tiap inci bagian tubuhnya sepenuh gairah pagi yang selalu saja menggelorakan hasrat bercinta dengannya.

Hari ini seperti hari-hari lainnya, aku takkan beranjak dari sisinya. Cinta telah melenakanku. Bahkan rasa lapar tak kuasa mengusikku untuk pergi dari sisinya. Aku tersenyum sambil membuka penutup tubuhnya. Aaah ... aku terpana, tak pernah cukup mengaguminya dari detik ke detik dalam hidupku. Aku betul-betul jatuh cinta padanya dengan gelora hasrat yang membubung.

Tapi aah ... kenapa burung beo tetanggaku mengusik percumbuanku? Teriakannya memecah hening pagi yang sarat aroma cinta. Kupaksakan untuk menengoknya dari helai jendela yang terbuka. Kuteriakan padanya, "Berisiiik! Jangan usik percumbuanku dengan kekasihku!" Lalu kututup jendela dan kembali pada percumbuan dengan Lepi, laptop kesayanganku agar jalinan cinta segera melahirkan kata-kata.

Sunday, February 5, 2012

Dari Doli Ke Matchbox Too Cafe

Hari ini, minggu 5 Februari 2012 akan menjadi hari yang sangat padat buatku dan teman-teman di komunitas CENDOL (CErita meNulis Diskusi OnLine) Jawa Timur. Kami hanya komunitas penulis muda yang berusaha menjadi berarti dalam lautan cerita kehidupan. Seperti biasanya, agenda rutin kami setiap Minggu pagi adalah berbagi ilmu dengan adik-adik di Taman Bacaan Kawan Kami, di lokalisasi Dolly.

Bersama anak-anak itu selalu saja ada banyak cerita. Mulai dari kenakalan, kemanjaan, kemalasan dan antuasisme mereka dalam belajar, membuat kami kerapkali harus menahan airmata yang selalu nyaris tertumpah. Bakat-bakat mereka sama dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga normal pada umumnya. Mereka tidak pernah minta untuk dilahirkan oleh siapa dan dalam lingkungan yang mana. Jika mereka terlahir dari rahim para PSK, dari pertemuan benih ayah yang mucikari dan gembong narkoba, itu juga bukan mau mereka.

Ucapan yang nyeleneh, tingkah pola yang over aktif, masih mereka imbangi dengan ungkapan kasih pada sesama teman yang kadang justru tak terfikirkan oleh kami. Mereka memang bukan anak yang beruntung, tapi mereka juga berhak mendapatkan ilmu dan harga diri yang sama dengan anak-anak lain seusianya. Kami hanya berupaya sedikit dari apa yang bisa dilakukan buat mereka. Bahu membahu dengan beberapa komunitas lain semisal YDSF, Remas AL-Falah, KAMMI-ITS dan yang lainnya, adalah upaya kecil untuk mengenalkan mereka pada masyarakat. Untuk menunjukkan pada banyak mata bahwa mereka mampu menjadi anak-anak "normal" yang berprestasi dan bermartabat. Cuma kerja kecil dari segumpal niat besar di hati kami, semoga membawa manfaat untuk langkah kaki dan ayunan tangan anak-anak bangsa di lingkungan marginal yang terpinggirkan.

Selesai dari segala kegiatan di Doli, kami meluncur ke Matchbox Too Cafe. Menghadiri undangan acara Petang Untuk Lan Fang sebagai bagian dari acara Festival Lan Fang. Keriuhan yang tentu saja kontras dengan suasana di Doli, membuat hatiku meleleh dalam lantun syukur, pujian dan harapan, berharap kelak anak-anak di lokalisasi itu mendapatkan kesempatan untuk tampil secara terhormat di tempat yang mewah seperti ini.

Musikalisai puisi oleh Filesky dan teman-teman, menghanyutkan kembara pikirku, hinggap pada pucuk-pucuk kehidupan. Aku berangan, andai saja sastra memiliki geliat rampak dan terperhatikan oleh banyak kalangan yang memiliki kebijakan dan jabatan, tentu akan selalu ada karya-karya bernas yang dihargai dengan pantas. Andai saja banyak jiwa tersentuh dan mau bergandengan tangan, maka sastra akan menjadi lebih indah dalam ranah literasi dan budaya yang takkan lekang oleh putaran masa.

Aku tahu, sebuah langkah sedang diupayakan untuk menjadi titik bangkit dunia sastra di Surabaya. Tapi mengapa mata baru terbuka ketika seorang sahabat yang peduli dengan sastra, dijemput kematian? Haruskah selalu perlu sebuah kematian untuk menggerakkan ratusan, ribuan bahkan jutaan kepedulian terhadap dunia sastra?
Walaupun demikian, satu keyakinanku, kebaikan takkan pudar meski tenggelam dalam bayang-bayang. Kepergian Lan Fang, menjadi titik balik bersatunya banyak hati untuk membangkitkan sastra kembali. Lan Fang bukanlah martir yag dikorbankan, melainkan inspirasi bagi sebuah kepedulian dan kebangkita karya anak bangsa.

Petang kian beranjak, temaram senja mengiringi musikalisasi puisi yang melantun indah. Semoga setiap butir keringat menjadi catatan amal pada buku kehidupan yang akan dikenang kelak oleh para pecinta sastra yang mungkin tanpa sengaja menemukan tulisan ini, tulisan tentang sebuah angan dan harapan bangkitnya sastra dalam ranah literasi.

Friday, February 3, 2012

Bagimu Perempuanku



Pada gerai rambutmu ada kehangatan cinta
Di gelombang detak jantungmu ada kelembutan kasih
Pada hangat rahimmu ada awal sebuah generasi




Duhai perempuanku ….
Kaulah ibu bagi jutaan umat di bumi
Kau serupa Fatimah yang menjaga kesucian
Kau lah Shinta bagi para Rama perkasa
Kau Drupadi, penjaga kehormatan setiap jiwa

Duhai perempuanku ….
Begitu berharga nyawamu bagi banyak jiwa
Jangan. jangan serahkan payudaramu
Jangan korbankan rahimmu
Cuma untuk sebuah kata, kanker ….

(Srikana, 27 Januari 2012)

Wednesday, February 1, 2012

Aku Tak Butuh

Aku tak butuh cintamu
Jika karena itu harus kehilangan kehangatan
Sapa, canda dan diskusi-diskusi ringan
Yang selalu saja menyegarkan

Aku tak butuh sekeping hatimu
Jika itu hanya akan menderaikan denting sunyi
Alunan sepi dan nada sumbang sebuah persahabatan

Aku tak butuh menjadi sisian hatimu
Jika tak lagi bisa mereguk ilmu,
mendulang cerita dan pengalaman hidup
Dari jejak-jejak perjalananmu

Sungguh aku tak butuh menjadi sesuatu bagimu
Karena aku bisa meraih sesuatu di langit hatiku
Pada tebaran kerlip bintang berbentuk hati
Dari banyak cinta yang tersemat
Pada sepiku yang tak sunyi

Sekali lagi kukatakan,
Aku tak butuh menjadi kekasihmu
Jika karena itu lidah menjadi kelu
Kata menjadi beku

Aku cukup bahagia jika bisa menjadi sahabatmu
Hari ini, esok dan selamanya.
Karena hati ini memiliki banyak ruang
Lapang menampung cerita cinta
Dalam dimensi yang berbeda
Atas nama persahabatan
Yang saling menumbuhkan jiwa

*Buat seseorang yang tak lagi membalas sms-sms ku

Sekepal Semangat Pagi


Di ujung sana, secercah cahaya menanti
Jangan lagi manjakan bimbang hati
Bakar saja perahu kemarin yang patah layar
Biarkan segalanya terang dan berbinar
Menjadikan seulas senyum kian lebar
Pada hamparan syukur tak berbatas
Pada lantunan puji melambung jelas

Hari ini, pada kemasan rasa berbilang indah
Ribuan harap dengan jemari kutatah
Harumnya kukuarkan lewat angin fajar
Percik cahayanya kupantulkan melalui kisi jendela hati
Semoga tak layu tersapu bayu
Tak kuyu pada terpa hujan membadai
Tak getas pada sapuan panas
Kokoh pada jemari yang saling berkait dan berkelindan
Atas nama sebuah keikhlasan.

*Ndleming pagi buat para sahabat sukarelawan sastra

Monday, January 30, 2012

Mitokondria, Abadilah Cerita Cintamu

Hari ini banyak berita bahagia sehubungan dengan kehamilan beberapa teman. Tentu saja aku ikut gembira mendengarnya. Bagaimanapun sebuah kehidupan yang bermula dari rahim seorang perempuan adalah sebuah anugerah dalam kehidupan yang indah dan sarat makna yang tentu saja diiringi dengan rasa tanggung jawab yang luar biasa besarnya.

Sebuah kehamilan bukanlah sekedar hadirnya sesosok janin yang tumbuh kembang di dalam kehangatan kantong rahim. Melainkan juga sebuah awal pembelajaran seorang perempuan menjadi seorang ibu. Meskipun telah berkali-kali seorang ibu mengalami kehamilan, tetap saja kondisi kehamilan satu dan lainnya berbeda. Tidak cuma beda secara fisik tapi juga psikis yang mengiringinya.

Kehamilan adalah tanggung jawab dan anugerah bagi seorang perempuan. Tidak cuma sekedar memberi sang janin asupan nutrisi. Tapi seorang ibu yang hamil memiliki tanggung jawab penuh pada janinnya secara psikologis, emosional dan religi. Janin yang terhubung dengan sang ibu melalui tali pusat, sangat merasakan apapun yang dirasakan, dipikirkan, dan dialami bundanya.

Benarlah bahwa sebuah kehamilan adalah hasil pembuahan dari sperma sang ayah. Tapi sungguh seorang ibulah yang mengukir jiwa sang anak sejak dalam kandungan. Terlebih hanya ibu yang Tuhan anugerahi kemampuan memberikan MITOKONDRIA pada janinnya. Sesuatu yang tak bisa diberikan oleh ayah manapun pada anaknya.

Mitokondria atau dikenal juga sebagai Maternal Mitokondria adalah DNA Mitokondria (mtDNA) diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa dipengaruhi atau dihalang-halangi oleh mekanisme seksual. Ia merupakan warisan maternal yang hanya diturunkan oleh ibu kepada anaknya. sementara DNA inti (nDNA)tidak lain dari campuran antara DNA ibu dan ayah.

Mitokondria diangkat sebagai entitas master karena memiliki kualitas berikut yang tidak dimiliki yang lain yaitu:
a. Garis keturunan tidak terputus dari generasi sel ke generasi berikutnya
b. Kontrol atas produksi energi
c. Kemampuan untuk melintas antar sel dan bertahan hidup dari kematian sel.
Mitokondria mendapat manfaat terbanyak dari interaksi antara organel dan mengeksploitasi secara efisien milieu disekitarnya.

Dengan demikian sulit dipungkiri fakta bahwa setiap mitokondria dalam sel tubuh kita terkandung material genetik yang sama yang dimiliki oleh ibu kita dan ibu beliau, nenek kita, dan ibunya sebelumnya sampai ke ibu kita yang pertama Siti Hawa, warisan tanpa terputus dari ribuan generasi.

Bisa jadi bibir kita mirip ayah, mata mirip ibu, kulit mirip kakek, hidung mirip nenek dan postur tubuh mirip kakek buyut. Karena apa yang ada dalam diri kita adalah hasil kontribusi dari banyak generasi. Tapi satu hal yang tak bisa dibantah energi yang menggerakkan kehidupan kita sehari-hari diproduksi oleh satu saja, sel MITOKONDRIA, yaitu warisan dari ibu kita.

Buatlah ibu kita kecewa dan sakit hati dengan satu saja perbuatan kita, maka bukan tidak mungkin Tuhan akan berkehendak maka kutukannya akan mengalir menuju setiap mitokondria kita dan taraaa ... jadilah sesuatu ....
Itulah mengapa dalam cerita Malin Kundang sang ibu bisa mengutuknya menjadi batu. Masih ada lagi cerita seorang Harry Potter yang telindungi dari sihir hitam Voldemort, disebabkan perlindungan dari pengorbanan sang ibu. Belum lagi dalam Islam, Rosululloh menyebut kata ibu sampai 3 kali baru ayah, ketika seseorang bertanya siapa yang harus dia hormati.

Banyak pemimpin dan orang hebat di dunia ini. Tapi tahukah kita bahwa selalu ada perempuan hebat di belakangnya. Tidak sedikit pula lelaki yang terjerumus dalam jurang kehancuran, disebabkan perempuan di sisinya. Betapa perempuan memiliki energi jiwa yang dahsyat bagi kehidupan. Itulah yang seharusnya membuat setiap perempuan layak bersyukur atas "beban" kehidupan dan segala rasa sakit mengandung dan melahirkan yang diberikan kepadanya.

Mitokondria adalah lakon cinta abadi dari ibu kepada anaknya. Cinta yang tak pernah berhenti dan terputus meski bilangan waktu selalu saja berganti. Bahkan lakon cinta ini takkan pernah hilang sekalipun sang ibu bersemayam damai dalam keabadian. Karena cintanya telah diestafetkan pada perempuan-perempuan lain yang akan selalu melahirkan generasi penerusnya.

Lalu ketika seorang teman mendoakan agar aku segera hamil, dalam hati aku tersenyum. Bukankah mitokondria itu juga ada dalam dirinya sebagai perempuan? Jika aku tak lagi bisa hamil dan melahirkan, maka lakon cinta ini takkan pernah juga terputus. Karena mitokondria itu abadi dalam diriku dan bisa melahirkan cinta dengan energi jiwa. Aku mungkin takkan pernah lagi hamil dan melahirkan dari rahimku, tapi aku mengandung banyak anak dan melahirkannya dengan hatiku. Dengan segala energi jiwa yang kupunya bersumber dari mitokondria. Sehingga cerita cinta ini akan terus abadi sepanjang usia kehidupan yang hanya akan berhenti dengan indah pada waktunya.

Friday, January 27, 2012

Bingkisan Cinta

Meski putaran waktu terus berganti, bilangan hari terus berubah dan hitungan usia kian beranjak jua, tapi yang namanya cinta tetaplah sebuah kata yang manis untuk didengar, hangat untuk diperbincangkan dan romantis untuk di pertunjukkan.

Cinta selalu ada dan tak pernah hilang dari nuansa hati kita. Cinta dalam apapun bentuknya selalu indah meski tak sedikit cinta yang membabi buta, possesif dan melukai. Lalu apakah cinta cuma cukup dirayakan dalam satu hari dengan nama Valentine's day?.

Ketika 14 Februari menjadi begitu "keramat" tak cuma di kalangan usia muda tapi juga pada mereka yang beranjak menua, menjadikan hari itu seolah "wajib" untuk dirayakan dengan wujud aneka pemberian dan cinta. Seolah cinta cukup disimbolkan dengan coklat, bunga mawar, pernak pernik cantik, boneka dan cenderamata bernuansa pink.

Cinta memang selalu indah untuk diperbincangkan dan takkan ada habisnya. Cinta yang tulus dan suci akan membimbing kita pada kebaikan. Tapi tak sedikit juga cinta yang justru membuat kita terperosok dalam lubang bencana tak berkesudahan, abahkan menjebloskan pelakunya pada kenistaan. Seringkali cinta diwujudkan dengan membuat atau membangun sesuatu sebagai perlambang cinta itu sendiri, yang kadang justru membuat kita terjebak pada cinta buta yang salah.

Siapa yang tak kenal Taj Mahal, bangunan yang dibangun sebagai sebagai simbol cinta Raja Shah Jahan buat sang istri Arjumand Banu Begum yang lebih dikenal sebagai Mumtaz Mahal. Taj Mahal adalah sebuah bangunan yang dibangun atas perintah Shah JAhan, seorang raja India yang naik tahta pada tahun 1622, sebagai simbol cintanya pada sang istri tercinta yang telah tiada. Taj Mahal adalah makam yang dibangun untuk Mumtaz Mahal.

Taj Mahal, simbol cinta yang dibangun oleh seorang arsitek Turki yang terkenal pada masa itu, Ustadz Isa Khan Effendi dibantu 3 arsitek lain dari persia, Italia dan Perancis serta dibantu oleh sebanyak 20 pekerja sebagai tukang batu, ahli emas dan pengukir kaligrafi.

Taj Mahal yang luasnya 60 x 60 meter persegi dengan tinggi 60,5 m yang memiliki 4 buah kubah dibangun dengan bahan dasar marmer putih terbaik yang ditambang dari Makrana dekat kota Jodhpur, Rajasthan dilengkapi dengan batu mulia, kristal, berlian, jade, nilam dan topaz yang didatangkan dari luar India, dibangun selama 22 tahun dengan biaya lebih kurang sebesar Rp1,92 trilyun.

Sayangnya cinta Shah Jahan kepada almarhum istrinya Mumtaz Mahal, begitu membabi buta dan dia tak ingin bangunan semegah Taj Mahal ditandingi oleh apapun atau dibuat bangunan yang serupa dengannya. Maka untuk mencegah agar para arsitek dan pekerja yang membangun Taj Mahal tidak membangun bangunan serupa, seluruh pekerja dihukum potong tangan sebelah kanannya, sementara hukum pasung diberlakukan bagi para arsitek yang membangun Taj Mahal. Hal itu diberlakukan ketika Taj Mahal telah selesai dibangun.

Cinta telah menumbuhkan kelaliman pada diri Shah Jahan, dan kelalimannya pula yang menyebabkan dia ditumbangkan oleh anak kandungnya sendiri, Aurangzeb, yang merebut tahta kerajaan pada tahun 1657. Shah Jahan pun akhirnya meninggal di dalam penjara dengan membawa cintanya pada Mumtaz Mahal.

Sepenggal episode cinta yang tak cuma menyengsarakan diri sendiri tapi juga mengakibatkan kesengsaaraan bagi orang lain, itulah cinta Shah Jahan pada almarhum istrinya. Adakah cinta yang seperti ini dapat kategorikan cinta? karena sejatinya cinta tak melukai, tak memperdaya,tak merusak apalagi mengahncurkan.

Lalu apakah cinta cuma boleh diungkapkan saat valentine's day?, waaaahhhh ... jika demikian betapa sangat terbatasnya cinta. Takkan pernah ada Taj Mahal atau simbol cinta lain yang dibangun berbilang tahun lamanya. Jika cinta cuma boleh dinyatakan saat valentine's day, duh lama banget nunggu satu tahun lagi baru ketemu 14 Februari.

Seperti sepenggal bait syair, "... cinta itu anugrah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara jika tak punya cinta." Tentu tidak perlu nunggu valentine buat mencintai, dicintai, menebar cinta dan merengkuh cinta. Tapi .... cinta akan indah dan sempurna jika berbingkai cinta hakiki, cinta Rabbani, cinta Illahi, sebenar-benar cinta, tak pernah berdusta, tak pernah menyelisih waktu walau sedetik. Mari saling mencintai dalam menebar manfaat di muka bumi. Karena cinta itu universal, multiple dan tak terhingga. Maka terimalah bingkisan cinta ini untuk kalian, sahabat.

*Kado cinta buat para sahabat menjelang Val's Day. Surabaya 27 Januari 2012

Friday, January 13, 2012

12012012

Kumulai pagiku pada indahnya barisan angka 12012012 dengan berbait-bait doa pagi yang kutitipkan pada malaikat penjaga hari. Mungkin lebih tepatnya kubagi tiga "surat pengaduan"ku padaNya, Sang Khalik.

Pertama, kusampaikan padaNya jutaan syukurku yang kutahu lebih sedikit dari nikmat yang begitu indah kucecap dalam setahun kemarin. Kuberikan juga pujian bagiNya yang telah demikian indah memberi skenario dalam hidup yang kujalani tiap kali usia berbilang tahun. Meski kadang tak semua skenario itu kusuka. Tapi baiklah, sebagai pemain, aku harus rela memainkan peran apapun yang dimaui oleh Sang Sutradara.

Kedua, aku mengajukan sebuah "proposal" padaNya berisi permintaan buat kesehatan, rizki dan kemudahan dalam hidupku setahun dan bertahun-tahun ke depan. (Maaf ya Rabb, jika permintaanku, kurapel untuk beberapa tahun ke depan. Kuyakin Kau pasti paham, kalau kadang aku pelupa sebagai manusia). Mumpung pagi ini aku ingat, kusampaikan semuanya saja. Tentu saja aku juga meminta sisian hati terpercaya dari sisiNya, karena aku masih yakin Dia Maha Segalanya. Dengan sekali menjentikkan jari, Dia mampu mengirimkan lelaki berhati malaikat bagiku (meski aku bukan lagi ABG, tapi Kau pasti tahu ya Rabb, cinta milik segala manusia).

Ketiga, tak henti aku menyapa jiwa-jiwa yang hadir dalam hidupku, dekat maupun jauh. Nampak ataupun tidak. Kusapa mereka dalam doa pagiku, berharap segala keberkahan dan kemudahan terlimpah bagi siapa saja yang kukenal dan mengenalku, bahkan juga bagi mereka yang tak kukenal sama sekali. Aku tahu, disadari atau tidak, kemudahan dan kebahagiaan yang kurasakan adalah juga karena doa salah satu diantara mereka yang berharap kebaikan buatku.

Setelahnya aku beranjak. Memasuki dunia maya yang menjadi rumah kedua bagi jiwaku. Aku terperangah takjub.... Andaikan semua itu terjadi di dunia nyata, tak bisa kubayangkan bagaimana lelahnya pak pos mengantarkan ratusan ucapan selamat bagiku dari belahan dunia yang berbeda. Segala sapa, doa dan ucapan selamat, membuat mataku basah, hatiku kuyup dalam kebahagiaan yang tak bisa kuungkap dengan kata. Ingin rasanya lengan ini memanjang dan memeluk semuanya, teman, sahabat, saudara dan kerabat yang kutemukan dalam maya yang nyata. Aku tergugu dalam tangis syukur dan bahagia yang penuh.

12012012 betul-betul istimewa buatku. AKu yang sendiri, sebatang kara di tanah rantau, mendadak memiliki sebuah keluarga besar yang luar biasa. Keluarga yang bahkan baru sebagian kecilnya yang kukenal lewat beberapa kali perjumpaan. Tuhan, tak layak lagi aku menengok jejak langkah di belakang yang penuh luka. Ijinkan kutinggalkan ia menjadi sebentuk kenangan dan pelajaran untuk langkahku ke depan. Biarkan aku larut dalam pusaran takdir yang Kau gariskan bagiku setahun ke depan.

Jalan titian penuh petir, badai, duri dan hujan airmata yang Kau gariskan untuk kujalani, telah bisa kulewati meski tubuhku compang camping menujuMu. Tapi percayalah, jiwaku kembali utuh setelah berkali-kali tersaruk dan terperangkap dalam ceruk yang dalam. Bukankah telah Kau raih tanganku saat aku menggapai-gapai berharap pertolonganMu? Tak cuma sekedar Kau raih lunglaiku, tapi sekaligus Kau bawa aku menyusuri lorong-lorong gelap yang lebih pekat dari labirin yang Kau berikan padaku. Aku tahu, itulah modul yang Kau berikan di kelas kehidupan buatku. Tak cuma itu, Kau berikan aku obat penawar rasa sakit, lewat program sufi healing, pada kelas meditasi di mana aku berdialog dengan mu lewat cumbuan-cumbuan mesra yang kadang kuselingi dengan interupsi, tangis dan ratapan di pertiga malam.

***

Hari ini, sehari setelah 12012012, ada tawa tergelak memenuhi dinding-dinding hati. Lewat siang yang indah bertukar cakap ditemani segelas coffee latte, hot chocolate dan mocacino late. Ada sebuah misteri yang harus kupecahkan. Sekali lagi, aku harus menggunakan segenap indra untuk membaca pertanda yang sinyal-sinyalnya diuraikan oleh dua orang sahabat. Tuhan, jika memang kunci itu Kau berikan padanya, aku percaya dia akan mampu menemukan jalan menuju pintu yang harus dibukanya. Jadi, biarkan aku mengalir bersama sungai takdirMu sambil merapal macapat, kidung penyejuk jiwa.

***

Beranjak memulai resolusi dari 12012012, aku tahu, ada energi yang harus senantiasa diperbarui lewat charger halus berserat optik maya, sebenar-benarnya maya pada jalur khusus antara aku dan Dia. Aku juga tahu, ada begitu banyak rahasia yang harus kusibak menuju cintaNya. Di atas semua itu, satu hal aku kian tahu, hasil belajarku tahun kemarin, harus bisa kubagikan pada mereka dalam bentuk sebuah karya nyata.

Terima kasih ya Rabb, Tuhanku Yang Maha Baik. Biarkan aku terus menghirup udara cintamu, agar menyublim menjadi nafas panjang buatku meniti esok hingga ku tiba dalam pelukanMu, kelak, saat segala bekal telah cukup kupersembahkan padaMu, sebagai bukti cinta.

Saturday, December 31, 2011

New Year's Eve


Malam kemarin hujan
Malam ini pun hujan
Apa bedanya? tidak ada, kecuali
Kau rela membuka lagi tumpukan file
Di sudut hati yang berdebu
Tiup-tiuplah agar angin menerbangkannya
Agar tak memekatkan mata
memandang lagi alur ribuan cerita
Yang tertulis setahun kemarin
Biarkan pedihnya memancing airmata
Biarkan sebagiannya melukis senyum
Dan biarkan jika ada yang harus
Kau tenggelamkan bersama waktu

Malam ini hujan,
Semoga pertanda kesegaran
Buat esok yang lebih berbinar
Dengan semangat terkepal
Dalam hati yang direnovasi
Untuk menjemput selengkung pelangi
Dan mentahbiskannya dalam sederet resolusi.

*Ndleming New Years Eve
Surabaya 31 Desember 2011

Monday, November 7, 2011

Edisi Ndleming

Biarkan kubawa segala cinta yang kupunya dalam larikan pinta dan bait-bait doa penutup hari.

Kutitipkan di atas sepasang sayap malaikat, agar damai jiwa menyelimuti setiap orang yang kukasihi.

Meski masih harus berjibaku dan berdamai dengan keadaan yang seringkali menyisipkan resah ke bilik hati.

Tuhan, jagalah kami agar tak lena dalam kesah tak berkesudahan....

Tuhan, bimbinglah kami agar pandai mensyukuri sekecil atom pun nikmat dariMu....

Ijinkan kami tidur dalam pelukan cahaya cintaMu yang takkan pernah mendustai....

*Ndleming menjelang tidur

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting