Showing posts with label komunitas sastra. Show all posts
Showing posts with label komunitas sastra. Show all posts

Friday, April 10, 2015

Sukses Berberkah Karena Sakit Hati

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah bertanya padaku, "Apa obatnya patah hati, Mbak. Kekasihku selingkuh?" 

Jawabku saat itu adalah, "Jatuh cinta lagi. Lalu patah hati lagi. Kemudian jatuh cinta lagi berkali-kali, Kemudian rasakan bedanya patah hati kedua, ketiga, dan kesekian kalinya." 

Setelahnya, seorang teman yang lain berkata, "Aku sakit hati. Usahaku hancur. Ditikam teman dekatku sendiri. Piye carane mbalas sakit hatiku?"

Kujawab pertanyaannya, "Balaslah dengan menjadi lebih sukses dari kemaren."

Di kesempatan lain, seorang teman yang baru saja terkena musibah kematian suami dan anaknya curhat, "Kenapa Tuhan mengambil semua orang yang kucintai? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?"

Kupeluk dan kubisiki dia, "Karena Tuhan memberimu kesempatan untuk mencintai banyak orang yang lain. Karena Tuhan tahu, kamu punya sejuta cinta untuk dibagikan sebagai obat luka hatimu."

Sakit hati, patah hati, kehilangan, bahkan merasa hidup sebagai beban, adalah bentuk-bentuk emosi negatif yang bisa memancing stres berkepanjangan. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa semua emosi negatif itu bisa diolah menjadi stres yang positif? Stres negatif (distress) bisa diubah menjadi stres positif (Eustress). Bagaimana? Mungkinkah? Tentu sangat mungkiiin ....

Saat seseorang stress biasanya ia akan mengalami ketertekanan yang membuat emosinya meluap-luap dan mempengaruhi seluruh organ tubuh dan kinerja tubuhnya. Saat mengalami hal seperti ini, nikmatilah. Beri ruang pada hati dan jiwa untuk menikmati rasa sakitnya. Lalu menangislah. Karena menangis dapat menurunkan tekanan darah dan unsur mangan dalam tubuh. Sehingga suasana hati dan mood pun akan menjadi lebih baik. Dengan demikian akan melepaskan stres yang menekan jiwa. 

Pada saat kondisi jiwa dan tubuh mulai tenang, segeralah berwudhu lalu istighfar. Kemudian menulislah. Karena menulis dapat menjadi sarana mengkatarsiskan emosi. Tulis apapun yang melintas dalam pikiran Anda saat itu. Endapkan tulisan itu. Lalu baca kembali di suasana hati yang lain. Rasakan perbedaan emosi saat membaca tulisan tersebut. Bisa jadi kita tertawa saat membaca tulisan tersebut di lain kesempatan.

Setelah menulis, keluarlah. Pergilah menemui teman yang bisa membawa mood kembali bagus. Masuki komunitas yang bermanfaat. Bisa komunitas menulis, seni, merajut, melukis, pecinta batu akik, atau apapun. Serap energi positif yang ada dalam kebersamaan dengan anggota kemunitas tersebut. 

Sakit hati bukanlah harga mati untuk bunuh diri. Patah hati, luka jiwa, dan aneka kata yang mewakili kegagalan, kehilangan, bete, dan sebagainya, bisa menjadi peluru yang melesat menuju kesuksesan. Sungguh banyak cerita kesuksesan yang berangkat dari kegagalan, patah hati, sakit hati, dan lain-lain. 

Sebut saja Bung Karno, yang mampu menjadikan Indonesia merdeka dan berdaulat karena sakit hati atas segala penjajahan. Meski harus mendekam di balik penjara, diasingkan, dan berkali-kali hendak dibunuh. Tapi rasa sakit hati sebagai anak jajahan melejitkan dirinya menjadi Sang Proklamator. 
Lalu Thomas Alhpa Edison yang mampu menemukan lampu pijar sebagai cikal bakal kelistrikan saat ini, justru setelah ia berkali-kali mengalami kegagalan dan ejekan sebagai anak yang tak cerdas.
Masih ada Steve Jobs, pendiri Apple, perusahaan IT yang menghasilkan iphone. Seorang pengidap diklesia yang kuliahnya cuma sampai semester satu. Stres dengan sistem perkuliahan yang menurutnya tidak kondusif, memacu dirinya menemukan produk teknologi hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Bahkan Willian Shakespeare mampu menulis kisah Rome dan Juliet yang fenomenal, karena cintanya yang tak sampai pada Viola de Lessep. Yang tak kalah penting, uswah hasanah, rosul mulia, Muhammad Saw yang gigih mensyiarkan Islam dengan mengatasi segala rasa sakit diejek, dimaki, dilempari kotoran, bahkan intaian pembunuhan setiap saat. Andai segala rasa sakit hati yang beliau rasakan menjadikannya putus asa, tentu Islam tak kita kenal saat ini. 

Kesuksesan sering lahir dari rahim kesedihan, patah hati, duka, dan aneka emosi negatif yang diolah menjadi peluru. Mereka tidak serta merta bisa mengatasi duka sekejap mata. Tak semudah membalik telapak tangan. Perlu upaya untuk mengubah luka menjadi karya. Perlu airmata untuk mennyuburkan setiap bulir perjuangan yang ditanam dalam proses menuju sukses. Juga perlu Kesungguhan dalam mengulurkan tangan ke dalam genggaman tangan Tuhan, agar dibimbing menuju keberhasilan.

Duka tidak melulu tentang airmata. Tapi sebuah proses dan upaya mengungkap sebentuk cinta dari Sang Mahacinta. Sakit hati tidak semata sebuah goresan yang memedih jiwa. Melainkan sebuah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menjadikan diri kita lebih berarti dalam menorehkan jejak karya atas nama cinta. 

Maka bahagialah mereka yang pernah sakit hati, patah hati, memilin duka, dan memeras airmata. karena sejatinya mereka sedang diberi "hadiah" untuk melejitkan potensi diri menuju sukses. Kesuksesan yang berkah karena metamorfosis sakit hati.

Jika saat ini Anda sedang berduka, patah hati, sakit hati, bete, sedh, SELAMAT! Anda sedang memasuki fase menemukan tajamnya peluru yang akan menjadikan diri Anda lebih berarti. Ayooo segera bangkit. Ubah distress-mu menjadi eustress. Anda pasti bisa.


*Catatan seorang penghayat duka dan luka jiwa. Meruya, 10 April 2015

Monday, June 23, 2014

Surabaya, Sebuah Kenangan Tanpa Akhir (part 2)

Launching HIIB
Apa rasanya kehilangan separuh dari kehidupanmu? Kehilangan hari-hari di mana kamu merasa hidup dengan segala aktivitas yang menyegarkan dan menumbuhkan jiwa. Itu yang saat ini sedang kualami. Rasanya seperti ada lubang hampa udara di dalam jiwa. 

Aku rindu Surabaya. Terlebih rindu dengan aktivitas berkesenian, nyastra dan diskusi-diskusi ringan yang kerapkali menimbulkan ide-ide segar yang mengalir tiada henti. Tercatat aku telah kehilangan dua momen berkelas sejak kutinggalkan Surabaya. 

Pertama, aku tidak bisa menghadiri launching buku Hidup Ini Indah, Beib. Buku yang sempat kukawal proses editingnya dan berisi empat tulisanku. Setiap karya untukku adalah anak jiwa yang dikandung dan dilahirkan sepenuh hati. Aku mencurahkan isi kepala dan hatiku dalam buku ini. Buku ke 14 yang kulahirkan dari hatiku. 

Membayangkan keceriaan, sorot kamera, liputan media dan haha hihi bersama 36 penulis yang semuanya perempuan, cukup membuat hatiku ngilu. Tanpa terasa ketegaran yang kubangun merembes diam-diam dari kelopak mata. Meski aku masih bisa berkomen-komen via facebook, tapi kebahagiaan itu tak purna tanpa aku berada di sana, Rolas Cafe, tempat buku itu diluncurkan. 

Nobi Darsini dan Stebby Whiji
Kedua, aku kehilangan kesempatan menyaksikan Mbak Wina nyinden, Shenobi dan Stebby menari tayub sebagai Darsini dan Kang Widji, Denny Tri Aryanti yang bermonolog, dan tentu saja proses yang mengiringi anak jiwa ke 8 seorang penulis keren, Wina Bojonegoro. Ah ya, tentu aku juga kehilangan kesempatan menyakskan kerempongan seorang stage manager, Didi Cahya, si among tamu Evie Suryani, dan si mungil Heti Palestina Yunani yang enerjik. Duuh membayangkan keceriaan suasana di Perpustakaan BI yang mengawinkan seni dan sastra di atas pentas, rasanya nelongso, Sumpaaah nelongso. Lebay mungkin, tapi itu rasaku.

Denny Tri Aryanti
Setiap pilihan tentu membawa konsekwensi yang mengiringinya. Bukan berarti aku tak bahagia dengan kehidupanku hari ini, bersama suami dan aktivitasku sehari-hari. Tapi sungguh, ada yang sunyi di sudut hati. Bahkan akhir-akhir ini otak kananku nyaris beku. Jemariku sulit diajak menari melahirkan barisan cerita. Sepertinya aku butuh dopping. Sayangnya dopping itu berarti aku harus ke Surabaya, meski cuma untuk satu atau dua hari. 

Surabaya memang bukan tanah kelahiranku, but its like home for my soul. Sebuah rumah di mana aku ingin selalu kembali. Sebuah keluarga di mana aku ingin selalu didekap dalam peluk hangat mereka. Sebuah tempat di mana aku merasa berarti dalam segala kemampuan diri.

Aaah ... ini bukan keluhan, cuma serupa ndleming seorang Titie yang sedang merindui keluarga besarnya di Surabaya. Andai saja di jakarta kutemui ruang dan komunitas di mana aku bisa mengekspresikan kemampuan diri ....

Well, whatever, hari ini adalah milikku. Duniaku. Cuma aku yang bisa mengubah segala kerinduan ini menjadi sepotong kekuatan jiwa untuk menjalani hari-hari di kota besar bernama jakarta. Surabaya memang sebuah kenangan tanpa akhir. Tapi hari ini adalah kenyataan yang harus kujalani. Aku tak bisa hidup di dalam ruang-ruang kenangan, yang harusnya kulakukan adalah menjadikan kenangan itu sebagai bagian dari upaya menumbuhkan jiwa kembali di belantara ibu kota negara ini. Aku bisa! pasti bisa!

*Kutulis usai ditelepon Didi Cahya, Duri Kepa 24 Juni 2014

Wednesday, May 7, 2014

Surabaya, Sebuah Kenangan Tanpa Akhir (Part 1)

Setelah sekian lama blog ini berdebu, tanpa disentuh, tak dibersihkan, tak ditengok, mirip rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya jalan-jalan. Terpaksa harus nyapu-nyapu dulu, bersih-bersih dulu, masak air, nyeduh cokelat panas, baru duduk manis di sudut ternyaman buat menulis.

Aku ingin berayun sejenak di kursi malas di sudut ruangan ini, sambil menerawang ke sudut-sudut kenangan. Melihat lagi jalan-jalan yang telah kulintasi. Mengintip kemasan-kemasan rasa yang terbingkai manis di sebuah kota bernama Surabaya.

Surabaya? Ya Surabaya. Sebuah kota tempat aku dilahirkan kembali menjadi sosok pribadi baru, bak bayi terlahir dari rahim sang ibu. Sebuah kota yang bahkan tak pernah sebelumnya terangan untuk menjadi tempat tinggal. Surabaya yang telah menjadi tanah kelahiran kedua, home sweet home yang sarat dinamika. 

Menjadi salah satu warga di kota "seribu taman" yang asri, adalah sebuah kebanggan tersendiri. Aku yang bukan siapa-siapa, yang datang ke kota ini dengan jiwa yang terkoyak dan berdarah-darah, mendapatkan ribuan cinta dan kasih sayang yang menumbuhkan jiwa. Cinta yang membesarkanku menjadi sosok yang memiliki nama. Bukan sekedar nama yang disematkan, melainkan sebuah keberartian hingga diri ini memiliki kemampuan untuk berbagi kasih, ilmu, dan pengalaman.

Sebuah perjalanan yang bermula dari kepercayaan seorang Mayoko Aiko, yang memberiku amanah untuk mengelola, menjaga, dan membesarkan komunitas penulis bernama CErita Nulis Diskusi On Line (CENDOL) Chapter Jawa Timur (BONEKTIM), membuatku menjelma menjadi sosok bunda bagi ribuan anak, kakak bagi ribuan adik, dan mitra bagi banyak komunitas. 

Berawal dari koordinator CENDOL Jawa Timur, aku melakukan penetrasi komunikasi dengan banyak penulis, seniman, pekerja seni, pejabat birokrasi, hingga para pedagang di seputaran pasar Karang Menjangan. Sebuah hubungan simbiosis mutualisme yang menjadi sebuah jalinan pertemanan yang berkembang dengan baik. 

Bersama BONEKTIM, melahirkan sebuah proyek mengajar anak-anak di area lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, membuatku seringkali harus blusukan di Doli. Mengeja dengan terbata sebuah kehidupan yang kerap diatasnamakan sebagai takdir, kehidupan anak-anak yang memiliki lubang menganga di jiwanya. Kehidupan yang bersicepat dengan derap lendir pekerja seks komersial yang disuling ratusan kali oleh para penikmatnya. Aku menemukan banyak kearifan, ketulusan, kasih sayang, dan harapan yang perlahan tumbuh dari anak-anak tak berdosa yang bahkan tak pernah meminta dilahirkan di lingkungan hitam, bahkan dari rahim para penjaja syahwat. Meski harus seringkali kuhapus airmata diam-diam tiap kali anak-anak tersebut bercerita atau mengadu banyak hal padaku.

Tak cuma blusukan di Doli. Pertemuan rutin bulanan yang kusebut KOPDAR, menjadi media untuk mengeratkan persaudaraan di antara anggota BONEKTIM, juga media sharing karya. Rasanya bahagia tiap kali anggota BONEKTIM berhasil menerbitkan buku-buku karya mereka. 

Lewat aktivitas bersama BONEKTIM, aku mengenal Didi Cahya (penyiar), Evie Suryani (Humas BARPUS Kota Surabaya), Wina Bojonegoro (penulis senior), Heti Palestina (Pekerja media), Alm. Johan Budhie Sava (pemilik jaringan tobuk Togamas), komunitas Sae Sanget, Arini Pakistyaningsih (Kepala BARPUS kota Surabaya) ,dan masih banyak nama lagi yang mewarnai perjalanan seorang Titie Surya.

Bersama mereka aku berkiprah dalam banyak suasana. Menghasilkan karya, mengisi panggung-panggung seni dan perbukuan, serta menularkan virus menulis lewat workshop di sekolah-sekolah, dan pelatihan bagi ratusan petugas teknis perpustakaan. Hidup menjadi sangat bergairah dan penuh warna buatku. Tiada hari untuk bermenung apalagi sekedar memanjakan kegalauan, dan meratapi luka-luka yang pernah ada.

Bahagia adalah pilihan. Aku memilih bahagia dengan mengembangkan pikiran positif dan beraktivitas di segala bidang yang mampu kulakukan. Kuyakin bukan tanpa maksud Allah memperjalankan aku melewati banyak lintasan dan peristiwa. Satu hal kuyakin, apapun luka-luka dan noda masa lalu setiap orang, masa depannya masih suci. Surabaya menjadi kawah candradimuka buatku mengembangkan aura positif dalam diriku. Mengutip ucapan Didi Cahya, " Titie Surya yang pertama kali saya wawancarai di radio Smart FM, berbeda dengan Titie Surya hari ini. Dia lebih ceria, lebih memancarkan aura bahagia."

Kusesap cokelat panas yang mulai mendingin. Kusandarkan punggungku ke kursi malas sambil meregangkan kedua tangan ke udara. Kulemparkan pandanganku pada langit-langit. Memetakan wajah-wajah yang kurindukan. Aaah ... rinduku pada mereka serupa rinduku pada setiap sudut Surabaya. Aku ingin mengistirahatkan mata dulu sejenak, sambil tersenyum pada setiap wajah yang bermain di dalam benakku. 

*Duri Kepa, 08 Mei 2014. Pukul 11.45




Thursday, July 4, 2013

Bersama Umat, Gagalkan Ajang Miss World 2013



Dalam waktu dekat ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah sebuah festival atau kontes kecantikan yang  populer disebut Miss World 2013. Acara ini akan digelar September nanti, dan nampaknya akan berjalan mulus, karena telah mengantongi izin dari pemerintah. Padahal banyak kalangan yang menolak dengan tegas ajang ini. Rencananya, karantina peserta dilaksanakan di Nusa Dua Bali.  Sedangkan puncak acara digelar di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, Jabar, 28 September 2013. Sedangkan malam penobatan digelar di Sentul International Convention Center Bogor. Ironis, Indonesia sebagai negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia, membiarkan ajang kontes kecnatikan yang notabene bertentangan dengan hukum Islam.


Sejarah Berlangsungnya Miss World
Miss World adalah kontes kecantikan tertua di dunia. Sejarahnya bermula dari tahun 1854 yaitu saat kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika. Protes masyarakat Amerika akhirnya membuat kontes tidak berlanjut. Dan uniknya panitia kontes kecantikan pertama di dunia tersebut sebelumnya sukses menggelar kontes kecantikan anjing, bayi, dan burung. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut tersebut diuji-coba untuk manusia. 

Tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar kontes kecantikan internasional untuk pertama kali. Kontes ini berawal dari festival lomba yang bernama Festival Bikini Contest, kemudian berganti nama menjadi Miss World. 
Setelah Eric Morley meninggal sehingga pagelaran tersebut diteruskan istrinya hingga muncul konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian). Konsep 3B ini sebenarnya hanya untuk memoles kontes kecantikan agar diterima banyak kalangan, karena saat itu masih banyak pihak menolak kontes tersebut, bahkan hingga sekarang. Penyebabnya tentu saja karena kontes kecantikan dinilai hanya meng-ekploitasi perempuan. Hingga saat inipun kontes kecantikan masih ditolak para aktivis perempuan di beberapa negara.
Pada tahun 1952 sebuah perusahaan pakaian dalam di Amerika mencoba untuk mencari cara mempromosikan produknya dengan menggelar Miss Universe. Tentu para peserta wajib berbusana bikini agar menarik minat pembeli pakaian dalam tersebut. Pada tahun 1996 Donald Trump membeli hak kontes tersebut untuk ditayangkan di sebuah televisi.


Awal Keikutsertaan Indonesia dalam Ajang Miss World
Indonesia mulai mengikuti kontes kecantikan kelas dunia pada tahun 1982 dengan mengirimkan wakilnya, yakni Andi Botenri, secara diam-diam karena di dalam negeri kontes kecantikan semacam itu masih banyak pihak yang menolak. Tahun berikutnya, 1983, Titi DJ dikirim diam-diam untuk mewakili Indonesia dalam kontes Miss World di London Inggris. 
Pengiriman diam-diam tersebut dilakukan karena sebelumnya Dr. Daoed Joesoef, saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982, menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan kontes kecantikan. Daoed Joesoef menilai kontes kecantikan hakikatnya adalah sebuah penipuan dan pelecehan terhadap perempuan. 
Kontes kecantikan hanya untuk meraup keuntungan bisnis perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, atau salon kecantikan, yang bertujuan mengeksploitasi kecantikan perempuan sebagai primitive instinct dan nafsu dasar laki-laki, serta kebutuhan akan uang untuk hidup mewah. Ia menolak habis-habisan kontes kecantikan, meski dirinya lulusan luar negeri yang berpandangan liberal.

Pada tahun 1992, kontes kecantikan nasional bertitel Puteri Indonesia diizinkan pemerintah karena masih dianggap sopan. Namun sejak tahun 1997, kontes Puteri Indonesia dilarang Presiden Soeharto karena ajang pamer aurat itu disalahgunakan penyelenggara. Ini terjadi karena setahun sebelumnya, penyelenggara secara diam-diam menjadikan kontes tingkat nasional tersebut sebagai ‘batu loncatan’ untuk mengirim pemenangnya, yaitu Alya Rohali untuk mengikuti kontes Miss Universe 1996.
Suasana berubah justru ketika tahun 2000, di masa pemerintahan Gus Dur, kontes Puteri Indonesia kembali diizinkan, namun pemenangnya tidak dikirim ke kontes Miss Universe maupun Miss World. Kebijakan ini tetap dipertahankan sewaktu Megawati memimpin negara ini. Sedangkan pada pemerintahan saat ini, pemenang kontes Puteri Indonesia tidak dilarang, bahkan cenderung didukung untuk mengikuti kontes pamer aurat sejagad.


Mengapa Harus Ditolak?
Kontes kecantikan, apapun namanya, Miss World, Miss Universe, Miss Indonesia, Puteri Indonesia, None Jakarta, Putri Solo, Miss Hijab, dan seterusnya, layak untuk ditolak karena berbagai alasan.

1. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Menutup Aurat dan Menahan Pandangan
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang Mukmin: ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab: 59)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.’” (QS An Nur: 30-31)

2. Perintah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk Menahan Pandangan
Dari Buraidah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai ‘Ali, janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan. Sesungguhnya bagimu hanyalah pandangan yang pertama, dan bukan yang setelahnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2777, Abu Dawud no. 2149, hasan)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (HR Al Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657, dan ini adalah lafazh Muslim)

3. Tabarruj (Berhias) Seperti Orang Jahiliyah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

4. Tasyabbuh (Meniru) Gaya Hidup Orang Kafir
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiyallahu Anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.’” (HR. At Tirmidzi no. 2695)
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031, shahih)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Muttafaqun ‘Alaihi)

5. Simbol Penjajahan atas Agama Islam
Dalam The Protocols of The Learned Elders of Zion pasal 13-14, yang dianggap data otentik rencana kaum Yahudi Zionis membentuk Tata Dunia Baru disebutkan, “Kita dirikan sebanyak mungkin tempat pembangkit maksiat. Kita juga perbanyak reklame di koran atau majalah, guna menyeru mereka agar masuk dalam arena kontes Ratu Kecantikan, atau berkedok kesenian dan olahraga. Hiburan semacam itu akan banyak melalaikan mereka dari mengurusi permasalahan kita, yang mungkin akan membuat pertentangan antara kita dan mereka. Apabila dunia telah dikuasai, maka tidak dibenarkan agama-agama selain Yahudi untuk berkembang. Karena kitalah bangsa termulia dan agama Yahudi adalah agama pilihan Allah.”

6. Menjadikan Perempuan sebagai Komoditas Ekonomi
Dalam pandangan Barat, mereka memandang perempuan dengan pandangan terbuka. Hingga terbuka segala-galanya, pakaiannya, dan auratnya dilihat sebagai simbol keindahan. Padahal inilah simbol penghinaan. Ideologi kapitalisme telah menjerat perempuan sebagai mahkluk cantik yang dipertontonkan. Kontes kecantikan menjadikan perempuan dan tubuhnya sebagai barang dagangan di atas panggung, catwalk, majalah, koran, dan televisi. Kecantikan dan tubuh perempuan peserta kontes dijadikan alat promosi industri rating media, industri alat komestik, dan industri fashion.

7. Dusta Konsep 3B (Brain, Beauty, and Behavior)
Konsep 3B dalam kontes kecantikan, yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (kepribadian), adalah konsep dusta untuk membungkus kontes semacam ini agar diterima masyarakat. Kita akan bertanya-tanya, dalam kontes yang hanya dilakan beberapa hari, bagaimanakah menilai kecerdasan, kecantikan, dan kepribadian? Apakah ada tes IQ atau ujian Matematika? Tidak. Yang dinilai hanyalah satu konsep saja, yakni kecantikan. Meskipun para juri mengatakan bahwa para kontestan dinilai dengan konsep 3B, mengapa para finalis tetaplah mereka yang cantik dalam pengertian umum saja?

Gagalnya Ajang Miss 2013 = Gagalnya Upaya Liberalisasi
Penolakan terhadap ajang Miss World 2013 harus terus dilakukan. Selama ini dengan "hanya" mengirimkan duta kontes kecantikan tingkat internasional saja sudah ditentang masyarakat, khususnya umat Islam. Apalagi bila penyelenggaraannya di Indonesia. Dengan penerimaan Indonesia atas Miss World akan meneguhkan opini bahwa Islam tidak mempermasalahkan  eksistensi perempuan melalui kontes kecantikan, mengingat posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Hal ini akan menjadi model bagi negeri-negeri muslim lain agar lebih toleran dan terbuka terhadap ¨kemajuan¨ kaum perempuan. Dari sinilah dijajakan pemahaman tentang kebebasan berekspresi dan gaya hidup hedonis. Pemenang kontes kecantikan akan menjadi ikon bagi perempuan, termasuk para muslimah dalam memandang makna kebahagiaan hidup, yakni berupa kecantikan, ketenaran dan berlimpahnya materi. Sehingga sangat jelas terlihat adanya upaya liberalisasi perempuan di Indonesia. Umat Islam sudah seharusnya waspada dan berupaya untuk menggagalkannya sebagaimana yang diperintahkan Baginda Rasulullah saw. :
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ :
 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (RiwayatMuslim)
Alasan ¨tanpa bikini¨ tidak bisa diterima, mengingat ajang kontes kecantikan bukan sekadar masalah bikini. Kontes kecantikan adalah bagian dari industri kapitalisme, dimana perempuan menjadi ujung tombaknya. Perempuan cantik diorbitkan untuk mendongkrak image sebuah produk. Mereka menjadi pion-pion para sponsor yang terlibat dalam ajang tersebut. Kontes kecantikan tidak akan mendatangkan kehormatan bagi kaum perempuan. Sebaliknya, kontes ini justru merontokkan harkat dan martabat kaum perempuan. Perempuan kembali hanya dilihat dari segi penampilan fisiknya saja.
Pandangan ini sangat bertolak belakang dengan Islam. Islam memandang wanita sebagai manusia terhormat dan mulia yang wajib mendapat perlindungan. Islam menjaga wanita dengan mensyariatkan agar wanita menutup auratnya dari laki-laki yang bukan mahramnya, serta melarang bertabarruj. Meski begitu, Islam tetap membolehkan wanita untuk beraktivitas yang tidak menyalahi fitrahnya. Islam membolehkan interaksi pria dan wanita dalam hal-hal tertentu yang umum. Meskipun ada aturannya, diantaranya laki-laki dan wanita harus menjaga pandangannya. Wanita pun dihargai bukan dari penampilan fisiknya,melainkan dari keshalihan dan ketakwaannya. Hal ini menjadikan para wanita berfokus kepada amal-amal kebaikan yang membawanya kepada derajat takwa, dan terjaga. Islam mencegah segala hal yang dapat menjadikan perempuan sebagai obyek bisnis ataupun seksual. Namun, perlindungan Islam ini tak mungkin dilakukan oleh individu saja melainkan harus oleh negara. Maka, kebutuhan akan penerapan syariat Islam dalam bingkai negara Khilafah sudah sangat mendesak. Karena ini satu-satunya jalan untuk menjaga perempuan dan mencegah lebih banyak kemunkaran yang terjadi.

Wallahu a’lamu bishshawabi

*Ditulis oleh Meivy Yusuf untuk Catatan Hati Titie Surya 



 

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting