Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Monday, June 17, 2013

Tolak Kenaikan BBM!! (Sebuah Puisi Liris)

BBM mau naiiik!!!
Begitu kudengar di sepanjang jalan yang kulalui tadi pagi
Jalanan yang basah baru saja terguyur hujan
Sisa hujan masih nyata jejaknya pada udara yang seolah berkabut
Hingga menggilas jejak-jejak roda para pengguna BBM

Bagi pengguna setia angkot
Peduli apa aku pada kenaikan BBM?
Toh sang supir paling juga menaikan tarif angkot bukan?
Atau aku harus ikut dalam barisan para demonstran?
Berparade memacetkan jalan raya
Berteriak memekik dan menambah kebisingan kota
Apakah para demonstran itu peduli pada pengguna angkot sepertiku?
Yang berpacu dengan waktu menuju jam kerja demi sesuap nasi
Belum lagi kulihat ada perempuan hamil naik becak
Didampingi suami tercinta yang memisuh, "Jancuuuk!! bojoku arepe mbrojol. Demo mbarang nggarai macet!!"
Di sisi jalan yang lain, beberapa pedagang yang mengangkut dagangannya dengan sepeda onthel,
terpaksa menuntun sepedanya menembus kemacetan

Tolak kenaikan BBM!!!
Tolak kenaikan BBM!!!
Begitu kudengar para demonstran berteriak, memekik heroik bak pahlawan
Masalahnya menjadi pahlawan untuk siapaaa???
Bagi kami para pekerja yang terpaksa datang terlambat?
Bagi perempuan hamil tadi yang resikonya bisa melahirkan di atas becak?
Atau bagi para pedagang yang berusaha mencari seperak dua perak demi bisa makan, tak peduli demo BBM?

Aku tercenung di atas angkot, sambil melahap pemandangan di kotaku
Melihat deretan mobil mewah para demonstran
Melihat mobil dinas para pejabat yang antri BBM bersubsidi
Kucari barisan aksara dan memunguti cecerannya di atas aspal
Mencoba mencerna, harus kujuduli apa episode drama BBM ini?
Atau mungkin tak perlu lagi kata, karena para demonstran dan para pejabat
sebentar lagi akan lupa pada segala retorika
Semua akan baik-baik saja
Karena ini Indonesia
Rakyatnya telah terbiasa dijanjikan kata-kata. Toh Gusti Allah tetap mencukupi segalanya
sesuai dengan kebutuhan.

Tolak kenaikan BBM!!!
Aku menuli telinga, kususun lagi barisan kata

Tolak kenaikan BBM!!!
Kusapukan pena pada lembaran tissue

Tolak kenaikan BBM!!!
Menyusun kembali kata tentangmu, negeriku :
Cukuplah membingkai wajahmu dengan kedua mataku
Lalu meletakkan lukisan dirimu di dinding hatiku
Menjadikannya memorabilia, pernah ada

sebuah negeri bernama Indonesia 
Sarat masalah, sarat demo, nihil tindakan nyata
 
Tolak kenaikan BBM!!!
Aku cuma tahu bagaimana menolak sistem yang salah, lewat gumaman hati 
dan sedikit tarian pena

Tolak kenaikan BBM!!!
Ciiih ...!

Tolak kenaikan BBM!!!
Aaargh ...!

Tolak kenaikan BBM!!!
Preeet ...!

Tidak ada pesta yang tak usai
Setelah demo selesai, semua kembali pada habitatnya. 
Tanpa solusi, tanpa prestasi, tanpa petisi yang berarti
Hanya kata-kata, hanya sementara, menguap begitu saja
Karena ini Indonesia, negara demokrasi yang katanya berlandas pancasila

Tolak kenaikan BBM!!!
Jika mau sejahtera, telusuri lembar sejarah
Tengok lagi, sistem apa yang bisa memperbaikinya
Liberal, gagal
Komunisme, runtuh
Sosialis, habis
Demokrasi, menangis
Lalu apalagi?
Temukan pada lembaran sejarah yang hilang
Itu jika kau mau!




Saturday, December 22, 2012

A Little Note For You, Mom


Mengenangmu bu ....
Serupa menyayat nadi dengan sembilu
Perih dan memaku kelu
Pada lapisan-lapisan rindu

Mengingatmu bu ....
Mengurai kembali kepingan kisah masa lalu
Saat aku bahkan tak mampu hadir di sisimu
Kala maut meminta nyawa dari ragamu

Mengaksaramu bu ....
Menghadirkan bulir kristal di pipiku
Pedih menelikung sudut kalbu
Serupa bulan pucat di langit malam, tak biru

Dengan apa lagi kuurai segala kerinduan dan cintaku, bu?
Jika barisan doa tak membuatmu kembali padaku
Harus bagaimana kutulis segala sesal dan rindu
Disebabkan belum purna baktiku padamu

Bu ... semoga damai dan bahagia memelukmu
Dengan kebahagiaan penuh seluruh
Biarkan selalu kuuntai butir-butir kangenku
Dan kulambungkan ke petala langit untukmu utuh

*Ndleming rindu untuk ibu. Karmen, 22 Desember 2012

Wednesday, August 29, 2012

Mengemas Bayangmu


Pada gerimis hati kau datang
Bawakan segumpal harap di jelang petang
Katamu untuk melingkis biru
Dari hati yang beku

Di siang benderang kau menghilang
Tanpa berita apalagi surat terlayang
Sementara buhul hati belum lagi terurai
Masih serupa benang berkelindan masai

Sudah kubilang padamu dulu
Jangan sentuh apapun meski kau mau
Karena ia fragile serupa kaca
Mudah berderai dan pecah

Pergilah ... jika itu maumu sudah
Jangan lagi peduli pada gemeretak patah
Biarkan saja, ia kan kembali lesat dan tegak
Bersama panah waktu yang tak henti berdetak

Pergilah ... jangan lagi peduli pada pendar jingga kala
Ia kan teduh  dalam pelukan malam
Biarkan saja ia dirangkul sang candra
Untuk melesapkan luka pada pusaran kelam

Jangan tolehkan lagi pandangmu
Karena biru telah kembali beku
Tak peduli pada tatap sayumu
Yang ada cuma kelu memilin kalbu

*TMA, 28 Agustus 2012

Thursday, May 17, 2012

Segenggam Terima kasih

Aku menujumu
Meraih segenggam ilmu
Lewat kata nan padu
Meski berjarak serat mayaku

Kau tak cuma sebaris nama
Tapi menapak dengan logika
Pada setiap untaian kata
Yang lahir dari bening jiwa

Syukur kulantun
Pada untain pujian santun
Terima kasih telah menuntun
Pada ilmu tak surut meski berbilang kurun

Aku bercermin pada kisahmu
Menuju Cahaya di atas cahaya
Tentang cintamu pada Rabbku
Yang kini kau cintai sebagai Rabbmu, Rabb kita

Perjalanan yang tak mudah
Adalah cermin jiwa indah
Yang bersemayam pada tulus jiwa
Meraih hidayah semata

Terima kasih padamu
Yang sudi menjadi sahabatku
Meski hanya lewat lantun kata
Di antarai fb dan blog kita

*Puisi kamar buat seorang sahabat, mas Insan Robbani. Muallaf yang sungguh luar biasa.
Srikana, 17 Mei 2012, pukul 23.25

Tuesday, May 15, 2012

Kepala Atau Pemimpin?

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kepala berarti juga pemimpin. Tapi dalam kenyataan sehari-sehari seorang kepala belum tentu seorang pemimpin. Mengapa? karena untuk menjadi seorang pemimpin dibutuhkan kecakapan yang tidak cuma sebatas dia bisa menjadi seorang kepala. 

Makin tinggi seorang pemimpin, seharusnya makin tinggi hakekat hidupnya, bukan duniawinya. Ketika seseorang berada dalam posisi memimpin sebuah negara, sebuah yayasan, sebuah organisasi, atau sebuah rumah tangga, seharusnya seseorang lebih berfikir tentang hakekat kepemimpinan itu sendiri bukan cuma sekedar sebuah posisi duniawi.

Menggali hakekat kepemimpinan dalam budaya Jawa, sesungguhnya menjadi seorang pemimpin adalah sebuah jalan untuk mukti bukan sekedar untuk mencapai mulyo. Mukti adalah sebuah jalan pengabdian bukan sekedar mencapai kemulyaan. Menjadi seorang pemimpin harus berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Sebuah kebenaran memang pahit untuk disampaikan dan besar resiko yang akan dihadapi. Tapi bagaimanapun kebenaran harus disuarakan oleh seorang pemimpin, sekalipun dia harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak menyukainya dalam kebenaran.

Seorang pemimpin juga harus memiliki rasa ikhlas yang harus terbangun dari hari ke hari dan terus meninggi seiring jalan pengabdian yang dipilihnya. Keikhlasan akan membuat seorang pemimpin selalu mawas diri demi kepentingan bersama. Rasa ikhlas tidak bisa dijalankan sendiri, seorang pemimpin harus memiliki orang-orang kepercayaan di sekelilingnya yang akan dengan ikhlas juga memberikan masukan, saran bahkan kritik yang membangun demi kebaikan yang harus dijaga bersama.

Adakalanya seorang pemimpin tidak harus berada di depan. Bisa jadi ia menyisih ke pinggir lapangan, bahkan surut sementara ke belakang untuk memastikan bahwa armada yang dipimpinnya baik-baik saja. Pada saat sang pemimpin berada di pinggir atau di belakang , ia akan lebih mudah melihat ke seluruh ruang yang dipimpinnya. Ia akan mendengar banyak hal dari orang-orang di luar wilayah kepemimpinannya sebagai sebuah masukan yang berarti untuk memperbaiki sikap dan mengambil keputusan di saat yang tepat demi keselamatan armada yang dipimpinnya. Meski di belakang, seorang pemimpin bisa mengarahkan jalannya roda organisasi dengan dukungan yang kuat dari orang-orang yang dipercayanya memegang kemudi.

Di saat lain, seorang pemimpin harus mampu menjadi koco pengilon atau cermin bagi siapapun yang berada dalam pengayomannya. Namun demikian, seorang pemimpin tetaplah manusia yang bisa salah. Tapi hakekat kepemimpinan harus dipahami bahwa kesalahan bisa diminimalisir sekecil mungkin. Ini bagian yang terberat bagi seorang pemimpin. Ia harus pandai menjaga sikap, perilaku, ucapan dan perintah. Karena ia menjadi cermin bagi sekelilingnya. Managemen emosi dan mental harus benar-benar dikuasainya agar bisa tetap memberikan kenyamanan bagi yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin yang ikhlas, adalah pemimpin yang tidak cuma merasa jadi kepala, melainkan melu handarbeni, merasa memiliki terhadap apa yang dipimpinnya. Ibarat seorang ibu memiliki anaknya, seorang ayah memiliki keluarganya. Ibarat seorang kapten terhadap kapal dan seluruh isinya. maka apapun akan dilakukannya untuk menjaga keselamatan, kebaikan dan kebersamaan di dalamnya. Apapun, selagi dalam jalur kebaikan yang dibenarkan. Itu sebabnya kadang sebagai seorang kapten kapal, ia harus tegas meski berat hati untuk melemparkan satu-dua penumpang yang rentan membahayakan banyak orang, ke laut, demi menyelamatkan ratusan orang lain dalam kapal yang dikemudinya.

Bagaimanapun menjadi seorang pemimpin adalah pengemban amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di mahkamah paling adil dengan Allah sebagai seadil-adilnya hakim. Seorang pemimpin adalah penyuara kebenaran. Meski kadang kebenaran tidak perlu digembar gemborkan. Adakalanya ia harus bersikap tuli terhadap protes yang meneriaki kewarasan dan keadilan dari segelintir orang yang nyata adalah virus yang memang harus diberangus. Seorang pemimpin yang sehat, tidak akan berteriak,"saya waras, saya sehat." Karena diam kadang diperlukan untuk membungkam sebuah kenyinyiran yang disuarakan atas nama keangkuhan jiwa.

Jika Abu Bakar Shiddiq, RA dikenal sebagai pemimpin yang lemah lembut, sederhana dan welas asih, maka Umar Bin Khattab selain memiliki rasa empati yang luar biasa terhadap rakyatnya, dia dikenal tegas bersikap atas sebuah kebenaran dan mematahkan keonaran. Aku cuma manusia biasa, tapi ketika amanah kepemimpinan diletakkan dalam genggam tanganku, maka semoga aku bisa bersikap serupa Abu Bakar Shiddiq dan Umar Bin Khattab dengan tetap meengacu pada prinsip agung kepemimpinan dalam budaya Jawa yang turun temurun diajarkan padaku.  Semata karena mengacu pada sebuah hadits,"setiap orang adalah pemimpin yang akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."

*Sebuah nasihat buat diri pribadi. Renungan dalam masa hibernasi. Srikana, 16 Mei 2012

Tuesday, May 8, 2012

Mengaksara Mu

Tawamu riang
Susupkan kembang
Harumkan jiwa
Legakan rasa

Kata-katamu bunga
Gelorakan lirih
Pijarkan tawa
Susutkan perih

Warnamu utuh
Melukis cerita
Mengusir keluh
Terpadu purna

Duhai ... kau serupa dewa
Melangkah gembira
Bertitian pendar jingga
Merengkuh sukma

Aku terperangah
Takjub
Serupa anugerah
Termaktub

*Puisi kamar, Srikana, 5 Mei 2012. Ungkap kekagumanku pada seorang sahabat jiwa Pak Teguh Setiawan Wibowo.

Friday, May 4, 2012

Ode Rindu

Biar kupeluk malam
Khabarkan sunyi
Pada sepotong sepi
Di gigil rindu

Biar kupagut hatimu
Lewat titian angin
Hembuskan dingin
Berkawan bisu

Biar saja segala terbang
Bersayap resah
Dihembus pilu
Berkarib halimun

Biar kunanti saja
Reuni sunyi
Pada tanah merah
Bertabur melati

Karena semua
telah kau bawa
Rindu
Cinta
Dan Kasih
Ke abadimu
Tak terjangkau mata

*Saat Mendadak Rindu pada mereka tercinta, Srikana, 5Mei 2012, dinihari pukul 01.00

Thursday, May 3, 2012

Saat Keluh Di Pinggir Bibir

 Saat keluh di pinggir bibir
Nyaris terloncat tanpa fikir
Seraut wajah selalu mampir
Membuat kata perlahan melipir

Katamu, simpanlah duka, bagikan tawa
Tak cuma sebuah retorika tak bermakna
Melainkan terwujud secara nyata
Pada dirimu, meski kau bukan dewa



Saat keluh di pingir bibir
Aku cuma memanggilmu dalam sebuah kata, kakak ...
Lalu perlahan surut menyingkir
Karena kutahu, bebanmu jauh lebih membengkak

Saat keluh di pinggir bibir
Kupasang wajahmu di ruang mata
Menjadi rambu untuk berakhir
Menarik keluh dan memamahnya
Dalam sepi, dalam gulita tanpa nyala

Saat keluh di pinggir bibir
Kutahu, bukan cuma milikku seorang
Karenanya kukemas ia dan kuleburkan
Agar meragi ruhani menjadi sebuah kekuatan
Untuk melangkah tegap di atas dilatasi duka dan airmata

*Kudedikasikan buat seorang kakak yang kata-katanya selalu menguatkan jiwa kala lemah. Srikana, 3 April 2012

Monday, March 26, 2012

Sebuah Pertanda

Apakah kau wajah rindu di kaki senja
Yang memecah ombak serupa buih-buih doa
Atau kah kau pemilik kunci gerbang asmaralaya
Yang harus kubuka dengan kalam wisesa

Tanganku kuat merentang gendewa
Tapi apa guna tanpa mata panah
Haruskah kusimpan kembali pada kotak pusaka
Berteman segala tanya dan titian resah

Ingin kulempar resah ke langit wingit
Terhisap malam berlampu bulan selirit
Berharap surya kembali terbit
Mematahkan gundah pada jiwa terbelit


Tapi pusaran badai tak biarkanku melaras jiwa
Dibuatnya aku melanglang bimbang hingga menggetarkan cakrawala
Kau kah itu Sang Brahma penggenggam Pawaka
Melecut ancala sunyi berwajah seribu tanya

Kuharap kau tak cuma bersukma Brahma
Bertahta pada ketinggian tak tergapai mata
Di wajahmu menitis rupa Arjuna
Semoga kau setegas Yudistira, seberani Rama
Membimbing Srikandi merentang gendewa
Menjemput Shinta di lahan Rahwana
Cukup dengan satu pertanda
Jika sejatinya kuncimu adalah cinta


Sunday, March 25, 2012

A Bunch Of Thanks

Melemas raga di atas tumpukan kata terkupas satu-satu
Menapaki jejak dari Ay Ye ke Huo Ma Ren, Gan Jiang Ciang,
Xiao Hui Xiang, Sha Ren, Su Mu hingga Di Qien Cao.
Letih mengaduk emosi jiwa, seketika padam 
Tiap kali kau sodorkan bertumpuk kata dalam serat-serat herba 

Entah tulang rusuk siapa yang Dia sematkan pada jiwaku.
Menjadikan kata terhenti pada alun pikir tergugu
Jadi kepada siapa kubisikkan cinta tak bermata? 
Pada angin kah? Pada rumputkah?   
Atau pada kerjap binar mata yang menggemintang dalam gulita tanpa nyala.


Kau nyala dalam semangatku
Mata kedua pada kantuk yang bergelayut
Pancuran ilmu tak berbatas pintu
Sahabat berbincang pada letih memagut

Tuhan mengirimmu untuk larut dalam setiap kata menjadi ragi 
Dalam segumpal semangat yang kerap tak mengembang
Terima kasih telah ada di saat aku butuh penopang pena
Terima kasih telah mengisi lelahku dengan semangat terbaru

Friday, February 3, 2012

Bagimu Perempuanku



Pada gerai rambutmu ada kehangatan cinta
Di gelombang detak jantungmu ada kelembutan kasih
Pada hangat rahimmu ada awal sebuah generasi




Duhai perempuanku ….
Kaulah ibu bagi jutaan umat di bumi
Kau serupa Fatimah yang menjaga kesucian
Kau lah Shinta bagi para Rama perkasa
Kau Drupadi, penjaga kehormatan setiap jiwa

Duhai perempuanku ….
Begitu berharga nyawamu bagi banyak jiwa
Jangan. jangan serahkan payudaramu
Jangan korbankan rahimmu
Cuma untuk sebuah kata, kanker ….

(Srikana, 27 Januari 2012)

Wednesday, February 1, 2012

Aku Tak Butuh

Aku tak butuh cintamu
Jika karena itu harus kehilangan kehangatan
Sapa, canda dan diskusi-diskusi ringan
Yang selalu saja menyegarkan

Aku tak butuh sekeping hatimu
Jika itu hanya akan menderaikan denting sunyi
Alunan sepi dan nada sumbang sebuah persahabatan

Aku tak butuh menjadi sisian hatimu
Jika tak lagi bisa mereguk ilmu,
mendulang cerita dan pengalaman hidup
Dari jejak-jejak perjalananmu

Sungguh aku tak butuh menjadi sesuatu bagimu
Karena aku bisa meraih sesuatu di langit hatiku
Pada tebaran kerlip bintang berbentuk hati
Dari banyak cinta yang tersemat
Pada sepiku yang tak sunyi

Sekali lagi kukatakan,
Aku tak butuh menjadi kekasihmu
Jika karena itu lidah menjadi kelu
Kata menjadi beku

Aku cukup bahagia jika bisa menjadi sahabatmu
Hari ini, esok dan selamanya.
Karena hati ini memiliki banyak ruang
Lapang menampung cerita cinta
Dalam dimensi yang berbeda
Atas nama persahabatan
Yang saling menumbuhkan jiwa

*Buat seseorang yang tak lagi membalas sms-sms ku

Sekepal Semangat Pagi


Di ujung sana, secercah cahaya menanti
Jangan lagi manjakan bimbang hati
Bakar saja perahu kemarin yang patah layar
Biarkan segalanya terang dan berbinar
Menjadikan seulas senyum kian lebar
Pada hamparan syukur tak berbatas
Pada lantunan puji melambung jelas

Hari ini, pada kemasan rasa berbilang indah
Ribuan harap dengan jemari kutatah
Harumnya kukuarkan lewat angin fajar
Percik cahayanya kupantulkan melalui kisi jendela hati
Semoga tak layu tersapu bayu
Tak kuyu pada terpa hujan membadai
Tak getas pada sapuan panas
Kokoh pada jemari yang saling berkait dan berkelindan
Atas nama sebuah keikhlasan.

*Ndleming pagi buat para sahabat sukarelawan sastra

Sunday, January 29, 2012

Info Volunteer

Dibutuhkan 40 orang yang mau jadi sukarelawan aktif sebagai panitia "“FESTIVAL PEMBACAAN PUISI TANPA HENTI SEHARI" Pada tanggal 11 Maret 2012, dalam rangka Kampanye Pencegahan Kanker Payudara dan Kanker Rahim sekaligus momentum bangkitnya Sastra Surabaya pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya.

Tekhnical meeting pertama bagi para sukarelawan, Rabu 1 Februari 2012 pukul 18.00 di Teras Sastra Bidadari. Jalan Trunojoyo No.63 Surabaya. Cp: dokter Ananto 0818302761. Bu Titie Surya 085732033498

Friday, January 27, 2012

Pada Sebuah Rindu

Selarut ini aku masih terjaga
Berharap bilah pintu diketuk
Lalu kau mendekat dengan setangkup rindu
Mendaratkan sekecup cium di kedua pipiku
Lalu berbisik, "aku merinduimu, bunda."

Selarut ini aku masih menunggu
Bayangmu hadir dalam temaram lampu kamar
Lalu menyurukkan kepala mungil berambut ikal
Hanyut dalam irama degup jantungku
Kemudian lembut membisikku,"aku sayang padamu, bunda."

Selarut ini pula kututup jendela kamar
Penahan deru angin dan terjangan tetes hujan
Berharap rinduku terbang menjumpaimu
Meski cuma sebentar dalam mimpiku nanti malam

*Ndleming rindu pada malaikat kecilku, 27 Januari 2012

Saturday, January 14, 2012

Dlemingan Buatmu

Hai, ajariku menarikan pena pada lembaran hati milikmu.
Atau beri aku pertanda jika kunci itu memang kau genggam.

Tapi jika kau enggan,
Cukuplah selalu sediakan sepasang telingamu
buat mendengarkan segala kicauku.
Dan layar hapemu
Buat menerima dan membalas semua sms ku

Karena aku akan menikmati
setiap senyum dan tawamu
Juga barisan sms darimu
Dengan kilau mata yang menggemintang.

*Ndleming saat gerimis, surabaya 14012012

Sunday, November 6, 2011

Pada Sebuah Sudut Pho 24

Berbilang bulan merinduimu hingga angin selalu saja bertanya, ke mana kukirimkan rindumu padanya?
Berkali purnama kutitipkan salam untukmu, hingga ia bertanya ke mana kuhamparkan kehangatan salam kasihmu pada langkah tak bertemu jejak.
Beratus tanya kusisipkan di arakan mega-mega, di mana awan menggulung dan menyembunyikan sejuta kisahmu?

Aku tak lelah menantimu, hingga sapamu mengusik relung telingaku sore itu.
Mencipta janji sebuah pertemuan siang menjelang sore di Blok M Plaza
Lalu ketika waktu menautkan kita pada sore kemaren. Ingin kupeluk erat dirimu dalam temaram cahaya di sudut resto Pho 24 yang kau pilih untuk membagikan sejuta ceritamu padaku.

Aku terperangah, marah, kecewa, geram dan entah apalagi nama rasaku yang kurasa pepat menyesakkan dada kala perlahan semuanya mengalir lewat tuturmu.
Bertutur tentang kepiluan yang merejam hari-harimu
Berkisah tentang cinta yang patah dan meninggalkan luka di sanubarimu
Bercerita tentang harapan masa depan yang perlahan kau bangun di atas puing reruntuhan yang satu persatu kau rekatkan dalam jalinan asa dan untaian doa

Aku ingin memelukmu dalam pilu yang kelu
Aku ingin mengalirkan sejumput semangat meski telah kau jemput sendiri pada tulisan usangku di sebuah halaman berdebu yang bahkan tak lagi kuingat
Aku ingin menangis bersama segala aliran resahmu yang kau percayakan pada genggam tanganku

Maafkan aku, jika kufikir semula dirimu bertahta di atas menara gading
Maafkan aku, jika semula kufikir kau bahagia dengan dia yang mencintaimu dan kau cintai.
Maafkan aku, jika aku berfikir kau bahagia di ujung sana

Tapi kau benar, tak perlu meratapinya lebih lama. saatnya berdiri di atas segala kemampuan diri.Dan aku bangga menemukanmu yang lebih dewasa dalam tutur dan kata. Lebih matang dalam bersikap dan memandang setiap masalah.

Aku cuma ingin kamu tahu, bahwa kamu tak pernah sendiri
Aku selalu di sini menantimu, menanti setiap jalinan kisahmu
Seperti bintang, kutahu kau ada meski entah di mana
Maka seperti bintang juga, aku akan selalu ada buatmu
Meski akhirnya jika cuma ada satu bintang, Berbagi dan bersisian
Maka itu adalah kau dan aku, dalam jalinan cerita tak bersekat

Pagi ini kutuliskan sebagian rasa yang kuendapkan tadi malam
Berharap dalam doa pagi untuk semua kebahagiaanmu
Bahagia yang tak selayaknya sebatas kelimpahan materi
Tapi bahagia hakiki di atas segala cinta pada yang Maha Mencinta
Dan kuyakin, kamu akan kembali pada barisan jalan kenangan yang semalam kita susuri bersama sepanjang Blok M ke Pondok Indah lewat Bintaro hingga Pondok Aren.

Dengan segala ketegaran dan kemampuan yang kau punya. Aku percaya suatu hari kau akan menemukan kepik yang baru. Yang lebih baik dan lebih merah, seperti merahnya bara semangat di hatimu. Peluk sayang dan cintaku untukmu kutitipkan pada malaikat penjaga hari.

*Buat seorang sahabat. Terima kasih buat mempercayaiku menyimpan sejuta ceritamu
Pondok Aren, 7 November 2011

Tuesday, October 18, 2011

Untuk Kau

Hai, kau yang di sana
Pinjami aku tinta tanpa airmata
Agar tak salah kutulis cerita
Demi damai jiwa yang mahal harganya

Hai, kau yang kurindu
Bisakah tak senandungkan pilu
Merambati tubuh jadi beku
Padahal kucuma mau cumbumu

Hai, kau... kembalikan
Belahan hati yang kau simpan
Kirimkan lewat angin atau impian
kutunggu meski berbilang ingatan

Tapi, ah kau... pandai membujuk
Membelai hati dan merajuk
Memaksaku mengangguk
Dicintamu meski tak bertepuk

*Ndleming siang, Surabaya, 18 Oktober 2011

Surat Cinta Usai Bercinta

Dari Mars Untuk Venus :
Kusisipkan di balik selimut, dekat di dadamu halus

Aku melihat bulan di wajahmu
Mengecap madu di bibirmu
Merasai sejuk embun di senyummu
Merabai lapisan sutra di kulitmu
Merasakan panasnya bara dalam pelukmu
Membuatku lumer seperti ice cream di kulummu

Aku lah penikmatmu, perempuan rembulan
Akulah sang bocah, menyuruk dalam lembut belaian
Akulah ice cream yang mencair dalam kecapan
Akulah bara yang berkobar membakar gairah di peraduan
Akulah malaikat yang merengkuhmu dalam dekapan

Ps. I love You, Venusku


Dari Venus Untuk Mars :
Kusumputkan pada masai selimutmu, saat tertidur pulas

Aku dibelai angin telaga saat di sisimu
Meringkuk bak anak kucing dalam dekapmu
Terlindungi dalam genggam tanganmu
Dirangkul mesra sepenuh cintamu

Kecupmu membuatku merangkai kata menjadi frasa
Degup jantungku berlari dalam gelombang cinta
Baramu membakarku dalam lelah desah yang purna
Menyelimuti hati dengan tubuhmu beraroma

Ps : Love you more, Mars of mine

*Ndleming sore ingat suatu masa. Surabaya, 15 oktober 2011

Saturday, July 23, 2011

Ode Sang Bintang


Seperti menganyam sembilu
Menakir perih dengan pilu
Berharap tetesan darah membeku
Agar tak pedih sudut-sudut kalbu

Bintangku,
Kemarilah, terangi lirih laraku
Hapuslah bulir air di pipiku
Meski cuma dengan seulas senyum mu
Yang mampir dalam tidurku

Aku rindu kamu, Bintang
Saat pedih perlahan datang
Memelukku erat meski tak kusenang
Adakah langutku kau rasa dalam semelang

Bintang,
Peluk aku, meski cuma sekejap pandang
Dari ketinggian tahtamu yang tenang
Sisipkan damai dalam rindu panjang
Menanti jumpamu di mahsyar seluas-luasnya padang

*Episode sunyi, rindu dalam galau yang beku
Surabaya, 23 Juli 2011 pukul 23.33

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting