Showing posts with label Persahabatan. Show all posts
Showing posts with label Persahabatan. Show all posts

Wednesday, August 12, 2015

Menautkan Jejak Eksistensi

Pernah dengar yang namanya SPG? Sales Promotion Girl? Oooh noo! Terus apa? Sejenis makanan baru yang enak bingiits? Yeeey bukan juga! SPG adalah Sekolah Pendidikan Guru. Emang ada? Ada dooong. Sekolah ini ngetop pada jamannya, dan rata-rata guru senior yang masih mengajar sekarang adalah tunas bangsa yang lahir dari rahim SPG. 

Saya adalah salah satu lulusan SPG Negeri 6 Jakarta yang pernah eksis. Kalaupun sekarang sekolah ini dilikuidasi, bukan semata karena peminatnya berkurang. Melainkan pemerintah, khususnya menteri pendidikan pada tahun 1991, memutuskan guru harus lulusan setingkat diploma. Maka dibentuklah yang namanya PGSD alias Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang menjadi bagian dari IKIP pada saat itu. Jadi jenjang pendidikan untuk menjadi guru lebih lama. Harus tamat SMA dulu. lalu masuk PGSD, baru bisa jadi guru. Sementara di jaman saya sekolah, lulus SMP bisa langsung masuk SPG dan siap jadi guru SD. 

Apakah itu berarti lulusan SPG tidak berkualitas? Hohoho siapa bilaang! Para siswa lulusan SPG kenyang ditempa dengan pendidikan yang ketat, target ketat, praktek mengajar ketat dan berkesinambungan sejak kelas 1. Tidak ada yang namanya sekolah bisa berleha-leha seperti anak sekolah jaman sekarang. Sedikit kesempatan buat kami jadi berandal sekolah. Apalagi yang namanya tawuran, siswa-siswi SPG track recordnya bersih 

Jadi masa-masa saya di SPG stress doong dengan segala peraturan yang ketat? Iiih nggak laah yaauw. Kami menikmati masa remaja sebagai murid, sekaligus menikmati masa-masa "dimatangkan" untuk menjadi guru. Terlalu banyak kenangan indah yang kalau dituliskan bisa jadi novel berseri looh. 

SPG pernah ada. Kami pernah menikmati masa-masa itu. Kenangan-kenangan itulah yang menyatukan keinginan kami untuk temu kangen. Jadilah tahun ini kami melakukan halal bihalal khusus alumni SPG Negeri 6 angkatan 88, di rumah Nining, Kodam Bintaro. Waah sudah pada tua doong! Yaiyalah! Tapi kami menolak tua. Buat kami tua itu kalau sudah tidak lagi bisa berdaya dan berkarya. 

Saya dan teman-teman masih asyik berkarya dengan segala daya dan pastinya karena itu kami bisa bergaya, ya kaan? :) Tidak semua lulusan SPG pada akhirnya menekuni profesi sebagai guru di sekolah. Tapi mereka tetaplah guru di universitas kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Saya sendiri sudah tidak lagi mengajar secara formal sejak tahun 2005. Beberapa teman mengambil jalur di dunia industri, perkantoran, bisnis, dan banyak lagi bidang kehidupan yang diisi oleh para alumni SPG ini. 

Namanya juga alumni ya, jadi kalau lagi halal bihalal begini isinya pasti saling membully tentang kenakalan atau kejahilan kami semasa sekolah. Tak ketinggal cerita-cerita kenangan yang bisa bikin ketawa hahahaha meskipun pada saat kejadian dulu pastinya ada yang menangis. 

Para anggota tim volly sekolah ; Nining, Lilis, dan Ninuk asyik bernostalgia tentang dunia vollynya. Nina Si Ibu Lurah masih seheboh dulu dengan ceritanya tentang pembalut yang terbalik, meski tampangnya innocent, sampai-sampai Ibu Rahmiati tidak percaya kalau ia yang melempar kulit rambutan dan nyangkut di konde si ibu hihihi. Tuji? Aaah ya gadis berkepang 2 di sekolah ini masih cempreeeng, hebooh dan tetap mengucap i dengan e, alih-alih seribu jadi serebu, Cipinang jadi Cepinang, aiih lucunyaaa.

Gusti si mamah Dedeh, masih usil dengan kalimat-kalimatnya yang kalau tidak cerdas menanggapi, membuat kita terjebak. "Ndi, rumahnya masuk mobil nggak?"
Naah coba apa makna kalimatnya tersebut hayooo :)
Sementara Paryati, Fairny dan Halimah masih sekalem dulu. Eeeh tapi kadang-kadang Fairny bawel juga sih xixixi. 

Lalu Gobind Jay alias Jahidi si kurus krempeng yang menjelma jadi wakil kepala sekolah yang berkarisma, kalau ngomong masih pakai mikir dulu. Duuh kebanyakan mikir, Pak. Ketinggalan pesawat loooh, eeh nggak ding. Bapak satu ini baru pulang umroh yang tentunya naik pesawat. 

Yang lebih tidak terduga, H. Andy yang di masa sekolah sepertinya melambai xixixi ... sorry ya Jiii. Ternyata cukup tegas menjadi ketua ikatan alumni SPG Negeri 6 angkatan 88. Andy yang sukses jadi pebisnis, begitu peduli akan keberlangsungan silaturahmi para alumni ini. Bisa dibilang, Andy lah motor penggerak reuni kami.


Enak dong ya bisa halbil sambil reunian. Tentu enak. Apalagi didukung pasangan hidup yang setia dan mau mengantar serta menunggui kami berhaha hihi ria. Para bapak-bapak itu asyik ngobrol soal batu akik, sambil ngopi dan ngrumpiin para istrinya pastinya. 


Sayangnya reuni ini belum lengkap. Doli, Upik, Mung Ha, Nurjanah, Uthe, Nitis, Subur, Dwi Restu, Eem, dan masih banyak lagi yang tidak bisa hadir dengan alasan masing-masing. Semoga mereka baik-baik saja dan pastinya tetap berkarya di bidangnya masing-masing.

SPG boleh tiada secara wujud dan eksistensi. Tapi obor tetap menyala di dada kami para alumni yang mengemban amanah untuk anak negeri.  Silaturahmi ini adalah upaya agar tidak kepaten obor sesama alumni. Alangkah bahagianya jika sampai anak cucu kita saling mengenal karena para orangtua mereka terjalin dalam persahabatan yang solid. 

Semoga reuni pertiga bulanan di rumah Nina Dahlan, di bulan Nopember 2015 dihadiri oleh lebih banyak alumni. Ayoo hadir doong di rumah Nina. Supaya kalian terus jadi inspirasi tulisan saya hehehe. O ya Titie akan selalu ada di setiap reuni sebagai pengamat untuk menjadikan kalian sebagai bahan tulisanku hohoho .... 

*Kudedikasikan tulisan ini buat teman-teman Alumni SPG Negeri 6 angkatan 1988
*Meruya, 12 Agustus 2015

Jiiiangkriiik! Ini Bukan Review

Kamu pernah merasa gundah? Resah? marah? Kecewa? Atau aneka perasaan lain yang mewakili kata bad mood. Kalau iya, saranku ; segera pergi ke toko buku dan temukan 2 buku yang fotonya mejeng di postingan ini.

Kedua buku itu benar-benar jiiiangkriiik! Bisa menguras airmataku, menohok, dan melemparkanku pada level kesadaran yang kembali menggerakan jemariku di atas laptop. Kok bisa ya buku-buku membuatku serasa ditampol dengan kekuatan gajah yang melindas dan meraung-raung terus isinya di kepala? 

Kuberitahu satu hal, Saya tipe orang yang baru bisa nyadar lewat membaca. Sebelum sebuah lampu pijar berkedip-kedip di kepala dan menimbulkan bunyi beep-beep-beep beep maka saya akan terus mencari bahan bacaan yang mampu menyurutkan emosi  ke level sadar sebagai manusia yang lemah dan hanya seorang hamba Allah yang tak bisa apa-apa tanpa seijinNya.

Nggak Usah Kebanyakan Teori Deh...! Sukses membuat mata saya berpijar dan menyadari bahwa selama ini saya kebanyakan mikir ini dan itu hingga kadang tulisan-tulisan saya tidak selesai. Saya sering tidak berani ambil risiko dan selalu berdebat dengan diri sendiri setiap kali mau melakukan apapun. Bab demi bab dalam buku ini membuat saya berani melepaskan teori-teori yang selama ini mengungkung hati dan pikiran. 

Yakin Selamanya Mau Di Pojokan? Duuuh Monica Anggeeeeen! Dari mana sih kamu dapat banyak kalimat-kalimat ajaib dalam buku ini yang membuat saya menangis tersungkur di atas sajadah? Uuuh buku ini memang ajiiib! Lebih memotivasi daripada motivator manapun. Lebih mencerahkan daripada banyak nasehat yang belakangan ini saya terima dalam masa-masa saya menangisi kondisi yang tidak menyenangkan. 

Aaah pokoknya jiiiangkriiik! Ini bukan review. Cuma curhat seorang Titie saat membaca 2 buku ajaib ini. Kedua buku ini mengingatkan saya pada masa di mana kondisi yang nyaris serupa pernah terjadi.

Di tahun 1989, terjadi pergolakan hati antara pakai jilbab atau tidak. Kalau pakai jilbab, saya tidak bisa mejeng, hura-hura, jail, ngisengin orang, hiking, dan aneka kegiatan lain yang pastinya terbatas saat saya berjilbab. Keraguan saya dibanting telak oleh sebuah buku tentang 100 Tanya Jawab Tentang Jilbab yang diberikan oleh kakak tersayang, Mbak Heti Afiatushalihah. Maka bermetamorfosalah saya menjadi muslimah berjilbab setelah khatam membaca buku itu.

Lalu ketika satu-satunya anak saya meninggal di tahun 2008, sebuah buku yang saya lupa judulnya tapi ingat persis isinya, mengentak rasa keikhlasan  yang nyaris merosot di mata kaki. Bahwa bagaimanapun setiap yang hidup pasti akan mati, Buku itu menguatkan saya untuk menjalani hari-hari seorang diri.

Kini terulang lagi. Buku-buku karya Monica Anggen itu, membuat saya nangis termehek-mehek membuat sebuah pengakuan di atas sajadah bahwa selama ini saya belum memaksimalkan seluruh potensi yang Allah anugerahkan. Terlalu banyak berteori, sering tidak sabaran dan ingin segera memetik hasil, mati ide (padahal sumur ide ada di mana-mana), dan kebanyakan berpikir.

Selesai termehek-mehek, sebuah kata melintas, "Jiiiangkriiik!"

Iiih penulis kok bahasanya pake jiiangkrik. Yaaah kan saya pernah menjejakkan kaki di Surabaya. Kata jangkrik bukan makian. Sering juga dipakai untuk menunjukan kekaguman dan pujian atas sesuatu yang menarik hati. Masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya, kesannya memang kasar ya dalam berbahasa. Tapi itulah bahasa kejujuran hati.

Jadi buat kamu yang sedang merasa terpuruk dan dikurung bad mood, kalau sampai tidak beli kedua buku ini, sungguh kalian akan menyesal. Karya Monica Anggen yang seperti "anak kembar" ini memang layak masuk kategori best seller. Karena memang jiiiangkriiik! hehehe. 

Last but not the least, sungguh benar Allah dengan segala firmannya. "Iqra!" Hanya dengan membaca; pemahaman, kesadaran, pengetahuan, logika, dan rasa dapat dipuaskan. Maka bacalah apapun yang bermanfaat bagi kehidupanmu.

*Meruya, 12 Agustus 2015




Friday, April 10, 2015

Sukses Berberkah Karena Sakit Hati

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah bertanya padaku, "Apa obatnya patah hati, Mbak. Kekasihku selingkuh?" 

Jawabku saat itu adalah, "Jatuh cinta lagi. Lalu patah hati lagi. Kemudian jatuh cinta lagi berkali-kali, Kemudian rasakan bedanya patah hati kedua, ketiga, dan kesekian kalinya." 

Setelahnya, seorang teman yang lain berkata, "Aku sakit hati. Usahaku hancur. Ditikam teman dekatku sendiri. Piye carane mbalas sakit hatiku?"

Kujawab pertanyaannya, "Balaslah dengan menjadi lebih sukses dari kemaren."

Di kesempatan lain, seorang teman yang baru saja terkena musibah kematian suami dan anaknya curhat, "Kenapa Tuhan mengambil semua orang yang kucintai? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?"

Kupeluk dan kubisiki dia, "Karena Tuhan memberimu kesempatan untuk mencintai banyak orang yang lain. Karena Tuhan tahu, kamu punya sejuta cinta untuk dibagikan sebagai obat luka hatimu."

Sakit hati, patah hati, kehilangan, bahkan merasa hidup sebagai beban, adalah bentuk-bentuk emosi negatif yang bisa memancing stres berkepanjangan. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa semua emosi negatif itu bisa diolah menjadi stres yang positif? Stres negatif (distress) bisa diubah menjadi stres positif (Eustress). Bagaimana? Mungkinkah? Tentu sangat mungkiiin ....

Saat seseorang stress biasanya ia akan mengalami ketertekanan yang membuat emosinya meluap-luap dan mempengaruhi seluruh organ tubuh dan kinerja tubuhnya. Saat mengalami hal seperti ini, nikmatilah. Beri ruang pada hati dan jiwa untuk menikmati rasa sakitnya. Lalu menangislah. Karena menangis dapat menurunkan tekanan darah dan unsur mangan dalam tubuh. Sehingga suasana hati dan mood pun akan menjadi lebih baik. Dengan demikian akan melepaskan stres yang menekan jiwa. 

Pada saat kondisi jiwa dan tubuh mulai tenang, segeralah berwudhu lalu istighfar. Kemudian menulislah. Karena menulis dapat menjadi sarana mengkatarsiskan emosi. Tulis apapun yang melintas dalam pikiran Anda saat itu. Endapkan tulisan itu. Lalu baca kembali di suasana hati yang lain. Rasakan perbedaan emosi saat membaca tulisan tersebut. Bisa jadi kita tertawa saat membaca tulisan tersebut di lain kesempatan.

Setelah menulis, keluarlah. Pergilah menemui teman yang bisa membawa mood kembali bagus. Masuki komunitas yang bermanfaat. Bisa komunitas menulis, seni, merajut, melukis, pecinta batu akik, atau apapun. Serap energi positif yang ada dalam kebersamaan dengan anggota kemunitas tersebut. 

Sakit hati bukanlah harga mati untuk bunuh diri. Patah hati, luka jiwa, dan aneka kata yang mewakili kegagalan, kehilangan, bete, dan sebagainya, bisa menjadi peluru yang melesat menuju kesuksesan. Sungguh banyak cerita kesuksesan yang berangkat dari kegagalan, patah hati, sakit hati, dan lain-lain. 

Sebut saja Bung Karno, yang mampu menjadikan Indonesia merdeka dan berdaulat karena sakit hati atas segala penjajahan. Meski harus mendekam di balik penjara, diasingkan, dan berkali-kali hendak dibunuh. Tapi rasa sakit hati sebagai anak jajahan melejitkan dirinya menjadi Sang Proklamator. 
Lalu Thomas Alhpa Edison yang mampu menemukan lampu pijar sebagai cikal bakal kelistrikan saat ini, justru setelah ia berkali-kali mengalami kegagalan dan ejekan sebagai anak yang tak cerdas.
Masih ada Steve Jobs, pendiri Apple, perusahaan IT yang menghasilkan iphone. Seorang pengidap diklesia yang kuliahnya cuma sampai semester satu. Stres dengan sistem perkuliahan yang menurutnya tidak kondusif, memacu dirinya menemukan produk teknologi hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Bahkan Willian Shakespeare mampu menulis kisah Rome dan Juliet yang fenomenal, karena cintanya yang tak sampai pada Viola de Lessep. Yang tak kalah penting, uswah hasanah, rosul mulia, Muhammad Saw yang gigih mensyiarkan Islam dengan mengatasi segala rasa sakit diejek, dimaki, dilempari kotoran, bahkan intaian pembunuhan setiap saat. Andai segala rasa sakit hati yang beliau rasakan menjadikannya putus asa, tentu Islam tak kita kenal saat ini. 

Kesuksesan sering lahir dari rahim kesedihan, patah hati, duka, dan aneka emosi negatif yang diolah menjadi peluru. Mereka tidak serta merta bisa mengatasi duka sekejap mata. Tak semudah membalik telapak tangan. Perlu upaya untuk mengubah luka menjadi karya. Perlu airmata untuk mennyuburkan setiap bulir perjuangan yang ditanam dalam proses menuju sukses. Juga perlu Kesungguhan dalam mengulurkan tangan ke dalam genggaman tangan Tuhan, agar dibimbing menuju keberhasilan.

Duka tidak melulu tentang airmata. Tapi sebuah proses dan upaya mengungkap sebentuk cinta dari Sang Mahacinta. Sakit hati tidak semata sebuah goresan yang memedih jiwa. Melainkan sebuah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menjadikan diri kita lebih berarti dalam menorehkan jejak karya atas nama cinta. 

Maka bahagialah mereka yang pernah sakit hati, patah hati, memilin duka, dan memeras airmata. karena sejatinya mereka sedang diberi "hadiah" untuk melejitkan potensi diri menuju sukses. Kesuksesan yang berkah karena metamorfosis sakit hati.

Jika saat ini Anda sedang berduka, patah hati, sakit hati, bete, sedh, SELAMAT! Anda sedang memasuki fase menemukan tajamnya peluru yang akan menjadikan diri Anda lebih berarti. Ayooo segera bangkit. Ubah distress-mu menjadi eustress. Anda pasti bisa.


*Catatan seorang penghayat duka dan luka jiwa. Meruya, 10 April 2015

Tuesday, November 4, 2014

Bicaralah, Jika Ingin Sakinah

Sebuah perjalanan, apapun dimensi bentuk dan waktunya, selalu memiliki kisahnya tersendiri. Mungkin bukan kesederhanaan atau ingar bingar perjalanan itu yang harus dikisahkan, melainkan proses berjalan di dalamnya yang layak dicatat menjadi sebuah pembelajaran.

Tadi pagi, seorang teman mengatakan padaku ingin menggugat cerai suaminya. Dengan alasan, suaminya tidak bisa memahaminya. Tidak memberi nafkah yang cukup, tidak romantis, dan jenis tidak yang lain-lain. Sederet kekurangan suami yang dipaparkannya, membuatku mengernyitkan dahi. Lalu dulu kalian menikah atas dasar apa?  Apa karena dibutakan cinta? Sehingga yang pahitpun serasa cokelat? lalu sekarang semua lebih terasa pahitnya dan bikin mual, muntah, perih, kembung .... 

Saat kutanya, apakah suaminya pernah melakukan KDRT baik verbal maupun fisik? Dijawabnya, tidak. Sang suami lebih memilih diam, lalu pergi jika mereka ribut-ribut. Kubiarkan ia menangis. Setelah reda, kucoba beri dia masukan. Tapi semua ucapanku dimentahkannya. Ia merasa semua yang dilakukannya sudah benar. Ia benar, dan sang suami yang salah. Oooh ya sudah ... sepertinya ia perlu "ditampar" Mengutip mbak Didi, kalau orang curhat diberi nasehat tidak bisa, ngeyel, merasa benar, dan malah semakin emosional, ya jalan satu-satunya disadarkan dengan "keras" 

Aku cuma bilang satu kalimat, "Suamimu bukan fortune teller. He is not a robot too. And you are not an angel. Dont be selfish. I know you are. I can't pretend that you are  right.I can't stand on your side. Go home. Think, think, and think!"

Dia terperangah, lalu memaki, "Kamu bukan teman yang baik! kecewa aku sama kamu!" lalu ia pergi meninggalkan kantorku.

Its ok. Ini bukan pertama kali ia curhat seperti itu padaku. Aku bukan tidak memahami perasaannya sebagai perempuan. Di sisi lain aku juga kenal siapa suaminya. Dari tahun ke tahun aku mengamati rumah tangga mereka. Aku cukup tahu bagaimana ia bersikap pada suaminya.

Sebuah rumah tangga tidak dibangun berdasarkan keinginan seseorang, melainkan dua orang yang harus bisa mengharmonikan perjalanan menjadi selaras, seirama. Bukan lagi masanya perempuan berdiam diri, pasif sebagai istri. Bicaralah, jika memang ada yang harus dibicarakan. Bertindaklah, jika sesuatu itu bisa diubah dengan tindakan. Apa kalau suami tidak romantis, lalu sang istri diam, si suami bisa berubah? Suami bukan peramal yang tahu isi hati istrinya. Katakan, lakukan, contohkan apa yang kita mau sebagai istri. Suami yang baik pasti akan belajar, mencermati, dan mengubah kebiasaan buruknya demi rasa cinta dan sayangnya pada sang istri.

Enam bulan sudah aku menjalankan peran sebagai seorang istri buat suami tercinta. Lebay sepertinya kalau rumah tangga yang baru kujalani selama enam bulan disebut sebagai rumah tangga ideal. Rumah tangga kami masih merangkak dan belajar berjalan tegap. Tapi satu hal yang ingin kukatakan, dalam perjalanan ini kami belajar untuk saling memahami. Untuk saling bicara apa yang kami mau. 

Seperti pernah kutulis, suamiku bukan tipe lelaki romantis. He never say I Love You, kecuali di awal dia nembak aku. Lalu apa harga diriku jatuh, jika sering-sering aku bilang padanya, "Ade sayang sama Mas" No! Its A Big NO. 

Suamiku juga bukan tipe lelaki touchy, yang suka menyentuh, mencium ringan, atau sekedar cuddling. Apa lantas aku berubah jadi bitchy, kalau mencium, memeluk dan berlaku a bit wild padanya? Tentu saja tidak! He is my husband. Jadi aku punya hak untuk berlaku apapun padanya sebagai proses pembelajaran baginya untuk tahu apa yang kumau dilakukannya padaku.

Dalam rumah tangga tidak ada kata "aku lebih dari dia." Atau gengsi dalam melakukan atau mengatakan sesuatu. Rumah tangga adalah sekolah untuk belajar bersama menuju perubahan yang lebih baik dari hari ke hari. Kami berdua adalah pembelajar dalam rumah kehidupan yang kami bangun atas dasar kesadaran bersama.

Menyoal ekonomi, ketika hati kita memutuskan untuk menikah dengan seorang lelaki yang secara sadar kita pilih menjadi suami, tentu tahu bagaimana kapasitasnya dalam urusan ekonomi. Buatku seorang lelaki, seorang suami dapat disebut bertanggung jawab ketika ia memiliki etos kerja, tetap punya penghasilan. Soal cukup atau tidak, pilihannya ada dua. Turunkan standard hidup, atau sang istri juga bekerja membantu menopang kebutuhan rumah tangga. Bukankah Khadijah RA juga menopang biaya dakwah suaminya, Rasulullah SAW? Dan Zainab, istri Rasulullah yang lain juga membuat anyaman bambu untuk menopang biaya rumah tangga dan bersedekah membantu sesama yang kekurangan. 

Sudah bukan masanya perempuan hanya menunggu gaji bulanan suami. Perempuan bisa berdaya dan mandiri dalam urusan ekonomi. Bukan untuk menandingi atau bersaing dalam hal penghasilan dengan suami. Bukan juga untuk menginjak harga diri suami jika penghasilannya lebih besar. Perempuan bersuami, bekerja semata dalam rangka Fastabiqul Khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukankah dengan berpenghasilan, kita bisa bersedekah, berinfaq, dan melakukan banyak hal baik dengan tidak mengurangi jatah belanja rumah tangga? Bukankah sebagai istri pekerja juga bisa membantu suami mensejahterakan rumah tangga? Bekerja buat para istri membuka lebih banyak lahan untuk menyemai kebaikan. Lalu sampai kapan seorang istri bekerja menopang rumah tangga? Sekali lagi, bicarakanlah dalam suasana tenang dengan pasangan masing-masing, tanpa emosi. Tidak ada masalah yang akan selesai jika keran komunikasi tidak dibuka lebar-lebar. 

Rumah tangga seperti bertepuk tangan. Tidak akan ada suara meriah jika hanya sebelah tangan. Butuh dua tangan untuk menyemarakan suasana rumah tangga. Juga butuh dua hati yang saling ikhlas mengingatkan dalam kebaikan. Di atas segalanya, doa adalah kunci pembuka segala kesulitan. Jadikan rumah tangga sebagai proses ibadah bersama, kebersamaan yang harmoni antara imam dan makmumnya. Sakinah, mawaddah dan rahmah bukan sekedar slogan. Melainkan sebuah tujuan yang harus diupayakan. Sulit? Bukankah bersama kesulitan akan selalu ada kemudahan? Fabbi ayyi a'la ii robbikuma tukadziban ....

*Dedicated to my husband with love. Yuuk belajar bersama, mas ...

*Palapa, 5 November 2014. 



Tuesday, September 2, 2014

Jangan Berobat Alternatif!

Pagi tadi aku keluar rumah pukul 06.00 untuk beli lupis kesukaan suamiku. Melewati rumah tetangga pertama, nampak ramai. Kursi-kursi plastik berjajar rapi. Dari dalam rumah terdengar suara lantunan surat Yasin dibacakan. Aku bertanya pada salah seorang tetangga yang ada di situ, "Siapa yang meninggal?" 
Putra bungsu dari tetanggaku, berusia 5 tahun meninggal karena kanker Rhabdomyosarcoma. Kanker jaringan lunak yang biasanya lebih sering menyerang anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Kita tentu masih ingat film Surat Kecil Untuk Tuhan. Yang diangkat dari kisah nyata Gita Sesa Wanda Cantika (Keke) pasien pertama yang didiagnosa dengan kanker rhabdomyosarcoma. Tidak pernah kukira, aku akan menemui penderita penyakit ini dalam kehidupan nyataku.

Saat pertama aku pindah ke rumah kontrakan yang sekarang kudiami, ibu dari anak tersebut adalah tetangga pertama yang kukenal. Lima bulan yang lalu putranya kulihat seperti sedang sakit bisul di kelopak mata kiri bawah (biasa orang Betawi menyebutnya bintitan) Bisulnya semakin membesar hingga membuat kelopak matanya seperti tertutup. Aku menyarankan mereka untuk membawa anaknya ke berobat ke rumah sakit. Tapi dengan alasan lama ngantri dan dapat kamarnya, mereka memilih pengobatan alternatif. 

Lama kelamaan sakitnya ternyata semakin parah. Terakhir bola matanya sampai keluar dan turun ke pipi. Sementara pengobat alternatifnya bilang bahwa reaksi pengobatan baru akan nampak hasilnya enam bulan kemudian. Kembali aku menyarankan pada ibunya agar membawa anak tersebut ke rumah sakit. Kukatakan bahwa kecepatan kanker berkembang jauh lebih cepat dari pengobatan alternatifnya. Anak itu tidak bisa menunggu sampai enam bulan lagi. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya mereka membawanya ke RSCM dua minggu sebelum ramadhan. 

Dua minggu setelah Idul Fitri, anak lelaki tersebut dibawa pulang. Sebagai pasien peserta BPJS, jatah rawat inapnya cuma 2 bulan. Selanjutnya mereka harus daftar lagi. Antri lagi. Untuk mendapatkan ruang rawat inap berikutnya. Kulihat mata anak tersebut telah direposisi dengan kemoterapi rutin yang dilakukan seminggu sekali, meskipun masih belum sempurna. 

Kufikir pada rawat inap kedua, ia akan lebih membaik. Nyatanya kanker berkembang jauh lebih cepat dari daya tahan tubuhnya. Hari ini ia kembali pada Sang Empunya. Jujur aku tak memiliki cukup kekuatan untuk melihat wajahnya. Hanya suamiku yang bersimpuh dan menatap wajahnya untuk terakhir kali.

Kanker Rhabdomyosarcoma adalah kanker ganas yang hingga hari ini belum diketahui pasti penyebabnya. Beberapa ahli mengatakan karena faktor genetik, pola hidup, pengaruh radiasi sinar Xray, radikal bebas, dan gelombang elektomagnetik. Penyakit ini biasanya ditandai dengan adanya benjolan kecil serupa bisul di daerah jaringan lunak seperti ; mata, kepala, leher, kantung kemih, vagina, prostat, testis, lengan, kaki, ketiak, dan sinovial. Penyakit ini dapat dideteksi dengan tes darah, diagnosa tulang, dan CT Scan, disamping juga dengan merunut riwayat kesehatan kedua orangtuanya. Orangtua yang sering mengkonsumsi alkohol dan narkoba, cenderung menyebabkan mutasi dan perubahan gen yang memicu penyakit tersebut. 

Satu hal yang perlu diketahui, sebagai seorang praktisi akupunkturis dan herbalis, saya menganjurkan untuk tidak menyandarkan usaha pada pengobatan aternatif semata. Jikapun ingin melakukan pengobatan alternatif, harus disinergikan antara akupunktur, pengobatan dengan herba, dan pengobatan medis semisal kemoterapi untuk mempercepat memutus metastase sel-sel kanker tersebut. Patut diketahui bahwa metastase (penyebaran) sel-sel kanker jauh lebih cepat dari perkiraan siapapun. Penanganan penyakit kanker, berarti berpacu denga waktu. Segala hal memang harus diupayakan. tapi hati-hati jangan sampai terjebak dalam fanatisme pengobatan tertentu. Pengobatan alternatif, semisal dengan herba, membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk melihat hasilnya. Sebagaiman sifat herba itu sendiri yang bertumbuh tidak dalam waktu cepat. Sementara pengobatan dengan akupunktur tidak serta merta mematikan sel-sel kankernya, melainkan meningkatkan daya tahan tubuh penderita dan melokalisir kanker agar tidak bermetastase lebih cepat. Sedangkan kemoterapi adalah upaya memutus mata rantai metastase tersebut dengan mematikan sel-sel kanker.

Tidak ada pengobatan yang bisa berdiri sendiri. Mensinergikan upaya pengobatan adalah langkah terbaik untuk mengatasi penyakit ganas semisal kanker. Pengobatan alternatif semata, memang efektif untuk penyakit-penyakit ringan yang akan langsung nampak hasilnya. Tapi jangan sesekali bermain sekedar di ranah alternatif saja jika pemyakit yang dihadapi adalah penyakit ganas. 

Bagaimanapun, Allah adalah Sang MahaPenyembuh. Semua usaha pengobatan adalah ikhtiar kita sebagai manusia yang diberiNya iman, akal, dan pikiran. Mencegah tentu saja lebih baik dari mengobati. Jika segala ikhtiar telah purna dijalani, maka tawakal kepada segala kehendak dan keputusan Allah adalah yang terbaik bagi setiap hambaNya. 

*Palapa, 03 September 2014. Teriring doa untuk almarhum ananda Haikal bin Abdul Rokhim.

 


Monday, June 23, 2014

Surabaya, Sebuah Kenangan Tanpa Akhir (part 2)

Launching HIIB
Apa rasanya kehilangan separuh dari kehidupanmu? Kehilangan hari-hari di mana kamu merasa hidup dengan segala aktivitas yang menyegarkan dan menumbuhkan jiwa. Itu yang saat ini sedang kualami. Rasanya seperti ada lubang hampa udara di dalam jiwa. 

Aku rindu Surabaya. Terlebih rindu dengan aktivitas berkesenian, nyastra dan diskusi-diskusi ringan yang kerapkali menimbulkan ide-ide segar yang mengalir tiada henti. Tercatat aku telah kehilangan dua momen berkelas sejak kutinggalkan Surabaya. 

Pertama, aku tidak bisa menghadiri launching buku Hidup Ini Indah, Beib. Buku yang sempat kukawal proses editingnya dan berisi empat tulisanku. Setiap karya untukku adalah anak jiwa yang dikandung dan dilahirkan sepenuh hati. Aku mencurahkan isi kepala dan hatiku dalam buku ini. Buku ke 14 yang kulahirkan dari hatiku. 

Membayangkan keceriaan, sorot kamera, liputan media dan haha hihi bersama 36 penulis yang semuanya perempuan, cukup membuat hatiku ngilu. Tanpa terasa ketegaran yang kubangun merembes diam-diam dari kelopak mata. Meski aku masih bisa berkomen-komen via facebook, tapi kebahagiaan itu tak purna tanpa aku berada di sana, Rolas Cafe, tempat buku itu diluncurkan. 

Nobi Darsini dan Stebby Whiji
Kedua, aku kehilangan kesempatan menyaksikan Mbak Wina nyinden, Shenobi dan Stebby menari tayub sebagai Darsini dan Kang Widji, Denny Tri Aryanti yang bermonolog, dan tentu saja proses yang mengiringi anak jiwa ke 8 seorang penulis keren, Wina Bojonegoro. Ah ya, tentu aku juga kehilangan kesempatan menyakskan kerempongan seorang stage manager, Didi Cahya, si among tamu Evie Suryani, dan si mungil Heti Palestina Yunani yang enerjik. Duuh membayangkan keceriaan suasana di Perpustakaan BI yang mengawinkan seni dan sastra di atas pentas, rasanya nelongso, Sumpaaah nelongso. Lebay mungkin, tapi itu rasaku.

Denny Tri Aryanti
Setiap pilihan tentu membawa konsekwensi yang mengiringinya. Bukan berarti aku tak bahagia dengan kehidupanku hari ini, bersama suami dan aktivitasku sehari-hari. Tapi sungguh, ada yang sunyi di sudut hati. Bahkan akhir-akhir ini otak kananku nyaris beku. Jemariku sulit diajak menari melahirkan barisan cerita. Sepertinya aku butuh dopping. Sayangnya dopping itu berarti aku harus ke Surabaya, meski cuma untuk satu atau dua hari. 

Surabaya memang bukan tanah kelahiranku, but its like home for my soul. Sebuah rumah di mana aku ingin selalu kembali. Sebuah keluarga di mana aku ingin selalu didekap dalam peluk hangat mereka. Sebuah tempat di mana aku merasa berarti dalam segala kemampuan diri.

Aaah ... ini bukan keluhan, cuma serupa ndleming seorang Titie yang sedang merindui keluarga besarnya di Surabaya. Andai saja di jakarta kutemui ruang dan komunitas di mana aku bisa mengekspresikan kemampuan diri ....

Well, whatever, hari ini adalah milikku. Duniaku. Cuma aku yang bisa mengubah segala kerinduan ini menjadi sepotong kekuatan jiwa untuk menjalani hari-hari di kota besar bernama jakarta. Surabaya memang sebuah kenangan tanpa akhir. Tapi hari ini adalah kenyataan yang harus kujalani. Aku tak bisa hidup di dalam ruang-ruang kenangan, yang harusnya kulakukan adalah menjadikan kenangan itu sebagai bagian dari upaya menumbuhkan jiwa kembali di belantara ibu kota negara ini. Aku bisa! pasti bisa!

*Kutulis usai ditelepon Didi Cahya, Duri Kepa 24 Juni 2014

Wednesday, May 7, 2014

Surabaya, Sebuah Kenangan Tanpa Akhir (Part 1)

Setelah sekian lama blog ini berdebu, tanpa disentuh, tak dibersihkan, tak ditengok, mirip rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya jalan-jalan. Terpaksa harus nyapu-nyapu dulu, bersih-bersih dulu, masak air, nyeduh cokelat panas, baru duduk manis di sudut ternyaman buat menulis.

Aku ingin berayun sejenak di kursi malas di sudut ruangan ini, sambil menerawang ke sudut-sudut kenangan. Melihat lagi jalan-jalan yang telah kulintasi. Mengintip kemasan-kemasan rasa yang terbingkai manis di sebuah kota bernama Surabaya.

Surabaya? Ya Surabaya. Sebuah kota tempat aku dilahirkan kembali menjadi sosok pribadi baru, bak bayi terlahir dari rahim sang ibu. Sebuah kota yang bahkan tak pernah sebelumnya terangan untuk menjadi tempat tinggal. Surabaya yang telah menjadi tanah kelahiran kedua, home sweet home yang sarat dinamika. 

Menjadi salah satu warga di kota "seribu taman" yang asri, adalah sebuah kebanggan tersendiri. Aku yang bukan siapa-siapa, yang datang ke kota ini dengan jiwa yang terkoyak dan berdarah-darah, mendapatkan ribuan cinta dan kasih sayang yang menumbuhkan jiwa. Cinta yang membesarkanku menjadi sosok yang memiliki nama. Bukan sekedar nama yang disematkan, melainkan sebuah keberartian hingga diri ini memiliki kemampuan untuk berbagi kasih, ilmu, dan pengalaman.

Sebuah perjalanan yang bermula dari kepercayaan seorang Mayoko Aiko, yang memberiku amanah untuk mengelola, menjaga, dan membesarkan komunitas penulis bernama CErita Nulis Diskusi On Line (CENDOL) Chapter Jawa Timur (BONEKTIM), membuatku menjelma menjadi sosok bunda bagi ribuan anak, kakak bagi ribuan adik, dan mitra bagi banyak komunitas. 

Berawal dari koordinator CENDOL Jawa Timur, aku melakukan penetrasi komunikasi dengan banyak penulis, seniman, pekerja seni, pejabat birokrasi, hingga para pedagang di seputaran pasar Karang Menjangan. Sebuah hubungan simbiosis mutualisme yang menjadi sebuah jalinan pertemanan yang berkembang dengan baik. 

Bersama BONEKTIM, melahirkan sebuah proyek mengajar anak-anak di area lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, membuatku seringkali harus blusukan di Doli. Mengeja dengan terbata sebuah kehidupan yang kerap diatasnamakan sebagai takdir, kehidupan anak-anak yang memiliki lubang menganga di jiwanya. Kehidupan yang bersicepat dengan derap lendir pekerja seks komersial yang disuling ratusan kali oleh para penikmatnya. Aku menemukan banyak kearifan, ketulusan, kasih sayang, dan harapan yang perlahan tumbuh dari anak-anak tak berdosa yang bahkan tak pernah meminta dilahirkan di lingkungan hitam, bahkan dari rahim para penjaja syahwat. Meski harus seringkali kuhapus airmata diam-diam tiap kali anak-anak tersebut bercerita atau mengadu banyak hal padaku.

Tak cuma blusukan di Doli. Pertemuan rutin bulanan yang kusebut KOPDAR, menjadi media untuk mengeratkan persaudaraan di antara anggota BONEKTIM, juga media sharing karya. Rasanya bahagia tiap kali anggota BONEKTIM berhasil menerbitkan buku-buku karya mereka. 

Lewat aktivitas bersama BONEKTIM, aku mengenal Didi Cahya (penyiar), Evie Suryani (Humas BARPUS Kota Surabaya), Wina Bojonegoro (penulis senior), Heti Palestina (Pekerja media), Alm. Johan Budhie Sava (pemilik jaringan tobuk Togamas), komunitas Sae Sanget, Arini Pakistyaningsih (Kepala BARPUS kota Surabaya) ,dan masih banyak nama lagi yang mewarnai perjalanan seorang Titie Surya.

Bersama mereka aku berkiprah dalam banyak suasana. Menghasilkan karya, mengisi panggung-panggung seni dan perbukuan, serta menularkan virus menulis lewat workshop di sekolah-sekolah, dan pelatihan bagi ratusan petugas teknis perpustakaan. Hidup menjadi sangat bergairah dan penuh warna buatku. Tiada hari untuk bermenung apalagi sekedar memanjakan kegalauan, dan meratapi luka-luka yang pernah ada.

Bahagia adalah pilihan. Aku memilih bahagia dengan mengembangkan pikiran positif dan beraktivitas di segala bidang yang mampu kulakukan. Kuyakin bukan tanpa maksud Allah memperjalankan aku melewati banyak lintasan dan peristiwa. Satu hal kuyakin, apapun luka-luka dan noda masa lalu setiap orang, masa depannya masih suci. Surabaya menjadi kawah candradimuka buatku mengembangkan aura positif dalam diriku. Mengutip ucapan Didi Cahya, " Titie Surya yang pertama kali saya wawancarai di radio Smart FM, berbeda dengan Titie Surya hari ini. Dia lebih ceria, lebih memancarkan aura bahagia."

Kusesap cokelat panas yang mulai mendingin. Kusandarkan punggungku ke kursi malas sambil meregangkan kedua tangan ke udara. Kulemparkan pandanganku pada langit-langit. Memetakan wajah-wajah yang kurindukan. Aaah ... rinduku pada mereka serupa rinduku pada setiap sudut Surabaya. Aku ingin mengistirahatkan mata dulu sejenak, sambil tersenyum pada setiap wajah yang bermain di dalam benakku. 

*Duri Kepa, 08 Mei 2014. Pukul 11.45




Saturday, June 1, 2013

Me And My Little Angels

Hari ini badanku rasanya meriang. Memang sejak kemarin, aku merasa kedinginan yang sangat. Kuyakin bukan karena ac di ruang kerja lebih dingin dari biasanya, tapi karena daya tahanku menurun hingga tak mampu mengatasi suhu dingin. Semula aku ingin menghabiskan hari ini dengan tidur lebih panjang dari biasanya. Tapi kerinduan pada bidadari-bidadari kecilku tak mampu membuatku lebih lama lagi memeluk guling. Kukirimkan sms pada sahabatku,"Mbak, aku kangen Safa Marwah."

Tak lama sms-ku berbalas dengan ajakan ketemuan di perpustakaan Balai Pemuda. Hatiku melonjak kegirangan dan membuatku bergegas mandi dan bersiap menuju Balai Pemuda. Tapi ternyata perutku tidak bisa diajak kompromi. Sudah rapi-rapi berdandan, mules merejam. Dengan amat terpaksa aku menunda keberangkatanku hingga pukul 11.40.

Setelah melewati perjalanan 15 menit naik angkot, sampailah aku ke perpustakaan. Setelah bertukar peluk cium dengan ibunya, segera kucari Marwah di ruang baca anak. Kupeluk Ia sepenuh rindu yang meluap di hati. Wajah imutnya menatapku dan berkata, " Kok Tante di sini?" 

"Iya, Tante kangen kamu. Marwah kangen nggak sama Tante?"

"Aku juga kangen, Tante." lalu dipeluknya aku, dan diciumnya kedua pipiku.

Duuuh ... kebahagiaan kian memenuhi relung rinduku. Setelah itu aku asyik bermain, membacakan buku untuknya dan menemaninya makan biskuit di luar perpustakaan. Melihat caranya berlari, kutahu fisiknya lebih kuat daripada Safa, kembarannya. Celoteh-celoteh gadis kecilku selalu membuatku tertawa dan berkali-kali memeluknya. Wajahnya kian menggemaskan saat berekspresi pura-pura nangis atau pura-pura marah. Imut, lucu, dan menggemaskan, betul-betul sosok seorang balita sesungguhnya yang kutemui pada gadis kecilku ini. Kemanjaannya, pelukan dan ciumannya untukku, membuatku merasa menjadi seorang ibu yang sesungguhnya meski cuma dalam hitungan beberapa jam.

Waktu jua akhirnya yang membatasi kebersamaan kami. Marwah, ibu dan kakaknya harus segera pulang karena sudah dinanti oleh sang ayah di rumah. Aku mencoba mengajak Marwah untuk ikut bersamaku dan taraaa ... ternyata dia mauuu ... uuuh senangnyaaa .... Tapi tentu saja aku tidak tega menculiknya, terlebih saat ibunya bilang, "Anakku yang satu sudah sama Utinya, masa' ya yang ini dibawa Tante? Yang satu di pondok, tinggal Yumna doang dong. Aku sama Ayahnya nggak bisa kesepian tanpa anak-anak." 

Hatiku mencelos, eehm baiklaaah ... kusadari bagaimanapun seorang ibu tidak bisa berpisah dari anak-anaknya. Sekalipun punya anak banyak, yang satu tidak ada pasti juga akan terasa ketidak hadirannya. Akhirnya kulepas mereka pulang, sementara Marwah masih terus berdadah-dadah denganku sampai hilang dari pandangan.

Memenuhi rindu yang masih memenuhi hati, aku menuju rumah Rindu. Gadis kecilku yang lainnya. Si bocah indigo yang hari ini tidak dalam mood yang benar-benar baik. Celotehnya cenderung lebih judes dari biasanya. Kontradiktif dengan kelembutan dan kemanjaan Marwah. Dia tidak mau cium tanganku, aku juga pura-pura ngambek saat dia minta kupangku. Kubilang, "Emoh aku, Rindu galak gitu sama Tante, nggak mau salim."

Menyadari kesalahannya, dia berusaha merebut hatiku dengan memeluk, dan mencium kedua pipi, lalu mencium punggung tanganku. Maka berakhirlah drama judes-judesan di antara kami hehehe ....

Kemudiam kami main masak-masakan. Dengan peralatan rumah tangga mininya,  Rindu berfantasi membuat jus, tahu isi dan bakwan. Diputarnya blender dan mixernya sambil berceloteh. Aku dan bundanya menjadi pembeli yang asyik mengamatinya memecah telur, membuang kulit telur, membuat jus, dan memanggang kue dengan ovennya.  Caranya menalar sebab akibat saat memasak, benar-benar menunjukkan kecerdasannya yang di atas rata-rata. Belum caranya mengungkapkan kronologis saat kutanya kenapa kakinya ada bekas luka. 

"Aku kan lagi main sama Nimas, ada Bu Poh, ada Pak Pok, Ada Yangti, lagi duduk-dudukan. Aku lali (lari) telus jatuh, lejingku suwek, telus kakiku metu dalahe (keluar darahnya)."

"Siapa yang ngobatin kakimu," tanyaku sambil mengelus bekas lukanya.

"Sama Pak Pok diludahi, sama Bu Poh dikasih minyak tawon." jawabnya sambil tetap asyik menjalankan bleder dan mixernya.

Gemeees rasanya mendengar ucapannya yang sok tua ... segera kuraih dia ke pelukanku. kuciumi dan kukelitiki sampai dia tertawa-tawa kegelian dan teriak-teriak. Andailah waktu tidak beranjak kian malam, mau rasanya terus bermain bersama Rindu. Tapi adzan maghrib membuatku harus segera pulang. Usai menciumi berkali-kali lagi kedua pipinya dan memeluknya, kutinggalkan gadis kecilku dengan lambaian tangan.

Kubawa pulang wajah Marwah dan Rindu di hatiku. Seperti menghirup oksigen, mereka mengisi nafas rinduku penuh seluruh. Melalui hari Sabtu bersama mereka membuatku lupa akan rasa sakit yang sempat membelit tubuhku. Merekalah wajah rindu di usiaku yang kian beranjak senja. Semoga selalu ada waktu untuk bisa memeluk dan bermain bersama mereka lagi.

*Karang Menjangan, dinihari 2 Juni 2013

Wednesday, May 29, 2013

Ordinary Woman With Extra Ordinary Passion And Dream

Perempuan di manapun selalu menjadi topik menarik untuk dijadikan bahasan. Entah sebagai bahan pembicaraan positif, gosip, sampai jadi model iklan mobil atau alat elektronik lainnya dengan mengeksploitasi tubuhnya nan seksi, mulus dan cantik. Padahal apa hubungannya antara alat elektronik dengan model-model seksi itu?

Di tengah hiruk pikuk budaya eksploitasi para perempuan, masih ada perempuan-perempuan lain yang justru memanfaatkan segenap kemampuannya untuk menjadi berarti dan menginspirasi perempuan lain di sekitarnya. Mereka aktif dan kreatif tanpa perlu mengeksploitasi tubuhnya. Seperti perempuan-perempuan luar biasa yang akan kuceritakan.

Perempuan di awal 40an ini adalah seorang ibu rumah tangga yang menjelma menjadi seorang hero bagi keluarganya. Serupa matahari yang menyinari alam usai hujan badai yang nyaris meluluh lantakkan kehidupannya. Alih-alih terpuruk  disebabkan ujian berat melanda rumah tangga, kebangkrutan usaha sang suami, penghasilan yang turun secara drastis, utang yang menumpuk dan buah hati yang butuh biaya pendidikan besar, memacunya untuk mengatasi kondisi yang mengancam kehancuran rumah tangganya.

Apapun dijalaninya untuk mengatasi kondisi tersebut. Mulai dari menjajakan pakaian dari rumah ke rumah, jualan bantal kesehatan, hingga menjadi Financial Consultant di sebuah perusahaan asuransi. Pekerjaan sebagai seorang agent asuransi yang kerap dipandang sebelah mata, dilakoninya dengan ketekunan dan kegigihan. Tidak terhitung airmata, suka duka dan aneka perlakuan yang dialaminya. Namun berbekal kemauan kuat dan  cinta pada keluarga, ibu satu ini mencapai puncak tertinggi dalam bisnis asuransi sebagai Agency Director dengan penghasilan puluhan juta rupiah per bulan. The Power Of Kepepet, menjadi moto hidupnya selain juga The Power Of Love. Leader team Colibri di perusahaan asuransi AXA Financial Indonesia, Neneng Wahyuningsih, adalah satu dari perempuan perkasa yang mampu terus berjalan menembus badai kehidupan. 

Perempuan berikutnya adalah seorang cancer survivor, Andriani Primardiana, 47 tahun. Vonis dokter awal 2007 yang menyatakan dirinya terkena kanker paru-paru dan hanya memiliki harapan hidup 4 bulan saja, tidak lantas membuatnya jatuh terpuruk dan nglokro, apalagi patah arang. Didampingi sang suami yang ilmuwan penemu obat anti kanker dengan teh hijau, beliau menjadi pasien pertama yang menjalani uji coba kesembuhan dengan memanfaatkan ekstrak teh hijau. 

Selain harus menjalani kehidupan bersama kanker dalam tubuhnya, ibu yang lembut hati ini juga harus menghadapi kenyataan bahwa putra sulungnya menderita marfan syndrom, gangguan jaringan ikat yang ditandai dengan pertumbuhan tinggi yang sangat di atas rata-rata yang menyebabkan scoliosis, sang putra harus direposisi dan ditopang dengan plat yang ditanam di tulang belakangnya. Belum lagi putra bungsunya menderita autis yang butuh perhatian esktra. Keuangan keluarga menjadi morat marit untuk biaya berobat dirinya dan kedua buah hatinya. Sadar akan pentingnya biaya berobat, Andriani memilih menjadi financial consultant di perusahaan asuransi AXA. Harapannya adalah kian banyak rumah tangga yang sadar asuransi, bisa mengatur keuangannya dengan menyisihkan penghasilan untuk tabungan kesehatan utamanya yang terus berinflasi dari tahun ke tahun.
Di samping bekerja, menjalani hari dengan aktivitas sosial sesuai latar belakangnya yang lulusan fakultas kedokteran gigi, menjadi pilihannya untuk menghadapi kanker ganas dalam tubuhnya. Beliau juga merintis usaha konveksi yang mampu membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Hari ini beliau masih bertahan dan mampu melewati ancaman kanker. Satu keinginan tertingginya, saat semua impiannya tercapai, membangun sekolah kreatif, ia ingin meninggal dengan damai dan dikenang sebagai seorang pemenang dalam menghadapi dan melawan penyakitnya.

Opung yang satu ini begitu enerjik di usianya menjelang 60 tahun. Aktivitas sehari-harinya dilakukan dengan mengendarai sepeda motor menembus panas, hujan, banjir dan kemacetan lalu lintas. Seharusnya di usia yang semakin senja, pemilik nama Yayuk  Widayati ini bisa menikmati kehidupan yang manis, bersantai di rumah sambil mengasuh cucu tercinta. Tapi kepergian suami 6 tahun yang lalu karena tumor paru, menghabiskan 2 rumah, 2 mobil dan usaha yang mengalami kebangkrutan disebabkan habis untuk biaya berobat.

Rasa tanggung jawab untuk menghidupi ketiga buah hatinya, membuatnya memilih untuk terus bekerja di usia senja. Menjadi Financial Consultant di perusahaan asuransi AXA Financial menjadi pilihan. Alasannya sederhana saja, perusahaan mana yang mau menerimanya bekerja dan dapat memberi gaji layak bagi perempuan seusianya. Perlahan kegigihan dan ketekunannya membuahkan hasil. Utang yang bertumpuk dapat ditutup, kebutuhan hidup perlahan teratasi, dan hari-hari semakin indah baginya dengan kehadiran cucu pertamanya, Aiko. Berfikir positif menjadi motonya dalam menjalani hidup ini dengan segala permasalahannya.

Mereka cuma perempuan biasa, tapi memiliki impian dan semangat yang luar biasa dalam menjalani kehidupan. Tidak ada yang salah dengan pilihan mereka untuk menjejakkan kaki dan membangun bisnis di dunia financial. khususnya asuransi. Karena pada dasarnya dalam pekerjaan yang mereka jalani ada cinta dan keinginan untuk membantu banyak orang dalam pengaturan keuangan keluarga. Satu kesamaan pada mereka adalah  prinsip bahwa pada saat  bekerja dengan hati maka akan menyentuh hati.



*Dharmahusada, 30 Mei 2013

Tuesday, May 28, 2013

Suatu Masa Pada Sebuah Proses

Seorang sahabat suatu hari berkata padaku melalui sms, " Yang sudah terjadi dan yang terjadi saat ini Itulah takdir kita. Tapi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, kita tidak tahu apa takdir kita. Kewajiban kita adalah berikhtiar dengan baik dan benar, dan berdoa semoga Allah menetapkan kebaikan-kebaikan dan mengabulkan keinginan kita."

Bukan lagi menjadi sebuah rahasia, bahwa dalam menjalani kehidupan di atas dunia ini, setiap manusia akan mengalami ujian dan cobaan. Layaknya sebuah perjalanan, di suatu tempat dan suatu masa. mungkin saja kita tiba-tiba berhadapan dengan cuaca yang tidak bersahabat. Bisa jadi hujan deras diiringi badai angin menghambat laju perjalanan kita. Belum lagi jika harus terjebak banjir dan kemacetan lalu lintas pada saat bersamaan. 

Pada saat seperti itu, kita hanya memiliki dua pilihan, berhenti menepi menunggu hujan reda, badai angin berhenti, dan banjir surut sambil terjebak di tengah kemacetan lalu lintas yang akan kian macet karena kendaraan yang kita tumpangi berhenti di tengah jalan. Atau kita tetap melanjutkan perjalanan meski dengan laju kendaraan yang sangat perlahan, tersendat-sendat, dan menguras energi jiwa. Namun kita akan sampai pada tujuan dengan selamat

Jika saya berada di kondisi tersebut, saya memilih tetap melanjutkan perjalanan meskipun dengan kecepatan perlahan, sambil tetap waspada, dan menyenandungkan dzikir agar hati tak tergerus kebosanan dan kekesalan.  Karena jika saya berhenti, maka kian lama sampai di tujuan dan kian membuat kondisi lalu lintas macet disebabkan kendaraan saya berhenti di tengah jalan, dan tentu saja membuat emosi jiwa kian melambung hingga ke ubun-ubun.

Begitupula dalam menjalani sebuah anugerah kehidupan. Begitu banyak rintangan yang harus kita jalani. Mengutip Steven Covey, bahwa keadaan yang kita alami adalah 10% saja akan berdampak pada kehidupan kita, karena 90%nya dipengaruhi dari sikap mental kita menghadapi keadaan tersebut. Setiap manusia memiliki jatah gagal dalam hidupnya. Pun setiap manusia memiliki masa kejayaan yang sudah ditakar dan dicatat di Lauhul Mahfus. Biarkan habis jatah gagalmu hari ini, agar tak jadi "hantu" yang membayangi langkah ke depan.

Jika pada saat menghadapi sebuah kegagalan, musibah, kejatuhan, kebangkrutan, dan nama lainnya yang mewakili rasa sakit, sedih dan keterpurukan, kemudian kita berhenti, maka kita tidak pernah tahu bahwa di depan sana ada kesempatan yang Allah berikan buat kita untuk meraih keberhasilan.

Sebagai manusia, kita sering tidak setia menjalani proses. Tak jarang juga kita terjebak pada kejayaan di masa lalu, sehingga begitu berat beban untuk melangkah meraih masa depan yang lebih baik. Kewajiban manusia hanyalah berikhtiar, berputar bersama proses dengan sekuat daya dan upaya untuk memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan. 

Berdamailah dengan masa lalu, lepaskan kemarahan, keluarlah dari zona nyaman, dan maafkan setiap kesalahan orang yang pernah melukai kita, lalu teruslah melangkah menembus pekatnya kehidupan yang memang pada galibnya tak semulus perjalanan di atas karpet merah bertabur mawar.

Semakin ikhlas hati menerima seburuk apapun masa lalu yang pernah dialami, maka semakin besar peluang untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan di masa depan. Ubahlah pikiran negatif menjadi positif. Embuskan selalu energi positif dalam hati dan benak agar tak lelah  melangkahi setiap masalah. 

Sulitkah? tentu saja, tapi bukan berarti tidak bisa diupayakan. Allah, RosulNya, orang-orang beriman dan yang berakal sehat, akan melihat setiap upaya kita yang setia pada proses menuju sebuah perubahan. Karena bagaimanapun soal hasil adalah hak prerogatif dan rahasia Allah saja. Namun bukan berarti keberhasilan tidak memiliki parameter. Bagaimana mungkin kita akan bisa meraih keberhasilan jika kita lelah, bosan dan berhenti berproses?

Jadikan setiap hari adalah hari yang luar biasa. Hari di mana seolah kita akan terus hidup yang akan memacu kita untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Juga hari di mana seolah ini adalah hari terakhir yang kita miliki, sehingga kita terpacu mengumpulkan sebanyak-banyaknya usaha menjadi berhasil dan kebaikan yang banyak. 

Pilihan ada di tangan kita. Mulailah dari yang kecil, dari diri sendiri. Mulailah dari sekarang atau menyesali keterlambatan.

Hasbunallah wani'mal wakil ni'mal maula wa ni'man nashir la haula wa la quwwata illa billahil'aliyyil 'adhim ....

Karang Menjangan, 28 Mei 2013
*Specially for a friend, thanks for inspiring me by your sms. Dont be tired to remind me for the goodness shake.
*Special thanks buat Bu Neneng, Terima kasih telah memberiku pengalaman yang luar biasa. I will follow your step in goodness

Saturday, December 22, 2012

Surga Yang Dipertanyakan

Hari ini, 22 Desember, konon diperingati sebagai hari ibu. Di mana-mana bertabur kalimat indah tentang cinta, kasih dan rindu terhadap seorang ibu. Perempuan di belahan bumi manapun pasti bahagia jika menerima ucapan,"Selamat hari ibu."

Ucapan selamat hari ibu pun menghiasi jejaring sosial di dunia maya. Tak kenal usia, gender ataupun strata, semua berlomba merangkai frasa menjadi hadiah bagi para ibu tercinta. Tapi benarkah setiap ibu layak mendapat ucapan selamat hari ibu? Lalu benarkah setiap ibu menyimpan surga di kakinya?

Pertanyaan itu menyeruak begitu saja dalam benakku, saat seorang bocah lelaki usia duabelas tahun bertanya, "Bund, apa aku harus mengucapkan selamat hari ibu pada ibuku?"

Aku terperangah, lalu menjawab, "Tentu saja nak, Ibumu berhak atas ucapan itu darimu."

"Selama ini, hanya nenek yang kukenal sebagai Ibuku, Bund. Hanya nenek yang menyayangiku. Bahkan kadang aku berfikir, apakah aku ini anak ibuku," ucap lelaki belasan tahun di hadapanku dengan guratan wajah terluka.

"Sayang, bagaimanapun, ia adalah Ibumu. Perempuan yang melahirkanmu, Menyusui dan membesarkanmu," aku berkata sambil menahan segenap deru di dadaku.

"Nggak Bund. Ibu tidak pernah menyayangiku. Ia hanya mengandung dan melahirkanku. Selebihnya aku besar dalam asuhan nenek. Entah di mana ia saat aku ingin dipeluk, saat aku ingin dimanja dan saat aku ketakutan. Ibu cuma bisa melahirkan, tapi aku nggak pernah tahu, ayahku siapa. Aku ini cuma anak haram, Bund!" Tangis mulai berhamburan dari kelopak matanya, dadanya bergelombang memancarkan emosi jiwa yang ditanggungnya berlarat seumur usianya.

Kurengkuh lelaki kecil itu dalam dekapanku. Kubelai rambut ikalnya. Sambil menahan airmata yang siap luruh, kubisikkan padanya, "Jangan pernah berfikir seperti itu, Nak. Kalaupun itu yang terjadi, ibumu pasti punya alasan mengapa menitipkanmu pada nenek. Percayalah, Ibumu punya cinta buatmu. Punya surga untukmu di kakinya."

"TIDAAAK!!!' Dilepaskannya pelukanku. Urat wajahnya mengeras dan memerah karena kemarahannya.

"Ibu tidak pernah menyayangiku atau adik-adikku. Ibu seenaknya saja hamil lalu menyerahkan kami pada nenek. Lihat bund ... lihaaat! apa wajahku mirip dengan adik-adikku?! Nggak kaaan?! Itu karena kami memang bukan dari ayah yang sama! Karena Ibuku seorang PELACUUUR ...!

BRAAAK .... Penuh amarah dia meninju meja dengan kepal tangannya. Airmata kian deras dengan sedan yang tertahan di dadanya. Aku merasakan nyeri yang menyayat di ujung hati dan menelikung di sudut nadi. Aku tak tahu harus berkata apa, karena memang anak ini terlahir dari rahim salah seorang pelacur di gang Dolly yang telah beralih profesi menjadi mucikari.

Aku luruh dalam diamku, membiarkan anak itu menumpahkan emosi jiwanya. Perlahan dia mendekatiku. Bersimpuh di kakiku. "Bund, hanya perempuan seperti bunda yang memiliki surga. Meski Bunda tak punya anak dari rahim sendiri, tapi aku akan berkata kau lah surga buatku. Karena aku lahir dari ketulusan hatimu."

Sekali lagi kudekap dia dalam pelukku. Airmataku tak lagi terkendali. Meluncur deras bersama tangis anak lelaki di hadapanku. Meski begitu, tetap kujaga nalarku untuk membuatnya tetap menghormati sang ibu, sekalipun ia seorang pelacur.

"Sayang, adanya kamu hari ini, dengan segala sifat baik dalam dirimu, bakat yang Allah anugerahkan padamu, tidakkah kamu sadari, bahwa doa ibumu mengalir dalam darahmu? Mungkin ia tak pernah mengatakan sejuta cinta padamu. Atau mungkin tak pernah ia memelukmu ...."

Aku menarik nafas, mengalirkan ketenangan dalam jiwaku, lalu kulanjutkan ucapanku, "Bunda yakin, dalam keterpurukannya, sebaris doa selalu dilantunnya buat putra-putri yang lahir dari rahimnya. Bagaimanapun, tanpanya, kamu tidak pernah ada di dunia ini. Tetaplah doakan ibumu, jadilah anak sholeh baginya. Doamu akan menjadi penerang baginya, Anakku. Ingat juga, bagaimanapun ibumu, surga harus kau raih dengan segala perbuatan baikmu sendiri."

Lelaki kecil di hadapanku tergugu sambil menghela nafas dalam berkali-kali. Disusutnya airmata dengan lengan bajunya, merenggangkan diri dari pelukanku. "Bund, temani aku meraih surga itu. Setidaknya aku tak pernah lagi sendiri. Karena Bunda selalu ada buatku dan adik-adik di sini. Aku ingin yakin, bahwa ibuku juga memiliki surga di kakinya, seperti Bunda."

Aku tersenyum sambil menghapus kristal bening yang tersisa di kelopak mataku. Kuacak rambut ikalnya sambil menganggukkan kepala, berusaha meyakinkannya. Tak perlu lagi kata, karena kami segera larut dalam aktivitas membuat kartu ucapan selamat hari ibu. Semoga waktu memberiku kesempatan untuk bisa selalu mendampingi mereka.

*Mengingat kisah setahun yang lalu di lokalisasi Dolly. Tak terasa sudah hari ibu ke 2 bersama mereka. Karang Menjangan, 22 Desember 2012










Sunday, February 5, 2012

Dari Doli Ke Matchbox Too Cafe

Hari ini, minggu 5 Februari 2012 akan menjadi hari yang sangat padat buatku dan teman-teman di komunitas CENDOL (CErita meNulis Diskusi OnLine) Jawa Timur. Kami hanya komunitas penulis muda yang berusaha menjadi berarti dalam lautan cerita kehidupan. Seperti biasanya, agenda rutin kami setiap Minggu pagi adalah berbagi ilmu dengan adik-adik di Taman Bacaan Kawan Kami, di lokalisasi Dolly.

Bersama anak-anak itu selalu saja ada banyak cerita. Mulai dari kenakalan, kemanjaan, kemalasan dan antuasisme mereka dalam belajar, membuat kami kerapkali harus menahan airmata yang selalu nyaris tertumpah. Bakat-bakat mereka sama dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga normal pada umumnya. Mereka tidak pernah minta untuk dilahirkan oleh siapa dan dalam lingkungan yang mana. Jika mereka terlahir dari rahim para PSK, dari pertemuan benih ayah yang mucikari dan gembong narkoba, itu juga bukan mau mereka.

Ucapan yang nyeleneh, tingkah pola yang over aktif, masih mereka imbangi dengan ungkapan kasih pada sesama teman yang kadang justru tak terfikirkan oleh kami. Mereka memang bukan anak yang beruntung, tapi mereka juga berhak mendapatkan ilmu dan harga diri yang sama dengan anak-anak lain seusianya. Kami hanya berupaya sedikit dari apa yang bisa dilakukan buat mereka. Bahu membahu dengan beberapa komunitas lain semisal YDSF, Remas AL-Falah, KAMMI-ITS dan yang lainnya, adalah upaya kecil untuk mengenalkan mereka pada masyarakat. Untuk menunjukkan pada banyak mata bahwa mereka mampu menjadi anak-anak "normal" yang berprestasi dan bermartabat. Cuma kerja kecil dari segumpal niat besar di hati kami, semoga membawa manfaat untuk langkah kaki dan ayunan tangan anak-anak bangsa di lingkungan marginal yang terpinggirkan.

Selesai dari segala kegiatan di Doli, kami meluncur ke Matchbox Too Cafe. Menghadiri undangan acara Petang Untuk Lan Fang sebagai bagian dari acara Festival Lan Fang. Keriuhan yang tentu saja kontras dengan suasana di Doli, membuat hatiku meleleh dalam lantun syukur, pujian dan harapan, berharap kelak anak-anak di lokalisasi itu mendapatkan kesempatan untuk tampil secara terhormat di tempat yang mewah seperti ini.

Musikalisai puisi oleh Filesky dan teman-teman, menghanyutkan kembara pikirku, hinggap pada pucuk-pucuk kehidupan. Aku berangan, andai saja sastra memiliki geliat rampak dan terperhatikan oleh banyak kalangan yang memiliki kebijakan dan jabatan, tentu akan selalu ada karya-karya bernas yang dihargai dengan pantas. Andai saja banyak jiwa tersentuh dan mau bergandengan tangan, maka sastra akan menjadi lebih indah dalam ranah literasi dan budaya yang takkan lekang oleh putaran masa.

Aku tahu, sebuah langkah sedang diupayakan untuk menjadi titik bangkit dunia sastra di Surabaya. Tapi mengapa mata baru terbuka ketika seorang sahabat yang peduli dengan sastra, dijemput kematian? Haruskah selalu perlu sebuah kematian untuk menggerakkan ratusan, ribuan bahkan jutaan kepedulian terhadap dunia sastra?
Walaupun demikian, satu keyakinanku, kebaikan takkan pudar meski tenggelam dalam bayang-bayang. Kepergian Lan Fang, menjadi titik balik bersatunya banyak hati untuk membangkitkan sastra kembali. Lan Fang bukanlah martir yag dikorbankan, melainkan inspirasi bagi sebuah kepedulian dan kebangkita karya anak bangsa.

Petang kian beranjak, temaram senja mengiringi musikalisasi puisi yang melantun indah. Semoga setiap butir keringat menjadi catatan amal pada buku kehidupan yang akan dikenang kelak oleh para pecinta sastra yang mungkin tanpa sengaja menemukan tulisan ini, tulisan tentang sebuah angan dan harapan bangkitnya sastra dalam ranah literasi.

Wednesday, February 1, 2012

Aku Tak Butuh

Aku tak butuh cintamu
Jika karena itu harus kehilangan kehangatan
Sapa, canda dan diskusi-diskusi ringan
Yang selalu saja menyegarkan

Aku tak butuh sekeping hatimu
Jika itu hanya akan menderaikan denting sunyi
Alunan sepi dan nada sumbang sebuah persahabatan

Aku tak butuh menjadi sisian hatimu
Jika tak lagi bisa mereguk ilmu,
mendulang cerita dan pengalaman hidup
Dari jejak-jejak perjalananmu

Sungguh aku tak butuh menjadi sesuatu bagimu
Karena aku bisa meraih sesuatu di langit hatiku
Pada tebaran kerlip bintang berbentuk hati
Dari banyak cinta yang tersemat
Pada sepiku yang tak sunyi

Sekali lagi kukatakan,
Aku tak butuh menjadi kekasihmu
Jika karena itu lidah menjadi kelu
Kata menjadi beku

Aku cukup bahagia jika bisa menjadi sahabatmu
Hari ini, esok dan selamanya.
Karena hati ini memiliki banyak ruang
Lapang menampung cerita cinta
Dalam dimensi yang berbeda
Atas nama persahabatan
Yang saling menumbuhkan jiwa

*Buat seseorang yang tak lagi membalas sms-sms ku

Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting