Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Monday, June 17, 2013

Tolak Kenaikan BBM!! (Sebuah Puisi Liris)

BBM mau naiiik!!!
Begitu kudengar di sepanjang jalan yang kulalui tadi pagi
Jalanan yang basah baru saja terguyur hujan
Sisa hujan masih nyata jejaknya pada udara yang seolah berkabut
Hingga menggilas jejak-jejak roda para pengguna BBM

Bagi pengguna setia angkot
Peduli apa aku pada kenaikan BBM?
Toh sang supir paling juga menaikan tarif angkot bukan?
Atau aku harus ikut dalam barisan para demonstran?
Berparade memacetkan jalan raya
Berteriak memekik dan menambah kebisingan kota
Apakah para demonstran itu peduli pada pengguna angkot sepertiku?
Yang berpacu dengan waktu menuju jam kerja demi sesuap nasi
Belum lagi kulihat ada perempuan hamil naik becak
Didampingi suami tercinta yang memisuh, "Jancuuuk!! bojoku arepe mbrojol. Demo mbarang nggarai macet!!"
Di sisi jalan yang lain, beberapa pedagang yang mengangkut dagangannya dengan sepeda onthel,
terpaksa menuntun sepedanya menembus kemacetan

Tolak kenaikan BBM!!!
Tolak kenaikan BBM!!!
Begitu kudengar para demonstran berteriak, memekik heroik bak pahlawan
Masalahnya menjadi pahlawan untuk siapaaa???
Bagi kami para pekerja yang terpaksa datang terlambat?
Bagi perempuan hamil tadi yang resikonya bisa melahirkan di atas becak?
Atau bagi para pedagang yang berusaha mencari seperak dua perak demi bisa makan, tak peduli demo BBM?

Aku tercenung di atas angkot, sambil melahap pemandangan di kotaku
Melihat deretan mobil mewah para demonstran
Melihat mobil dinas para pejabat yang antri BBM bersubsidi
Kucari barisan aksara dan memunguti cecerannya di atas aspal
Mencoba mencerna, harus kujuduli apa episode drama BBM ini?
Atau mungkin tak perlu lagi kata, karena para demonstran dan para pejabat
sebentar lagi akan lupa pada segala retorika
Semua akan baik-baik saja
Karena ini Indonesia
Rakyatnya telah terbiasa dijanjikan kata-kata. Toh Gusti Allah tetap mencukupi segalanya
sesuai dengan kebutuhan.

Tolak kenaikan BBM!!!
Aku menuli telinga, kususun lagi barisan kata

Tolak kenaikan BBM!!!
Kusapukan pena pada lembaran tissue

Tolak kenaikan BBM!!!
Menyusun kembali kata tentangmu, negeriku :
Cukuplah membingkai wajahmu dengan kedua mataku
Lalu meletakkan lukisan dirimu di dinding hatiku
Menjadikannya memorabilia, pernah ada

sebuah negeri bernama Indonesia 
Sarat masalah, sarat demo, nihil tindakan nyata
 
Tolak kenaikan BBM!!!
Aku cuma tahu bagaimana menolak sistem yang salah, lewat gumaman hati 
dan sedikit tarian pena

Tolak kenaikan BBM!!!
Ciiih ...!

Tolak kenaikan BBM!!!
Aaargh ...!

Tolak kenaikan BBM!!!
Preeet ...!

Tidak ada pesta yang tak usai
Setelah demo selesai, semua kembali pada habitatnya. 
Tanpa solusi, tanpa prestasi, tanpa petisi yang berarti
Hanya kata-kata, hanya sementara, menguap begitu saja
Karena ini Indonesia, negara demokrasi yang katanya berlandas pancasila

Tolak kenaikan BBM!!!
Jika mau sejahtera, telusuri lembar sejarah
Tengok lagi, sistem apa yang bisa memperbaikinya
Liberal, gagal
Komunisme, runtuh
Sosialis, habis
Demokrasi, menangis
Lalu apalagi?
Temukan pada lembaran sejarah yang hilang
Itu jika kau mau!




Saturday, December 22, 2012

A Little Note For You, Mom


Mengenangmu bu ....
Serupa menyayat nadi dengan sembilu
Perih dan memaku kelu
Pada lapisan-lapisan rindu

Mengingatmu bu ....
Mengurai kembali kepingan kisah masa lalu
Saat aku bahkan tak mampu hadir di sisimu
Kala maut meminta nyawa dari ragamu

Mengaksaramu bu ....
Menghadirkan bulir kristal di pipiku
Pedih menelikung sudut kalbu
Serupa bulan pucat di langit malam, tak biru

Dengan apa lagi kuurai segala kerinduan dan cintaku, bu?
Jika barisan doa tak membuatmu kembali padaku
Harus bagaimana kutulis segala sesal dan rindu
Disebabkan belum purna baktiku padamu

Bu ... semoga damai dan bahagia memelukmu
Dengan kebahagiaan penuh seluruh
Biarkan selalu kuuntai butir-butir kangenku
Dan kulambungkan ke petala langit untukmu utuh

*Ndleming rindu untuk ibu. Karmen, 22 Desember 2012

Wednesday, August 29, 2012

Mengemas Bayangmu


Pada gerimis hati kau datang
Bawakan segumpal harap di jelang petang
Katamu untuk melingkis biru
Dari hati yang beku

Di siang benderang kau menghilang
Tanpa berita apalagi surat terlayang
Sementara buhul hati belum lagi terurai
Masih serupa benang berkelindan masai

Sudah kubilang padamu dulu
Jangan sentuh apapun meski kau mau
Karena ia fragile serupa kaca
Mudah berderai dan pecah

Pergilah ... jika itu maumu sudah
Jangan lagi peduli pada gemeretak patah
Biarkan saja, ia kan kembali lesat dan tegak
Bersama panah waktu yang tak henti berdetak

Pergilah ... jangan lagi peduli pada pendar jingga kala
Ia kan teduh  dalam pelukan malam
Biarkan saja ia dirangkul sang candra
Untuk melesapkan luka pada pusaran kelam

Jangan tolehkan lagi pandangmu
Karena biru telah kembali beku
Tak peduli pada tatap sayumu
Yang ada cuma kelu memilin kalbu

*TMA, 28 Agustus 2012

Thursday, May 17, 2012

Segenggam Terima kasih

Aku menujumu
Meraih segenggam ilmu
Lewat kata nan padu
Meski berjarak serat mayaku

Kau tak cuma sebaris nama
Tapi menapak dengan logika
Pada setiap untaian kata
Yang lahir dari bening jiwa

Syukur kulantun
Pada untain pujian santun
Terima kasih telah menuntun
Pada ilmu tak surut meski berbilang kurun

Aku bercermin pada kisahmu
Menuju Cahaya di atas cahaya
Tentang cintamu pada Rabbku
Yang kini kau cintai sebagai Rabbmu, Rabb kita

Perjalanan yang tak mudah
Adalah cermin jiwa indah
Yang bersemayam pada tulus jiwa
Meraih hidayah semata

Terima kasih padamu
Yang sudi menjadi sahabatku
Meski hanya lewat lantun kata
Di antarai fb dan blog kita

*Puisi kamar buat seorang sahabat, mas Insan Robbani. Muallaf yang sungguh luar biasa.
Srikana, 17 Mei 2012, pukul 23.25

Tuesday, May 8, 2012

Mengaksara Mu

Tawamu riang
Susupkan kembang
Harumkan jiwa
Legakan rasa

Kata-katamu bunga
Gelorakan lirih
Pijarkan tawa
Susutkan perih

Warnamu utuh
Melukis cerita
Mengusir keluh
Terpadu purna

Duhai ... kau serupa dewa
Melangkah gembira
Bertitian pendar jingga
Merengkuh sukma

Aku terperangah
Takjub
Serupa anugerah
Termaktub

*Puisi kamar, Srikana, 5 Mei 2012. Ungkap kekagumanku pada seorang sahabat jiwa Pak Teguh Setiawan Wibowo.

Friday, May 4, 2012

Ode Rindu

Biar kupeluk malam
Khabarkan sunyi
Pada sepotong sepi
Di gigil rindu

Biar kupagut hatimu
Lewat titian angin
Hembuskan dingin
Berkawan bisu

Biar saja segala terbang
Bersayap resah
Dihembus pilu
Berkarib halimun

Biar kunanti saja
Reuni sunyi
Pada tanah merah
Bertabur melati

Karena semua
telah kau bawa
Rindu
Cinta
Dan Kasih
Ke abadimu
Tak terjangkau mata

*Saat Mendadak Rindu pada mereka tercinta, Srikana, 5Mei 2012, dinihari pukul 01.00

Thursday, May 3, 2012

Saat Keluh Di Pinggir Bibir

 Saat keluh di pinggir bibir
Nyaris terloncat tanpa fikir
Seraut wajah selalu mampir
Membuat kata perlahan melipir

Katamu, simpanlah duka, bagikan tawa
Tak cuma sebuah retorika tak bermakna
Melainkan terwujud secara nyata
Pada dirimu, meski kau bukan dewa



Saat keluh di pingir bibir
Aku cuma memanggilmu dalam sebuah kata, kakak ...
Lalu perlahan surut menyingkir
Karena kutahu, bebanmu jauh lebih membengkak

Saat keluh di pinggir bibir
Kupasang wajahmu di ruang mata
Menjadi rambu untuk berakhir
Menarik keluh dan memamahnya
Dalam sepi, dalam gulita tanpa nyala

Saat keluh di pinggir bibir
Kutahu, bukan cuma milikku seorang
Karenanya kukemas ia dan kuleburkan
Agar meragi ruhani menjadi sebuah kekuatan
Untuk melangkah tegap di atas dilatasi duka dan airmata

*Kudedikasikan buat seorang kakak yang kata-katanya selalu menguatkan jiwa kala lemah. Srikana, 3 April 2012

Monday, March 26, 2012

Sebuah Pertanda

Apakah kau wajah rindu di kaki senja
Yang memecah ombak serupa buih-buih doa
Atau kah kau pemilik kunci gerbang asmaralaya
Yang harus kubuka dengan kalam wisesa

Tanganku kuat merentang gendewa
Tapi apa guna tanpa mata panah
Haruskah kusimpan kembali pada kotak pusaka
Berteman segala tanya dan titian resah

Ingin kulempar resah ke langit wingit
Terhisap malam berlampu bulan selirit
Berharap surya kembali terbit
Mematahkan gundah pada jiwa terbelit


Tapi pusaran badai tak biarkanku melaras jiwa
Dibuatnya aku melanglang bimbang hingga menggetarkan cakrawala
Kau kah itu Sang Brahma penggenggam Pawaka
Melecut ancala sunyi berwajah seribu tanya

Kuharap kau tak cuma bersukma Brahma
Bertahta pada ketinggian tak tergapai mata
Di wajahmu menitis rupa Arjuna
Semoga kau setegas Yudistira, seberani Rama
Membimbing Srikandi merentang gendewa
Menjemput Shinta di lahan Rahwana
Cukup dengan satu pertanda
Jika sejatinya kuncimu adalah cinta


Sunday, March 25, 2012

A Bunch Of Thanks

Melemas raga di atas tumpukan kata terkupas satu-satu
Menapaki jejak dari Ay Ye ke Huo Ma Ren, Gan Jiang Ciang,
Xiao Hui Xiang, Sha Ren, Su Mu hingga Di Qien Cao.
Letih mengaduk emosi jiwa, seketika padam 
Tiap kali kau sodorkan bertumpuk kata dalam serat-serat herba 

Entah tulang rusuk siapa yang Dia sematkan pada jiwaku.
Menjadikan kata terhenti pada alun pikir tergugu
Jadi kepada siapa kubisikkan cinta tak bermata? 
Pada angin kah? Pada rumputkah?   
Atau pada kerjap binar mata yang menggemintang dalam gulita tanpa nyala.


Kau nyala dalam semangatku
Mata kedua pada kantuk yang bergelayut
Pancuran ilmu tak berbatas pintu
Sahabat berbincang pada letih memagut

Tuhan mengirimmu untuk larut dalam setiap kata menjadi ragi 
Dalam segumpal semangat yang kerap tak mengembang
Terima kasih telah ada di saat aku butuh penopang pena
Terima kasih telah mengisi lelahku dengan semangat terbaru

Wednesday, March 14, 2012

Pada Sebuah Akad

Penampilan Paramitha dalam Puncak Acara Festival Lan Fang berupa parade pembacaan puisi tanpa henti selama 11 jam, menjadi pamungkas sekaligus membuat puisiku berjiwa. Sebuah puisi hanya akan menjadi coretan di atas kertas belaka, manakalah tidak ada orang-orang hebat yang membuat puisi itu menjadi bermakna. Puisiku yang sangat sederhana menjadi hidup di atas pentas dengan pembawaan yang total secara teatrikal. Inilah puisiku yang dibawakan oleh Mitha dengan iringan musik cantik dari Filesky.

Pada Sebuah Akad
Oleh Titie Surya

Aku berputar-putar di depan cermin
Bak putri melayang, datang dari angkasa
Bergaun cantik, anggun dan mempesona
Menapakkan jejak di bumi dengan jelita

Sepasang mata menggemintang menatapku
Berbalut cinta, dengan kasih penuh seluruh
Sebaris senyum meruap tawa
Tak cuma dari bibir, utuh dari hatinya

Duuh … jangan tatap seperti itu
Aku bukan lagi gadis kecil berkepang dua
Dengan pita warna warni di ujungnya

Aaah … tawamu kian berderai
Dengan isyarat mata, kau pinta aku
Melabuhkan jenak dalam pelukmu

Seperti bayi, kusurukkan kepala
Pada lembut dadamu, tempat aku pernah menyusu
Dengan iringan degup jantung halus dan lembut

Perlahan, senyumku … pecah menjadi tangis
Bukan … bukan karena aku tak lagi
Bisa menyusu padamu
Melainkan payudaramu yang dulu
jadi sumber kehidupanku kini mengkerut
Jadi derita, jadi jeruk yang kecut

Ibu belum cukup waktuku untuk bahagiakanmu
Bahkan ketika hari ini, saat ini
Aku mengenakan gaun pengantin pemberianmu
Untuk menuju altar, kulihat kau mengering, kau gerimis
Bukan karena kau akan kehilanganku
Melainkan kau akan meninggalkanku

Tidak!! Ibu!!
Kau seperti menyerah dalam ketidakberdayaan
Kau diam, kau kaku, kau tidak bergeming
Ketika tanganku memelukmu, kau dingin!

Ibu ... kumohon sekali ini
Jangan tinggalkan aku, bimbing tanganku
Bawa aku menuju altar
Seorang lelaki tegap telah menunggu ibu,
Menunggumu menanti restu
Ibu ... please dont die

Tapi Tuhan sudah berkehendak
Waktupun henti berdetak
Ibu diam, aku diam
Ibu beku, aku beku
Ibu dingin, aku getir
Aku terhenti dan mengalir

Ibu, aku terbangun dari mimpiku
Aku sedang berada dalam pusara airmata
Kau meninggalkanku pada akad itu
Meninggalkan berjuta asa yang mengudara

Ibu belum cukup waktuku untuk bahagiakanmu
Belum puas aku merana dalam dukaku
Biarkan aku tirus menatap cermin
Mendera perih yang menyayat sayat
Dan melepuhkan seluruh badanku
Biarkan aku Ibu, larut dalam dukamu

Dan ketika nanti aku tegap berdiri
Kan kuseru kepada semua ibu, semua perempuan sepertiku
Bahwa kita mampu, kita bisa membunuh kanker itu
Sebelum mereka membunuh kita


Lihat ibu … betapa cantiknya aku
Dalam balutan gaun pengantin pemberianmu
Lihat ibu … anakmu tak lagi seorang gadis kecil
Yang berlari, jatuh, lalu menangis
Meski kini harus kulalui hari tanpamu

(Srikana, 25 FEbruari 2012. Dengan sedikit modifikasi oleh Mitha)



Monday, March 12, 2012

Aku Di atas Pentas

Sahabat Lan Fang Maraton Baca Puisi 11 Jam

Minggu, 11 Mar 2012 - 10:00 s/d Minggu, 11 Mar 2012 - 21:00
11 1festival lanfang 6

Salah satu sahabat Lan Fang saat membacakan puisi. foto:CentroOne/Suryanto
Surabaya – Bertempat di Atrium Supermall Pakuwon Indah (SPI) Surabaya,Minggu, (11/03/2012) sebuah acara istimewa yang menjadi bagian dari Festival Lan Fang digelar. Acara yang diberi nama Pemecahan Rekor Pembacaan Puisi Tanpa Henti Sehari ini diikuti sekitar 200 orang. Puisi yang dibacakan berdurasi sekitar empat menit.

Saat satu orang selesai membacakan puisinya, satu orang yang lain sudah bersiap berdiri di sisi panggung. Pembacaan puisi dilakukan tanpa jeda mulai pukul 10.00 pagi hingga 21.00 malam.
Puisi yang dibacakan semuanya bertema tentang perempuan. Tidak sedikit juga menyinggung tentang kesehatan payudara perempuan.

"Puisinya sebenarnya bebas. Cuma mungkin mereka terinspirasi dari Lan Fang sehingga tidak sedikit mengangkat tema tersebut," kata Ketua Umum Festival Lan Fang, Ananto Sidohutomo kepada CentroOne.com di Surabaya, Minggu (11/03). Ikut berpartisipasi dalam acara ini tidak hanya sahabat-sahabat Lan Fang, satu dari tiga buah hati Lan Fang juga ikut membaca puisi.

Pemecahan rekor ini merupakan satu rangkaian dari Festival Lan Fang dipersembahkan untuk Lan Fang. Novelis, sastrawan asal Surabaya ini dikenal luas akan semangat pluralisme, humanisme dan keberpihakannya kepada orang yang tertindas dan berbeda.

Sosok dan semangat Lan Fang inilah yang akhirnya menjadi ruh Festival Lan Fang. Mulai dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi, membatik puisi, pembacaan dongeng anak-anak dan bedah karya sastra hingga puncaknya pembacaan puisi tanpa henti hari ini.

Festival Lan Fang sendiri sudah diselenggarakan sejak 3 Januari lalu. "Festival ini pertama kali berkegiatan mulai digagas sejak meninggalnya Lan Fang 25 Desember lalu," ujar Ananto.

Selain pembacaan puisi tanpa henti sehari, dilakukan juga Launching tiga buku Lan Fang terbaru yang belum sempat dirilis hingga Ia tutup usia. Ketiha buku tersebut yaitu buku non fiksi Imlek Tanpa Gus Dur dan dua buku fiksi Sonata Musim Kelima dan Ghirah Ghata.

Oleh : Anggraenny P-editor:YL.antama.putra

Berita lain acara ini bisa dilihat di  http://www.radarsby.com/radarsurabaya%20pdf/3.pdf
Harian Jawa Pos, Metropolis section
Harian Surya

Friday, February 3, 2012

Bagimu Perempuanku



Pada gerai rambutmu ada kehangatan cinta
Di gelombang detak jantungmu ada kelembutan kasih
Pada hangat rahimmu ada awal sebuah generasi




Duhai perempuanku ….
Kaulah ibu bagi jutaan umat di bumi
Kau serupa Fatimah yang menjaga kesucian
Kau lah Shinta bagi para Rama perkasa
Kau Drupadi, penjaga kehormatan setiap jiwa

Duhai perempuanku ….
Begitu berharga nyawamu bagi banyak jiwa
Jangan. jangan serahkan payudaramu
Jangan korbankan rahimmu
Cuma untuk sebuah kata, kanker ….

(Srikana, 27 Januari 2012)

Wednesday, February 1, 2012

Aku Tak Butuh

Aku tak butuh cintamu
Jika karena itu harus kehilangan kehangatan
Sapa, canda dan diskusi-diskusi ringan
Yang selalu saja menyegarkan

Aku tak butuh sekeping hatimu
Jika itu hanya akan menderaikan denting sunyi
Alunan sepi dan nada sumbang sebuah persahabatan

Aku tak butuh menjadi sisian hatimu
Jika tak lagi bisa mereguk ilmu,
mendulang cerita dan pengalaman hidup
Dari jejak-jejak perjalananmu

Sungguh aku tak butuh menjadi sesuatu bagimu
Karena aku bisa meraih sesuatu di langit hatiku
Pada tebaran kerlip bintang berbentuk hati
Dari banyak cinta yang tersemat
Pada sepiku yang tak sunyi

Sekali lagi kukatakan,
Aku tak butuh menjadi kekasihmu
Jika karena itu lidah menjadi kelu
Kata menjadi beku

Aku cukup bahagia jika bisa menjadi sahabatmu
Hari ini, esok dan selamanya.
Karena hati ini memiliki banyak ruang
Lapang menampung cerita cinta
Dalam dimensi yang berbeda
Atas nama persahabatan
Yang saling menumbuhkan jiwa

*Buat seseorang yang tak lagi membalas sms-sms ku

Sekepal Semangat Pagi


Di ujung sana, secercah cahaya menanti
Jangan lagi manjakan bimbang hati
Bakar saja perahu kemarin yang patah layar
Biarkan segalanya terang dan berbinar
Menjadikan seulas senyum kian lebar
Pada hamparan syukur tak berbatas
Pada lantunan puji melambung jelas

Hari ini, pada kemasan rasa berbilang indah
Ribuan harap dengan jemari kutatah
Harumnya kukuarkan lewat angin fajar
Percik cahayanya kupantulkan melalui kisi jendela hati
Semoga tak layu tersapu bayu
Tak kuyu pada terpa hujan membadai
Tak getas pada sapuan panas
Kokoh pada jemari yang saling berkait dan berkelindan
Atas nama sebuah keikhlasan.

*Ndleming pagi buat para sahabat sukarelawan sastra

Sunday, January 29, 2012

Info Volunteer

Dibutuhkan 40 orang yang mau jadi sukarelawan aktif sebagai panitia "“FESTIVAL PEMBACAAN PUISI TANPA HENTI SEHARI" Pada tanggal 11 Maret 2012, dalam rangka Kampanye Pencegahan Kanker Payudara dan Kanker Rahim sekaligus momentum bangkitnya Sastra Surabaya pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya.

Tekhnical meeting pertama bagi para sukarelawan, Rabu 1 Februari 2012 pukul 18.00 di Teras Sastra Bidadari. Jalan Trunojoyo No.63 Surabaya. Cp: dokter Ananto 0818302761. Bu Titie Surya 085732033498

Friday, January 27, 2012

Pada Sebuah Rindu

Selarut ini aku masih terjaga
Berharap bilah pintu diketuk
Lalu kau mendekat dengan setangkup rindu
Mendaratkan sekecup cium di kedua pipiku
Lalu berbisik, "aku merinduimu, bunda."

Selarut ini aku masih menunggu
Bayangmu hadir dalam temaram lampu kamar
Lalu menyurukkan kepala mungil berambut ikal
Hanyut dalam irama degup jantungku
Kemudian lembut membisikku,"aku sayang padamu, bunda."

Selarut ini pula kututup jendela kamar
Penahan deru angin dan terjangan tetes hujan
Berharap rinduku terbang menjumpaimu
Meski cuma sebentar dalam mimpiku nanti malam

*Ndleming rindu pada malaikat kecilku, 27 Januari 2012

Saturday, January 14, 2012

Dlemingan Buatmu

Hai, ajariku menarikan pena pada lembaran hati milikmu.
Atau beri aku pertanda jika kunci itu memang kau genggam.

Tapi jika kau enggan,
Cukuplah selalu sediakan sepasang telingamu
buat mendengarkan segala kicauku.
Dan layar hapemu
Buat menerima dan membalas semua sms ku

Karena aku akan menikmati
setiap senyum dan tawamu
Juga barisan sms darimu
Dengan kilau mata yang menggemintang.

*Ndleming saat gerimis, surabaya 14012012

Saturday, December 31, 2011

New Year's Eve


Malam kemarin hujan
Malam ini pun hujan
Apa bedanya? tidak ada, kecuali
Kau rela membuka lagi tumpukan file
Di sudut hati yang berdebu
Tiup-tiuplah agar angin menerbangkannya
Agar tak memekatkan mata
memandang lagi alur ribuan cerita
Yang tertulis setahun kemarin
Biarkan pedihnya memancing airmata
Biarkan sebagiannya melukis senyum
Dan biarkan jika ada yang harus
Kau tenggelamkan bersama waktu

Malam ini hujan,
Semoga pertanda kesegaran
Buat esok yang lebih berbinar
Dengan semangat terkepal
Dalam hati yang direnovasi
Untuk menjemput selengkung pelangi
Dan mentahbiskannya dalam sederet resolusi.

*Ndleming New Years Eve
Surabaya 31 Desember 2011

Friday, December 30, 2011

Jejak Karya 2011 dan Resolusi 2012

Di sinilah tulisanku berada. Kelak ia akan menjadi prasasti bagiku dan pengingat bagi mereka yang mengenalku.


Ini adalah Scrapbook, a very personal book. Biasanya dipesan oleh sebuah keluarga untuk memperingati moment tertentu. Buku ini berjudul Rindu Yang Dirindui. Bercerita tentang seorang baby girl yang dinantikan kehadirannya oleh ayah dan bunda yang menanti selama delapan tahun. Diterbitkan oleh Jingga Publishing House.


Semua Bergerak Untuk Sastra Indonesia adalah buku yang ditulis bersama oleh beberapa penulis. Berisi 7 essai, 10 cerpen dan 42 puisi. Karyaku adalah esai dengan judul Demi Sastra Agar Tak Mati Obor dan sebuah puisi berjudul Kelana Sastra. Buku ini diterbitkan oleh Nulisbuku.com. Seluruh royalti penjualan buku ini diberikan kepada Pusat Sastra H.B Jasin untuk biaya pengelolaan lembaga tersebut. Buku ini bisa dipesan melalui www.nulisbuku.com.


Senyum Bidadari Kecil memuat karya Almarhumah Dinar Atfa Cholifah. Penulis muda yang meninggal karena kecelakaan. Tulisanku dalam buku ini adalah Catatan Airmata dan Senyum. Selain berisi karya Dinar, buku ini juga berisi cerpen, puisi dan pantun dari anggota grup menulis online bernama Cerita Nulis dan Diskusi Online (CENDOL) yang berbasis facebook. SBK diterbitkan oleh Universal Nikko. Seluruh royalti penjualan buku ini diberikan kepada keluarga almarhum penulisnya. Buku ini masih sisa beberapa eksemplar di toko buku gramedia Jakarta dan Surabaya. So, yang mau punya, dont miss it.


Dua Sisi Susi adalah kumpulan cerita misteri yang menegangkan. Pembaca serasa diajak naik roller coster. Ada ketegangan yang mencekam kala membacanya. Buku yang memuat 21 cerpen dan 35 fiksi mini behind the scene ini adalah buku laris di tahun 2011 yang selanjutnya disusul oleh larisnya buku SBK. Dalam buku ini aku menorehkan sebuah fiksi mini. DSS juga diterbitkan oleh Universal Nikko. Pantauan terakhir, buku ini masih ada di beberapa toko buku Gramedia wilayah Jakarta dan Jawa Tengah


Impian Liar Perempuan, adalah sebuah antologi cerpen yang ditulis oleh 21 penulis yang selain menulis juga ibu rumah tangga. Kumpulan cerpen yang legit, manis, menggoda dan sarat hikmah ini sangat layak menjadi bacaan perempuan dewasa. Bergenre Metropop. Tulisanku dalam buku ini berjudul Candu Cumbumu. Diterbitkan oleh Universal Nikko. Insya Allah buku ini akan bertengger manis di Gramedia pada bulan Januari 2012, launchingnya sudah dilakukan pada 27 November 2011.

Sebuah mimpi adalah kunci yang harus bisa digunakan dengan tepat untuk membuka pintu yang sesuai. Tahun 2011 ini, aku memang bermimpi memiliki 5 buku yang di dalamnya ada namaku. Thanks to Allah, semuanya terwujud.

Tahun depan, resolusiku adalah menerbitkan 3 novel, 2 buku psikopop dan 5 antologi cerpen. Selain itu juga melayangkan tulisanku ke beberapa media menjadi bagian dari resolusiku di 2012. Semoga kunci yang kumiliki akan menemukan pintu yang sesuai, amiiin.

Monday, November 7, 2011

Edisi Ndleming

Biarkan kubawa segala cinta yang kupunya dalam larikan pinta dan bait-bait doa penutup hari.

Kutitipkan di atas sepasang sayap malaikat, agar damai jiwa menyelimuti setiap orang yang kukasihi.

Meski masih harus berjibaku dan berdamai dengan keadaan yang seringkali menyisipkan resah ke bilik hati.

Tuhan, jagalah kami agar tak lena dalam kesah tak berkesudahan....

Tuhan, bimbinglah kami agar pandai mensyukuri sekecil atom pun nikmat dariMu....

Ijinkan kami tidur dalam pelukan cahaya cintaMu yang takkan pernah mendustai....

*Ndleming menjelang tidur

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting