Tuesday, August 30, 2016

Reuni Menaikkan Self Esteem Dan Menyegarkan Ingatan

Alumni angkatan 1988
Sebuah pertemuan kembali setelah sekian bilangan tahun tidak bertemu lazim disebut reuni. Apapun istilahnya reuni adalah upaya mempertemukan kembali segala sesuatu yang pernah bersama, sebagai upaya untuk mencari eksistensi diri dan self esteem yang mulai pudar dari ingatan karena digerus usia. 

Menurut Dr Priguna Sidharta, selain untuk memutar memori jangka panjang di hippocampus, reuni juga berguna untuk memperbaiki bagian otak yang mengurus kesenangan. Dengan memutar kembali memori juga merupakan upaya untuk mencegah alzheimer yang cepat atau lambat akan menghampiri kita semua. 

Melalui reuni, seseorang juga akan bertemu dengan teman-teman lama yang sudah saling mengenal satu sama lain sehingga akan meningkatkan self esteem-nya. Terbukti saat Reuni Akbar alumni SPG Negeri 6 Bandengan Utara (Bantara) yang dilaksanakan pada hari Minggu, 28 Agustus 2016 di Taman Museum Bank Mandiri. Tidak ada sekat antara alumni dari setiap angkatan, tidak ada rasa malu meski harus berjoget dangdut ria atau menyanyi di atas panggung bersama, juga tanpa malu saling bertanya dan mengenalkan diri masing-masing saat terlupa akan nama dari seseorang.

Para guru SPG Negeri 6
Acara yang diprakarsai oleh Haerudin, alumni 1982 sebagai upaya merespon keinginan banyak alumni untuk temu kangen ini dihadiri oleh perwakilan angkatan 1970-1991 berlangsung dengan penuh keakraban dalam suasana kekeluargaan. Selain dihadiri oleh para alumni dari setiap angkatan, acara tersebut juga dihadiri oleh para guru. Diantara para guru yang sempat menghadiri acara tersebut adalah : Fransiska, Hertiwi, Laila, Sri Resmi, Mudi Rahayu, Haryadi Kusnan dan Mulyadi. 

Acara yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya itu dilanjutkan dengan penyerahan bunga mawar dan bingkisan sebagai tali asih kepada para guru. Selanjutnya acara berlangsung gayeng penuh canda tawa pada sesi foto bersama per angkatan, dan hiburan yang disajikan oleh setiap angkatan.

Aksi PAnitia Lintas Angkatan
Kehebohan tidak hanya terjadi di panggung acara, melainkan juga pada beberapa spot yang dipenuhi oleh kerumunan para alumni. Gelak tawa, peluk cium, canda, hingga airmata mewakili kebahagiaan para alumni yang telah sekian puluh tahun baru bertemu kembali. Tidak sedikit di antara mereka yang datang dari luar kota bahkan dari luar jawa hadir untuk meleburkan segala kerinduan terhadap almamater tercinta yang notabene saat ini secara fisik SPG telah dilikuidasi. 

Sekolah Pendidikan Guru boleh hilang dari struktur pendidikan di Indonesia, tapi tidak bisa dipungkiri jejak karya para alumninya memenuhi persada di segala bidang. Mulai dari para pendidik, pengusaha, penulis, pekerja media, karyawan, pejabat, dan bidang-bidang profesi lainnya. 

Kehebohan para alumni
SPG Negeri 6 yang lahir dari cikal bakal SPG Fillial I adalah salah satu dari 7 sekolah pendidikan guru yang pernah ada di Jakarta. Generasi awal yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi pendidik di usia remaja belia. Sama halnya para siswa di jenjang pendidikan menengah atas, mereka pun merasakan keceriaan dan cinta monyet masa remaja meski dibalut tanggung jawab sebagai pendidik. Maka tak heran jika pada acara reuni tersebut tak sedikit yang tersipu malu saat bertemu para mantan pacar, atau sekadar kakak-kakak kelas yang dikagumi diam-diam. 

Seruuu memang. Tentunya keceriaan dan rasa kangen takkan pernah tuntas meski dibatasi waktu. Semoga ke depan akan ada lagi reuni akbar session selanjutnya, karena rindu hanya akan bermuara di laut lepas. tempat di mana kerinduan mengalir sampai jauh. 

#ReuniAkbar
#AlumniSPGNegeri6
#SPGBantara





Tuesday, August 9, 2016

Full Day School Antara Fakta dan Realita.


Koleksi Foto Mama Ephy
Sosial media sepekan belakangan ini gonjang ganjing dengan wacana full day school yang digelindingkan oleh menteri pendidikan yang baru, Muhadjir Effendy. Beragam tanggapan dari pro dan kontra saling bersilang meramaikan dunia maya. 

Secara etimologi, full day school berarti kegiatan belajar sehari penuh. Sedangkan secara terminologi bisa diartikan sebagai sistem pembelajaran sehari penuh dengan menambah muatan materi pelajaran, pendalaman, pengembangan diri dan kreatifitas. 

Full day school mulai muncul di Amerika sekitar tahun 1980an yang diterapkan pada jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak. Dengan alasan semakin banyak ibu pekerja yang tidak memiliki pengasuh untuk membantunya mengurus anak selama ia bekerja.  Di Indonesia sendiri, sistem full day school mulai booming pada tahun 1990an dengan maraknya berdiri sekolah-sekolah berlabel islam terpadu atau sekolah unggulan. 

Faktanya, dengan adanya sistem full day school, sekolah dituntut untuk memberikan fasilitas yang memadai bagi murid-murid dan juga para gurunya. Bagaimanapun mereka akan beraktivitas sehari penuh di sekolah. Fasilitas mulai snack, makan siang, jam tidur, tempat tidur, besaran gaji guru, dan fasilitas lain yang menunjang harus bisa disediakan oleh sekolah. Pemenuhan semua fasilitas tersebut bukanlah sesuatu yang murah. Hal ini akan berdampak pada besarnya biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh orangtua murid. 

Jika alasan dicanangkannya full day school semata agar jam sekolah anak matching dengan jam kerja orangtua, maka program ini sepertinya hanya cocok diterapkan di perkotaan dan bagi sekolah yang mayoritas kedua orangtuanya adalah pekerja. Sementara di daerah pinggiran, daerah terluar, termiskin, dan tertinggal, yang mayoritas orangtua, utamanya para ibu adalah ibu rumah tangga, sekolah dengan sistem seperti ini sulit diterapkan. Terlebih bagi para orangtua yang juga membutuhkan anaknya untuk membantu pekerjaan atau bahkan bekerja menambah penghasilan keluarga.

Alasan lain diluncurkannya wacana tersebut untuk tingkat pendidikan dasar SD dan SMP juga antara lain untuk mencegah anak melakukan aktivitas bebas, lepas kontrol dan cenderung berkonotasi negatif. Adakah fakta dan realita berdasarkan angka-angka survey dan kasuistik yang menunjang alasan tersebut?

Plus minus full day school sama halnya dengan sistem pendidikan lainnya, pastinya akan terus menuai pro dan kontra. Jika full day school hanya membebani anak dengan tambahan pelajaran secara teoritis, lebih baik anggaran pendidikan digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Perbanyak pendidikan life skill, critical thinking, dan pendidikan terukur yang bisa melejitkan seluruh potensi anak. 

Full day school untuk jenjang pendidikan dasar tidak perlu harus seminggu penuh. Juga tidak dengan materi pendidikan yang membosankan dan mendorong anak menjadi lebih stress. Saya sendiri mengalami "full day school" saat menjadi siswi SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Pendidikan sehari penuh yang full fun. Saya dan kawan-kawan saat itu tidak dibebani materi pelajaran yang bikin stress. Kami mendalami life skill yang kelak sangat berguna saat umur bertambah beberapa puluh tahun. 

Indonesia juga memiliki sejarah full day school yang panjang lewat pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah berasrama, Tidak cuma sehari penuh murid-murid belajar di sekolah itu. Mereka bahkan 24 jam berinteraksi penuh dengan para guru dan teman-temannya. 

Sistem adalah sistem, seperti mata pisau, apakah akan menjadi manfaat atau mudharat, tergantung siapa yang menggunakan pisau tersebut. Bagaimanapun saya memimpikan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Siapapun menteri pendidikannya. 

*Meruya, 9 Agustus 2016
*Kudedikasikan tulisan ini untuk alumni SPG Negeri 6 angkatan 1988


Monday, June 13, 2016

Masjid Madrasah Kepemimpinan


Foto diambil dari Google
Mengingat masjid, berarti memutar ingatan pada sosok seorang guru ngaji yang kupanggil Babe. Lelaki bersahaja yang selalu “galak” dalam mengajari anak-anak mengeja huruf hijaiyyah. Babe tidak cuma mengajar ngaji atau menuntut kami agar sesegera mungkin khataman. Lebih dari itu, Babe mendidik kami untuk menjadi pemimpin.

Di benak seorang anak, apa yang beliau ajarkan bisa jadi sekadar numpang lewat. Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri, otak seorang anak merekam segala hal dan menyimpannya di alam bawah sadar. Kalimat yang sampai hari ini masih melekat dalam ingatanku adalah, “Kamu boleh jadi apa saja. Boleh melakukan apa saja. Tapi ingat, kamu adalah pemimpin. Setidaknya untuk dirimu sendiri. Seorang pemimpin akan diminta tanggung jawabnya kelak sama Allah.”

Harus kuakui, sejauh apapun kaki melangkah dan tangan berkarya, nasehat Babe menjadi rambu bagiku. Mungkin sesekali tergelincir. Berhenti sejenak. Lalu ngegas lagi di arena yang benar.

Hari ini, di saat banyak orang bergaduh soal memilih pimpinan. Soal kriteria seorang pemimpin ideal. Melihat fenomena seperti ini, aku berpikir, seharusnya lebih banyak lagi guru-guru mengaji yang memiliki visi sebagai seorang leader, seperti Babe. Guru mengaji yang tidak hanya mengajarkan ini halal, dan itu haram. Guru ngaji bermental pemimpin. Menjadikan masjid sebagai sarana leaders create leaders. 

*Word Count 199 kata


Lombamenulis

Wednesday, August 12, 2015

Menautkan Jejak Eksistensi

Pernah dengar yang namanya SPG? Sales Promotion Girl? Oooh noo! Terus apa? Sejenis makanan baru yang enak bingiits? Yeeey bukan juga! SPG adalah Sekolah Pendidikan Guru. Emang ada? Ada dooong. Sekolah ini ngetop pada jamannya, dan rata-rata guru senior yang masih mengajar sekarang adalah tunas bangsa yang lahir dari rahim SPG. 

Saya adalah salah satu lulusan SPG Negeri 6 Jakarta yang pernah eksis. Kalaupun sekarang sekolah ini dilikuidasi, bukan semata karena peminatnya berkurang. Melainkan pemerintah, khususnya menteri pendidikan pada tahun 1991, memutuskan guru harus lulusan setingkat diploma. Maka dibentuklah yang namanya PGSD alias Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang menjadi bagian dari IKIP pada saat itu. Jadi jenjang pendidikan untuk menjadi guru lebih lama. Harus tamat SMA dulu. lalu masuk PGSD, baru bisa jadi guru. Sementara di jaman saya sekolah, lulus SMP bisa langsung masuk SPG dan siap jadi guru SD. 

Apakah itu berarti lulusan SPG tidak berkualitas? Hohoho siapa bilaang! Para siswa lulusan SPG kenyang ditempa dengan pendidikan yang ketat, target ketat, praktek mengajar ketat dan berkesinambungan sejak kelas 1. Tidak ada yang namanya sekolah bisa berleha-leha seperti anak sekolah jaman sekarang. Sedikit kesempatan buat kami jadi berandal sekolah. Apalagi yang namanya tawuran, siswa-siswi SPG track recordnya bersih 

Jadi masa-masa saya di SPG stress doong dengan segala peraturan yang ketat? Iiih nggak laah yaauw. Kami menikmati masa remaja sebagai murid, sekaligus menikmati masa-masa "dimatangkan" untuk menjadi guru. Terlalu banyak kenangan indah yang kalau dituliskan bisa jadi novel berseri looh. 

SPG pernah ada. Kami pernah menikmati masa-masa itu. Kenangan-kenangan itulah yang menyatukan keinginan kami untuk temu kangen. Jadilah tahun ini kami melakukan halal bihalal khusus alumni SPG Negeri 6 angkatan 88, di rumah Nining, Kodam Bintaro. Waah sudah pada tua doong! Yaiyalah! Tapi kami menolak tua. Buat kami tua itu kalau sudah tidak lagi bisa berdaya dan berkarya. 

Saya dan teman-teman masih asyik berkarya dengan segala daya dan pastinya karena itu kami bisa bergaya, ya kaan? :) Tidak semua lulusan SPG pada akhirnya menekuni profesi sebagai guru di sekolah. Tapi mereka tetaplah guru di universitas kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Saya sendiri sudah tidak lagi mengajar secara formal sejak tahun 2005. Beberapa teman mengambil jalur di dunia industri, perkantoran, bisnis, dan banyak lagi bidang kehidupan yang diisi oleh para alumni SPG ini. 

Namanya juga alumni ya, jadi kalau lagi halal bihalal begini isinya pasti saling membully tentang kenakalan atau kejahilan kami semasa sekolah. Tak ketinggal cerita-cerita kenangan yang bisa bikin ketawa hahahaha meskipun pada saat kejadian dulu pastinya ada yang menangis. 

Para anggota tim volly sekolah ; Nining, Lilis, dan Ninuk asyik bernostalgia tentang dunia vollynya. Nina Si Ibu Lurah masih seheboh dulu dengan ceritanya tentang pembalut yang terbalik, meski tampangnya innocent, sampai-sampai Ibu Rahmiati tidak percaya kalau ia yang melempar kulit rambutan dan nyangkut di konde si ibu hihihi. Tuji? Aaah ya gadis berkepang 2 di sekolah ini masih cempreeeng, hebooh dan tetap mengucap i dengan e, alih-alih seribu jadi serebu, Cipinang jadi Cepinang, aiih lucunyaaa.

Gusti si mamah Dedeh, masih usil dengan kalimat-kalimatnya yang kalau tidak cerdas menanggapi, membuat kita terjebak. "Ndi, rumahnya masuk mobil nggak?"
Naah coba apa makna kalimatnya tersebut hayooo :)
Sementara Paryati, Fairny dan Halimah masih sekalem dulu. Eeeh tapi kadang-kadang Fairny bawel juga sih xixixi. 

Lalu Gobind Jay alias Jahidi si kurus krempeng yang menjelma jadi wakil kepala sekolah yang berkarisma, kalau ngomong masih pakai mikir dulu. Duuh kebanyakan mikir, Pak. Ketinggalan pesawat loooh, eeh nggak ding. Bapak satu ini baru pulang umroh yang tentunya naik pesawat. 

Yang lebih tidak terduga, H. Andy yang di masa sekolah sepertinya melambai xixixi ... sorry ya Jiii. Ternyata cukup tegas menjadi ketua ikatan alumni SPG Negeri 6 angkatan 88. Andy yang sukses jadi pebisnis, begitu peduli akan keberlangsungan silaturahmi para alumni ini. Bisa dibilang, Andy lah motor penggerak reuni kami.


Enak dong ya bisa halbil sambil reunian. Tentu enak. Apalagi didukung pasangan hidup yang setia dan mau mengantar serta menunggui kami berhaha hihi ria. Para bapak-bapak itu asyik ngobrol soal batu akik, sambil ngopi dan ngrumpiin para istrinya pastinya. 


Sayangnya reuni ini belum lengkap. Doli, Upik, Mung Ha, Nurjanah, Uthe, Nitis, Subur, Dwi Restu, Eem, dan masih banyak lagi yang tidak bisa hadir dengan alasan masing-masing. Semoga mereka baik-baik saja dan pastinya tetap berkarya di bidangnya masing-masing.

SPG boleh tiada secara wujud dan eksistensi. Tapi obor tetap menyala di dada kami para alumni yang mengemban amanah untuk anak negeri.  Silaturahmi ini adalah upaya agar tidak kepaten obor sesama alumni. Alangkah bahagianya jika sampai anak cucu kita saling mengenal karena para orangtua mereka terjalin dalam persahabatan yang solid. 

Semoga reuni pertiga bulanan di rumah Nina Dahlan, di bulan Nopember 2015 dihadiri oleh lebih banyak alumni. Ayoo hadir doong di rumah Nina. Supaya kalian terus jadi inspirasi tulisan saya hehehe. O ya Titie akan selalu ada di setiap reuni sebagai pengamat untuk menjadikan kalian sebagai bahan tulisanku hohoho .... 

*Kudedikasikan tulisan ini buat teman-teman Alumni SPG Negeri 6 angkatan 1988
*Meruya, 12 Agustus 2015

Jiiiangkriiik! Ini Bukan Review

Kamu pernah merasa gundah? Resah? marah? Kecewa? Atau aneka perasaan lain yang mewakili kata bad mood. Kalau iya, saranku ; segera pergi ke toko buku dan temukan 2 buku yang fotonya mejeng di postingan ini.

Kedua buku itu benar-benar jiiiangkriiik! Bisa menguras airmataku, menohok, dan melemparkanku pada level kesadaran yang kembali menggerakan jemariku di atas laptop. Kok bisa ya buku-buku membuatku serasa ditampol dengan kekuatan gajah yang melindas dan meraung-raung terus isinya di kepala? 

Kuberitahu satu hal, Saya tipe orang yang baru bisa nyadar lewat membaca. Sebelum sebuah lampu pijar berkedip-kedip di kepala dan menimbulkan bunyi beep-beep-beep beep maka saya akan terus mencari bahan bacaan yang mampu menyurutkan emosi  ke level sadar sebagai manusia yang lemah dan hanya seorang hamba Allah yang tak bisa apa-apa tanpa seijinNya.

Nggak Usah Kebanyakan Teori Deh...! Sukses membuat mata saya berpijar dan menyadari bahwa selama ini saya kebanyakan mikir ini dan itu hingga kadang tulisan-tulisan saya tidak selesai. Saya sering tidak berani ambil risiko dan selalu berdebat dengan diri sendiri setiap kali mau melakukan apapun. Bab demi bab dalam buku ini membuat saya berani melepaskan teori-teori yang selama ini mengungkung hati dan pikiran. 

Yakin Selamanya Mau Di Pojokan? Duuuh Monica Anggeeeeen! Dari mana sih kamu dapat banyak kalimat-kalimat ajaib dalam buku ini yang membuat saya menangis tersungkur di atas sajadah? Uuuh buku ini memang ajiiib! Lebih memotivasi daripada motivator manapun. Lebih mencerahkan daripada banyak nasehat yang belakangan ini saya terima dalam masa-masa saya menangisi kondisi yang tidak menyenangkan. 

Aaah pokoknya jiiiangkriiik! Ini bukan review. Cuma curhat seorang Titie saat membaca 2 buku ajaib ini. Kedua buku ini mengingatkan saya pada masa di mana kondisi yang nyaris serupa pernah terjadi.

Di tahun 1989, terjadi pergolakan hati antara pakai jilbab atau tidak. Kalau pakai jilbab, saya tidak bisa mejeng, hura-hura, jail, ngisengin orang, hiking, dan aneka kegiatan lain yang pastinya terbatas saat saya berjilbab. Keraguan saya dibanting telak oleh sebuah buku tentang 100 Tanya Jawab Tentang Jilbab yang diberikan oleh kakak tersayang, Mbak Heti Afiatushalihah. Maka bermetamorfosalah saya menjadi muslimah berjilbab setelah khatam membaca buku itu.

Lalu ketika satu-satunya anak saya meninggal di tahun 2008, sebuah buku yang saya lupa judulnya tapi ingat persis isinya, mengentak rasa keikhlasan  yang nyaris merosot di mata kaki. Bahwa bagaimanapun setiap yang hidup pasti akan mati, Buku itu menguatkan saya untuk menjalani hari-hari seorang diri.

Kini terulang lagi. Buku-buku karya Monica Anggen itu, membuat saya nangis termehek-mehek membuat sebuah pengakuan di atas sajadah bahwa selama ini saya belum memaksimalkan seluruh potensi yang Allah anugerahkan. Terlalu banyak berteori, sering tidak sabaran dan ingin segera memetik hasil, mati ide (padahal sumur ide ada di mana-mana), dan kebanyakan berpikir.

Selesai termehek-mehek, sebuah kata melintas, "Jiiiangkriiik!"

Iiih penulis kok bahasanya pake jiiangkrik. Yaaah kan saya pernah menjejakkan kaki di Surabaya. Kata jangkrik bukan makian. Sering juga dipakai untuk menunjukan kekaguman dan pujian atas sesuatu yang menarik hati. Masyarakat Jawa Timur, khususnya Surabaya, kesannya memang kasar ya dalam berbahasa. Tapi itulah bahasa kejujuran hati.

Jadi buat kamu yang sedang merasa terpuruk dan dikurung bad mood, kalau sampai tidak beli kedua buku ini, sungguh kalian akan menyesal. Karya Monica Anggen yang seperti "anak kembar" ini memang layak masuk kategori best seller. Karena memang jiiiangkriiik! hehehe. 

Last but not the least, sungguh benar Allah dengan segala firmannya. "Iqra!" Hanya dengan membaca; pemahaman, kesadaran, pengetahuan, logika, dan rasa dapat dipuaskan. Maka bacalah apapun yang bermanfaat bagi kehidupanmu.

*Meruya, 12 Agustus 2015




Monday, May 11, 2015

Awas Ada Setaaan!


Di masa kanak-kanak, para orangtua kerap melarang anak-anaknya  keluar rumah pada waktu maghrib. Dengan kalimat andalan, “Jangan keluar kalau maghrib nanti dibawa wewe gombel." Atau, “Awas looh! Nanti kamu diculik genderuwo kalau keluyuran waktu maghrib. Awas ada setan tuuuh!"

Apa sebenarnya yang terjadi di waktu maghrib? Sampai para orangtua mengultimatum seperti itu?. Apakah benar hantu, wewe gombel, genderuwo dan segala jenis setan-setanan eksis dan benar adanya? Sehingga jadi senjata andalan untuk menakuti-nakuti anak kecil supaya patuh tanpa reserve atas perintah ayah ibu nya?.

Berdasarkan kajian dari sudut pandang agama, ternyata Rosululloh Muhammad SAW melarang keluar pada waktu maghrib berdasarkan hadits berikut :
“Dari Jabir RA, Rosululloh SAW bersabda, "Ketika malam turun, dekatkanlah anak-anak kalian kepadamu.  Karena waktu itu syaithan berkeliaran.  Sejam kemudian Kalian dapat melepaskan mereka. Dan tutuplah pintu-pintu rumahmu dan sebutlah nama Allah. Padamkanlah lampu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah minumanmu dan sebutlah nama Allah. Tutuplah juga bejanamu dan sebutlah nama Allah, sekalipun hanya dengan meletakkan sesuatu di atasnya." (HR.Bukhari).

Dari hadits tersebut dijelaskan bahwa, ketika malam turun, antara waktu maghrib dan isya ( perhatikan kata sejam kemudian) Kita dianjurkan untuk tidak keluar rumah untuk kebaikan diri sendiri. Selain itu hadits tersebut juga mengajarkan untuk menutup pintu, minuman dan setiap wadah yang ada dengan mengucap basmalah. Sebagai upaya menghindarkan diri dan keluarga dari gangguan setan. Sementara memadamkan lampu dengan menyebut nama Allah adalah sebuah pelajaran untuk mendapatkan tidur yang berkualitas selepas waktu isya. Karena dengan memadamkan lampu tubuh akan mudah relaks dan tidur lebih cepat sehingga tubuh akan mengeluarkan zat melatonin yang mampu melakukan self healing dari berbagai penyakit, dan membangun sistem imun alami. Anjuran untuk tidur selepas isya adalah agar kita bisa bangun di pertiga malam terakhir untuk sholat tahajud.

Sementara berdasarkan kajian ilmu medis timur yang dikenal dengan akupunktur, ditemukan bahwa waktu maghrib identik dengan spektrum gelombang warna merah. Waktu di mana setan dan iblis memiliki tenaga maksimal disebabkan warna merah adalah gelombang frekuensi mereka. 

Larangan keluar rumah di waktu maghrib juga berguna bagi kesehatan frekuensi otak, otot dan tulang. Karena pada waktu maghrib, tenaga kerja jantung yang mengandung unsur api sebagai salah satu elemen lima unsur alam dalam teori yin dan yang, sedang berada dipuncak. Jantung berhubungan dengan darah (sie). Dan pembuluh darah mempengaruhi kerja otot dan tulang. Ketidak maksimalan kerja jantung akan mengakibatkan seseorang mudah terkena rheumatoid arthritis ( rematik) dan osteoarthrosis (nyeri tulang). Itulah mengapa sebaiknya menghindari mandi antara waktu maghrib dan isya. Bukan air yang menyebabkan seseorang terkena rematik jika mandi di waktu tersebut, melainkan kondisi yin yang tubuh yang tidak seimbang. Berdasarkan kajian tersebut, selayaknya kita menjadikan waktu maghrib untuk menjalin komunikasi transenden dengan Sang Pencipta dengan sholat dan dzikir, untuk menyerap tenaga alam dan menguatkan Qi=Ci Jantung, agar mampu mengalirkan darah dan oksigen ke otak dan memberi kekuatan pada otot dan tulang. 

Kembali pada masalah tidak boleh keluar di waktu mahgrib, selayaknya tidak hanya berlaku untuk anak-anak namun juga bagi kita yang sudah dewasa. Bagaimanapun menghentikan sejenak aktivitas di luar rumah( bagi mereka yang bekerja di luar) dan mampir ke masjid untuk sholat maghrib adalah upaya menghindarkan diri, tidak cuma dari gangguan setan secara psikis, tapi juga secara pisik mencegah diri dari kecelakaan. Karena gelombang warna merah akan sangat berbahaya jika bertumbukan dengan cahaya yang menyilaukan mata, baik dari sinar lampu jalanan, atau sorot lampu kendaraan yang menyebabkan banyak terjadi kecelakaan di waktu maghrib.

Sementara bagi bayi, balita dan anak-anak kita, larangan keluar rumah memberi pelajaran dan membiasakan anak menjalani pola hidup sehat. Alih-alih membiarkan anak keluar rumah atau justru orangtua mengajak anak jalan-jalan waktu maghrib, lebih baik jika anak diajak sholat berjamaah, belajar bersama, dan mendongeng. Terlebih bagi para bayi dan balita yang masih peka dan dalam masa keemasan memori dan mengimitasi banyak hal. Kebiasaan baik yang kita ajarkan, akan menjadi sebuah proses pembelajaran yang tersimpan sebagai file di alam bawah sadar. Kelak akan membantu mereka untuk mempelajari sesuatu yang lebih rumit seiring pertambahan usianya. Otak mereka sedang berkembang dengan pesat di usia keemasannya, jangan cederai sinap-sinap (jaringan penghubung antar otak) mereka dengan membawa ke dalam pusaran spketrum warna di mana setan dengan segala kekuatannya menyusupkan bisikan-bisikan halus untuk merusak kemampuan otak ananda tercinta. ,

Pembiasaan polah asuh dan pola hidup yang baik dari orangtua, akan menjadi kebiasaan yang tertanam di dalam diri seorang anak. Dengan demikian, tidak perlu lagi menakuti-nakuti anak dengan segala cerita mistis hantu-hantuan, yang justru akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang penakut dan lemah. Bagaimanapun, upaya baik untuk menjaga dan mendidik keluarga tercinta, adalah keinginan setiap orangtua. Mari jadikan waktu lebih berharga dalam setiap detik kehidupan yang diberikan selama nyawa masih melekat di jiwa.


*Duri Kepa, 12 Mei 2015
*Sebuah recycle tulisanku yang pernah dipublish di www.jinggapublishinghouse.com
*Diolah dari berbagai referensi. 



A Journey Of Wedding

This love is the second chance of our life.
~Titie's Quote~

Sejak kemarin, ada degupan di kisi-kisi hati. Serupa rasa saat menanti kedatangan seorang kekasih. Padahal yang kunanti hanya sebuah tanggal. 11 Mei 2015. Sebuah tanggal yang penuh arti buatku, tentu juga buat suamiku. Tanggal yang menandakan setahun perjalanan cinta kami dalam ikatan suci bernama pernikahan. 

Bukan sebuah perjalanan mulus yang melulu bertabur mawar di setiap lintasannya. Kerap ada kerikil-kerikil kecil yang perlahan kami singkirkan ke tepian secara bahu membahu. Kerikil-kerikil yang kami sulap menjadi sebuah jalan setapak yang bisa kami lalui dengan bertelanjang kaki. Anggaplah kami sedang melakukan pijatan pada titik-titik refleksi di kaki yang akan menyehatkan dan menyegarkan body, mind, and soul.

Setelah melewati perjalanan berlumur kecewa, duka, dan airmata, Allah mempertemukan kami dengan cara yang unik. Buat kami, pernikahan ini adalah kesempatan kedua dalam kehidupan yang akan dijaga sepenuh jiwa agar iramanya tetap selaras dengan alunan cinta. 

Setahun memang baru permulaan dalam perjalanan sebuah pernikahan. Masih akan ada riak dan gelombang yang akan menghadang di depan. Orang bilang, setahun sedang manis-manisnya. Sedang rindu serindu-rindunya pada belahan jiwa. Namun berkaca dari pengalaman, sepertinya tak hendak kami biarkan jelaga mewarnai kesempatan kedua ini. 

Cukup banyak cerita dalam setahun ini. Suamiku yang pendiam, tak banyak beraktivitas, menjadi lebih banyak bicara karena kulibatkan dalam aktivitas-aktivitasku. Takkan ada cerita sukses dalam setiap aktivitasku tanpa dukungannya. Ia yang tak banyak mengungkapkan kata cinta, menjadi lebih ekspresif karena "kupaksa" untuk mengungkapkan cintanya tiap kali padaku hahaha. Karena perempuan selalu butuh bahasa verbal dari suaminya untuk merasa dicintai, bukan? Pendek kata, suamiku jadi lebih gaul dooong hahaha ....

Aku pun menjadi terlibat dalam jalinan pertemanan bersama sahabat-sahabatnya. Menyenangkan. Kami jadi kompak dalam banyak hal. Tak cuma sesuatu yang mengurai tawa, bahkan pada moment-moment yang memicu kesedihan dan kepanikannya. Seperti saat mama sakit. Kutahu suamiku tak cukup berpengalaman dalam urusan rumah sakit. Tugaskulah sebagai istri untuk menenangkan hatinya dan membantunya berbakti pada orangtua dengan mengambil alih segala urusan rumah sakit. Lalu segala keletihanku wira wiri ke rumah sakit, sirna dalam sekejap, setiap kali ia merengkuhku, membawa ke pelukannya. 

Darinya aku belajar mengendalikan waktu untuk tak beraktivitas berlebihan di luar rumah. Sebisa mungkin aku sudah di rumah sebelum ia pulang kerja. Jikapun terpaksa harus beraktivitas melebih batas toleransi waktu, aku selalu memohon ijin dan keridhoannya. Bagaimanapun saat ini aku adalah seorang perempuan bersuami yang harus bisa menyelaraskan waktu kerja, aktivitas sosial, hobby,  dan urusan rumah tangga. 

Bersamanya aku menjadi lebih berani untuk bermimpi dan menyusun langkah satu persatu untuk meraih setiap mimpiku. Mimpi-mimpi yang kususun untuk membahagiakan suami, mama, ayah, dan adik-adikku. Cintanya menjadi energi booster buatku meraih bintang di ketinggian. Untungnya suamiku bukan type lelaki yang mengekang istrinya di rumah. Ia sangat tahu kapasitas istrinya yang tidak bisa duduk manis di rumah. Ia sangat paham bahwa setiap ide di kepalaku butuh pelepasan. Ia pun tahu bahwa setiap peluang yang menghampiriku adalah dukungan semesta untuk meraih mimpi-mimpiku. Maka keridhoannya menjadi penyejuk hati dan memperingan langkahku. 

Lalu, fabiayyi a'ala ii robbikuma tukadzibaaan .... nikmat mana yang bisa kami dustakan? Mungkin kami masih belum terlalu pandai bersyukur. Tapi setiap detik yang berlalu adalah untaian dzikir cinta pada Sang Mahacinta. Meski dengan cara sederhana, cinta mengajarkan kami untuk senantiasa melembutkan hati, terhadap setiap kejadian yang menghampiri. Untuk selalu menganyam kesabaran di atas masalah-masalah yang kadang terlihat berat. Namun dengan bergenggaman tangan membuat tak ada yang tak mungkin untuk dilalui. Aku dan suamiku bukanlah satu, melainkan dua jiwa berbeda yang terus belajar untuk menyejajarkan langkah, menyatukan irama cinta, dalam perjalanan panjang sepanjang sisa usia. Jika hari ini Allah belum memberi amanah seorang anak dalam pernikahan kami, maka itu adalah sebuah kesempatan yang Allah beri agar bisa berbuat lebih banyak untuk orang-orang tercinta dan untuk banyak orang di sekeliling kami. Semoga Allah membantu kami untuk selalu bisa meraih pelajaran dan hikmah dari setiap peristiwa. 



*Duri Kepa, 11 Mei 2015. 
Terima kasih untuk suamiku yang telah menjadikanku belahan jiwanya. Terus belajar bersama yuuuk, Maaas ....



Friday, April 10, 2015

Sukses Berberkah Karena Sakit Hati

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah bertanya padaku, "Apa obatnya patah hati, Mbak. Kekasihku selingkuh?" 

Jawabku saat itu adalah, "Jatuh cinta lagi. Lalu patah hati lagi. Kemudian jatuh cinta lagi berkali-kali, Kemudian rasakan bedanya patah hati kedua, ketiga, dan kesekian kalinya." 

Setelahnya, seorang teman yang lain berkata, "Aku sakit hati. Usahaku hancur. Ditikam teman dekatku sendiri. Piye carane mbalas sakit hatiku?"

Kujawab pertanyaannya, "Balaslah dengan menjadi lebih sukses dari kemaren."

Di kesempatan lain, seorang teman yang baru saja terkena musibah kematian suami dan anaknya curhat, "Kenapa Tuhan mengambil semua orang yang kucintai? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?"

Kupeluk dan kubisiki dia, "Karena Tuhan memberimu kesempatan untuk mencintai banyak orang yang lain. Karena Tuhan tahu, kamu punya sejuta cinta untuk dibagikan sebagai obat luka hatimu."

Sakit hati, patah hati, kehilangan, bahkan merasa hidup sebagai beban, adalah bentuk-bentuk emosi negatif yang bisa memancing stres berkepanjangan. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa semua emosi negatif itu bisa diolah menjadi stres yang positif? Stres negatif (distress) bisa diubah menjadi stres positif (Eustress). Bagaimana? Mungkinkah? Tentu sangat mungkiiin ....

Saat seseorang stress biasanya ia akan mengalami ketertekanan yang membuat emosinya meluap-luap dan mempengaruhi seluruh organ tubuh dan kinerja tubuhnya. Saat mengalami hal seperti ini, nikmatilah. Beri ruang pada hati dan jiwa untuk menikmati rasa sakitnya. Lalu menangislah. Karena menangis dapat menurunkan tekanan darah dan unsur mangan dalam tubuh. Sehingga suasana hati dan mood pun akan menjadi lebih baik. Dengan demikian akan melepaskan stres yang menekan jiwa. 

Pada saat kondisi jiwa dan tubuh mulai tenang, segeralah berwudhu lalu istighfar. Kemudian menulislah. Karena menulis dapat menjadi sarana mengkatarsiskan emosi. Tulis apapun yang melintas dalam pikiran Anda saat itu. Endapkan tulisan itu. Lalu baca kembali di suasana hati yang lain. Rasakan perbedaan emosi saat membaca tulisan tersebut. Bisa jadi kita tertawa saat membaca tulisan tersebut di lain kesempatan.

Setelah menulis, keluarlah. Pergilah menemui teman yang bisa membawa mood kembali bagus. Masuki komunitas yang bermanfaat. Bisa komunitas menulis, seni, merajut, melukis, pecinta batu akik, atau apapun. Serap energi positif yang ada dalam kebersamaan dengan anggota kemunitas tersebut. 

Sakit hati bukanlah harga mati untuk bunuh diri. Patah hati, luka jiwa, dan aneka kata yang mewakili kegagalan, kehilangan, bete, dan sebagainya, bisa menjadi peluru yang melesat menuju kesuksesan. Sungguh banyak cerita kesuksesan yang berangkat dari kegagalan, patah hati, sakit hati, dan lain-lain. 

Sebut saja Bung Karno, yang mampu menjadikan Indonesia merdeka dan berdaulat karena sakit hati atas segala penjajahan. Meski harus mendekam di balik penjara, diasingkan, dan berkali-kali hendak dibunuh. Tapi rasa sakit hati sebagai anak jajahan melejitkan dirinya menjadi Sang Proklamator. 
Lalu Thomas Alhpa Edison yang mampu menemukan lampu pijar sebagai cikal bakal kelistrikan saat ini, justru setelah ia berkali-kali mengalami kegagalan dan ejekan sebagai anak yang tak cerdas.
Masih ada Steve Jobs, pendiri Apple, perusahaan IT yang menghasilkan iphone. Seorang pengidap diklesia yang kuliahnya cuma sampai semester satu. Stres dengan sistem perkuliahan yang menurutnya tidak kondusif, memacu dirinya menemukan produk teknologi hingga menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Bahkan Willian Shakespeare mampu menulis kisah Rome dan Juliet yang fenomenal, karena cintanya yang tak sampai pada Viola de Lessep. Yang tak kalah penting, uswah hasanah, rosul mulia, Muhammad Saw yang gigih mensyiarkan Islam dengan mengatasi segala rasa sakit diejek, dimaki, dilempari kotoran, bahkan intaian pembunuhan setiap saat. Andai segala rasa sakit hati yang beliau rasakan menjadikannya putus asa, tentu Islam tak kita kenal saat ini. 

Kesuksesan sering lahir dari rahim kesedihan, patah hati, duka, dan aneka emosi negatif yang diolah menjadi peluru. Mereka tidak serta merta bisa mengatasi duka sekejap mata. Tak semudah membalik telapak tangan. Perlu upaya untuk mengubah luka menjadi karya. Perlu airmata untuk mennyuburkan setiap bulir perjuangan yang ditanam dalam proses menuju sukses. Juga perlu Kesungguhan dalam mengulurkan tangan ke dalam genggaman tangan Tuhan, agar dibimbing menuju keberhasilan.

Duka tidak melulu tentang airmata. Tapi sebuah proses dan upaya mengungkap sebentuk cinta dari Sang Mahacinta. Sakit hati tidak semata sebuah goresan yang memedih jiwa. Melainkan sebuah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menjadikan diri kita lebih berarti dalam menorehkan jejak karya atas nama cinta. 

Maka bahagialah mereka yang pernah sakit hati, patah hati, memilin duka, dan memeras airmata. karena sejatinya mereka sedang diberi "hadiah" untuk melejitkan potensi diri menuju sukses. Kesuksesan yang berkah karena metamorfosis sakit hati.

Jika saat ini Anda sedang berduka, patah hati, sakit hati, bete, sedh, SELAMAT! Anda sedang memasuki fase menemukan tajamnya peluru yang akan menjadikan diri Anda lebih berarti. Ayooo segera bangkit. Ubah distress-mu menjadi eustress. Anda pasti bisa.


*Catatan seorang penghayat duka dan luka jiwa. Meruya, 10 April 2015

Tuesday, April 7, 2015

Peserta BPJS Disayang Jangan Dibuang

Seharusnya tulisan ini kuposting sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi kesibukan yang mendera, membuat terlambat posting. Its oke, Better late than never, bukan? :)

Mama mertuaku setahun belakangan ini mengidap sakit diabetes akut yang menyebabkan lambungnya juga bermasalah. Berkali-kali sudah mama berobat ke dokter umum. Belum juga membaik kondisinya. Setelah menjadi peserta BPJS, mama berobat di Balai Pengobatan Perjuangan, Kebun Jeruk. Setelah 2 kali berobat, maka dirujuklah mama ke RS PELNI untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dengan endoskopi. Dokter mendiagnosa terjadi penumpukan cairan di lambung yang harus disedot lewat bedah minor.

Berdasarkan surat rujukan dari Balai Pengobatan tersebut, aku mengantar mama untuk berobat ke RS PELNI Petamburan, pada tanggal 22 Januari 2015. Beruntungnya mama mendapat seorang dokter senior yang teliti saat melakukan pemeriksaan. Dr. Agus, SpPd .... (deretan gelarnya banyak sekali sampai aku tidak hapal). Setelah melalui pemeriksaan, perawat menyampaikan bahwa, mama akan dipanggil untuk rawat inap guna pemeriksaan dan perawatan lanjutan atas penyakitnya. Nomor hapeku dicatat, jika sewaktu-waktu ada kamar kosong untuk perawatan, maka pihak rumah sakit akan menghubungiku.

Kami pulang dari rumah sakit berbekal obat-obatan yang harus dikonsumsi mama selama masa menunggu. Tepat seminggu kemudian, pada tanggal 29 Januari 2015, rumah sakit menghubungiku, dan menyampaikan bahwa mama dapat segera masuk untuk menjalani perawatan pada hari itu juga.

Aku yang sedang di kantor saat menerima telepon, segera menghubungi suamiku agar memberitahu mama, dan mempersiapkan apa yang harus dibawa ke rumah sakit. Malam itu juga mama rawat inap. Aku yang mengurus semua prosedur masuk rumah sakit, sungguh tidak mengalami kerumitan apapun. Saat mendaftarkan untuk rawat inap, sebagai peserta BPJS, hanya dimintai uang jaminan perawatan sebesar dua ribu perak, Ya dua ribu perak, seharga segelas es teh di warteg. 

Malam itu mama dirawat di ruang rawat penyakit akut. Kami, anak-anaknya tidak diperkenankan menunggui. Aku dan suami terpaksa pulang. Sikap dokter, perawat dan bahkan satpam yang begitu ramah, membuat kami yakin, mama akan ditangani dengan baik meski tak kami tunggui. Aku sendiri percaya, Allah akan bekerja dengan baik lewat tangan-tangan para petugas medis tersebut.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku sudah tiba di rumah sakit. Untung tak terlambat, karena ternyata jadwal endoskopi-nya pukul 07.30. Aku sempat mengiringi brankar mama yang didorong masuk ruang endoskopi lalu ke ruang bedah minor. 

Lebih kurang dua jam mama ditangani di ruangan tersebut. Lalu dipindahkan kembali ke ruangan yang hanya bisa kulihat dari balik kaca jendela. Mama tertidur, efek bius pra tindakan di ruang bedah minor tadi. 

Lewat tengah hari, kulihat mama mulai sadar meski masih lemas. Kupantau keadaannya lewat perawat yang keluar masuk ke ruangan tersebut. Menjelang sore, mama dipindahkan ke ruang rawat Kenanga untuk observasi lanjutan. Malam kedua ini aku menemani mama di ruang rawat kelas dua. Di ruangan tersebut ada satu pasien lagi. Seorang gadis berusia 19 tahun yang sudah satu setengah bulan dirawat di rumah sakit ini,

Selama masa perawatan, dokter, para perawat, dan bagian gizi sangat memperhatikan keadaan mama. Kadar gula darahnya dipantau 5 kali sehari. Di hari ketiga, siang hari harusnya mama sudah boleh pulang. tapi gula darahnya yang mendadak melonjak hingga 600 mg/dl, membuat kepulangannya tertunda. Syukurlah menjelang maghrib, mama diijinkan juga pulang. 

Aku kembali mengurus administrasi kepulangannya. Dari ruang perawat, aku diberi berkas-berkas yang harus dibawa ke ruang administrasi. Kubaca total biaya perawatan selama 3 hari, sebesar 19 juta sekian ribu rupiah. Memasuki ruang administrasi, aku diterima dengan sangat santun oleh petugasnya. Lalu berapa yang harus kubayar untuk biaya perawatan sebesar itu? Hanya 37.500 rupiah saja. Subhanallah ... terpujilah mereka yang membuat program BPJS untuk meringankan perawatan rumah sakit bagi mereka yang tidak mampu. Dan sudah selayaknya pemerintah melakukan program jaminan kesehatan bagi warganya. 

Aku juga angkat topi dan mengacungkan 2 jempol bagi pelayanan RS PELNI yang luar biasa bagi para peserta BPJS. Layaklah rumah sakit tersebut menyebut dirinya sebagai rumah sakit rujukan peserta BPJS. Senyum, sapa yang ramah dan santun, betul-betul menjadi sebuah aksi nyata yang mereka lakukan sepenuh hati. 

Pasien gadis 19 tahun yang seruangan dengan mama, teman-teman yang menjaga para keluarga mereka yang sakit, ketika kutanya  juga bercerita tentang betapa baiknya pelayanan rumah sakit ini. 
Di sini peserta BPJS disayang, tak dibuang percuma. Karena menurut para perawat dan dokter yang sempat kuwawancarai mengatakan bahwa, "orang sakit dan keluarganya sudah begitu terbebani secara materi, moral, dan mental. Tugas kamilah meringankan beban mereka semaksimal mungkin. Kami tidak membedakan pasien umum maupun peserta BPJS. Karena beban mental mereka sama." 

Waah, andai semua rumah sakit menerapkan hal yang sama, betapa masyarakat tak perlu merasa ragu untuk menjadi peserta BPJS. Semoga ke depannya BPJS akan menjadi nilai tersendiri sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap warganya. karena diakui atau tidak, iuran BPJS jauh lebih murah dari asuransi kesehatan manapun. Semoga juga pelayanan-pelayanan di seluruh rumah sakit semakin layak, manusiawi, dan ramah bagi seluruh peserta BPJS. 

Perhari ini, kami tidak lagi ragu menjadi peserta BPJS. Pengalaman menunjukkan, masih banyak rumah sakit dan petugas paramedis yang berhati mulia. Terima kasih atas segala doa yang disampaikan untuk kesembuhan mama. Semoga segala doa baik berpulang bagi mereka yang mendoakan, amiiin. 


*Tiga bulan pasca perawatan mama, 7 April 2015



Tuesday, November 4, 2014

Bicaralah, Jika Ingin Sakinah

Sebuah perjalanan, apapun dimensi bentuk dan waktunya, selalu memiliki kisahnya tersendiri. Mungkin bukan kesederhanaan atau ingar bingar perjalanan itu yang harus dikisahkan, melainkan proses berjalan di dalamnya yang layak dicatat menjadi sebuah pembelajaran.

Tadi pagi, seorang teman mengatakan padaku ingin menggugat cerai suaminya. Dengan alasan, suaminya tidak bisa memahaminya. Tidak memberi nafkah yang cukup, tidak romantis, dan jenis tidak yang lain-lain. Sederet kekurangan suami yang dipaparkannya, membuatku mengernyitkan dahi. Lalu dulu kalian menikah atas dasar apa?  Apa karena dibutakan cinta? Sehingga yang pahitpun serasa cokelat? lalu sekarang semua lebih terasa pahitnya dan bikin mual, muntah, perih, kembung .... 

Saat kutanya, apakah suaminya pernah melakukan KDRT baik verbal maupun fisik? Dijawabnya, tidak. Sang suami lebih memilih diam, lalu pergi jika mereka ribut-ribut. Kubiarkan ia menangis. Setelah reda, kucoba beri dia masukan. Tapi semua ucapanku dimentahkannya. Ia merasa semua yang dilakukannya sudah benar. Ia benar, dan sang suami yang salah. Oooh ya sudah ... sepertinya ia perlu "ditampar" Mengutip mbak Didi, kalau orang curhat diberi nasehat tidak bisa, ngeyel, merasa benar, dan malah semakin emosional, ya jalan satu-satunya disadarkan dengan "keras" 

Aku cuma bilang satu kalimat, "Suamimu bukan fortune teller. He is not a robot too. And you are not an angel. Dont be selfish. I know you are. I can't pretend that you are  right.I can't stand on your side. Go home. Think, think, and think!"

Dia terperangah, lalu memaki, "Kamu bukan teman yang baik! kecewa aku sama kamu!" lalu ia pergi meninggalkan kantorku.

Its ok. Ini bukan pertama kali ia curhat seperti itu padaku. Aku bukan tidak memahami perasaannya sebagai perempuan. Di sisi lain aku juga kenal siapa suaminya. Dari tahun ke tahun aku mengamati rumah tangga mereka. Aku cukup tahu bagaimana ia bersikap pada suaminya.

Sebuah rumah tangga tidak dibangun berdasarkan keinginan seseorang, melainkan dua orang yang harus bisa mengharmonikan perjalanan menjadi selaras, seirama. Bukan lagi masanya perempuan berdiam diri, pasif sebagai istri. Bicaralah, jika memang ada yang harus dibicarakan. Bertindaklah, jika sesuatu itu bisa diubah dengan tindakan. Apa kalau suami tidak romantis, lalu sang istri diam, si suami bisa berubah? Suami bukan peramal yang tahu isi hati istrinya. Katakan, lakukan, contohkan apa yang kita mau sebagai istri. Suami yang baik pasti akan belajar, mencermati, dan mengubah kebiasaan buruknya demi rasa cinta dan sayangnya pada sang istri.

Enam bulan sudah aku menjalankan peran sebagai seorang istri buat suami tercinta. Lebay sepertinya kalau rumah tangga yang baru kujalani selama enam bulan disebut sebagai rumah tangga ideal. Rumah tangga kami masih merangkak dan belajar berjalan tegap. Tapi satu hal yang ingin kukatakan, dalam perjalanan ini kami belajar untuk saling memahami. Untuk saling bicara apa yang kami mau. 

Seperti pernah kutulis, suamiku bukan tipe lelaki romantis. He never say I Love You, kecuali di awal dia nembak aku. Lalu apa harga diriku jatuh, jika sering-sering aku bilang padanya, "Ade sayang sama Mas" No! Its A Big NO. 

Suamiku juga bukan tipe lelaki touchy, yang suka menyentuh, mencium ringan, atau sekedar cuddling. Apa lantas aku berubah jadi bitchy, kalau mencium, memeluk dan berlaku a bit wild padanya? Tentu saja tidak! He is my husband. Jadi aku punya hak untuk berlaku apapun padanya sebagai proses pembelajaran baginya untuk tahu apa yang kumau dilakukannya padaku.

Dalam rumah tangga tidak ada kata "aku lebih dari dia." Atau gengsi dalam melakukan atau mengatakan sesuatu. Rumah tangga adalah sekolah untuk belajar bersama menuju perubahan yang lebih baik dari hari ke hari. Kami berdua adalah pembelajar dalam rumah kehidupan yang kami bangun atas dasar kesadaran bersama.

Menyoal ekonomi, ketika hati kita memutuskan untuk menikah dengan seorang lelaki yang secara sadar kita pilih menjadi suami, tentu tahu bagaimana kapasitasnya dalam urusan ekonomi. Buatku seorang lelaki, seorang suami dapat disebut bertanggung jawab ketika ia memiliki etos kerja, tetap punya penghasilan. Soal cukup atau tidak, pilihannya ada dua. Turunkan standard hidup, atau sang istri juga bekerja membantu menopang kebutuhan rumah tangga. Bukankah Khadijah RA juga menopang biaya dakwah suaminya, Rasulullah SAW? Dan Zainab, istri Rasulullah yang lain juga membuat anyaman bambu untuk menopang biaya rumah tangga dan bersedekah membantu sesama yang kekurangan. 

Sudah bukan masanya perempuan hanya menunggu gaji bulanan suami. Perempuan bisa berdaya dan mandiri dalam urusan ekonomi. Bukan untuk menandingi atau bersaing dalam hal penghasilan dengan suami. Bukan juga untuk menginjak harga diri suami jika penghasilannya lebih besar. Perempuan bersuami, bekerja semata dalam rangka Fastabiqul Khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukankah dengan berpenghasilan, kita bisa bersedekah, berinfaq, dan melakukan banyak hal baik dengan tidak mengurangi jatah belanja rumah tangga? Bukankah sebagai istri pekerja juga bisa membantu suami mensejahterakan rumah tangga? Bekerja buat para istri membuka lebih banyak lahan untuk menyemai kebaikan. Lalu sampai kapan seorang istri bekerja menopang rumah tangga? Sekali lagi, bicarakanlah dalam suasana tenang dengan pasangan masing-masing, tanpa emosi. Tidak ada masalah yang akan selesai jika keran komunikasi tidak dibuka lebar-lebar. 

Rumah tangga seperti bertepuk tangan. Tidak akan ada suara meriah jika hanya sebelah tangan. Butuh dua tangan untuk menyemarakan suasana rumah tangga. Juga butuh dua hati yang saling ikhlas mengingatkan dalam kebaikan. Di atas segalanya, doa adalah kunci pembuka segala kesulitan. Jadikan rumah tangga sebagai proses ibadah bersama, kebersamaan yang harmoni antara imam dan makmumnya. Sakinah, mawaddah dan rahmah bukan sekedar slogan. Melainkan sebuah tujuan yang harus diupayakan. Sulit? Bukankah bersama kesulitan akan selalu ada kemudahan? Fabbi ayyi a'la ii robbikuma tukadziban ....

*Dedicated to my husband with love. Yuuk belajar bersama, mas ...

*Palapa, 5 November 2014. 



Tuesday, September 2, 2014

Jangan Berobat Alternatif!

Pagi tadi aku keluar rumah pukul 06.00 untuk beli lupis kesukaan suamiku. Melewati rumah tetangga pertama, nampak ramai. Kursi-kursi plastik berjajar rapi. Dari dalam rumah terdengar suara lantunan surat Yasin dibacakan. Aku bertanya pada salah seorang tetangga yang ada di situ, "Siapa yang meninggal?" 
Putra bungsu dari tetanggaku, berusia 5 tahun meninggal karena kanker Rhabdomyosarcoma. Kanker jaringan lunak yang biasanya lebih sering menyerang anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Kita tentu masih ingat film Surat Kecil Untuk Tuhan. Yang diangkat dari kisah nyata Gita Sesa Wanda Cantika (Keke) pasien pertama yang didiagnosa dengan kanker rhabdomyosarcoma. Tidak pernah kukira, aku akan menemui penderita penyakit ini dalam kehidupan nyataku.

Saat pertama aku pindah ke rumah kontrakan yang sekarang kudiami, ibu dari anak tersebut adalah tetangga pertama yang kukenal. Lima bulan yang lalu putranya kulihat seperti sedang sakit bisul di kelopak mata kiri bawah (biasa orang Betawi menyebutnya bintitan) Bisulnya semakin membesar hingga membuat kelopak matanya seperti tertutup. Aku menyarankan mereka untuk membawa anaknya ke berobat ke rumah sakit. Tapi dengan alasan lama ngantri dan dapat kamarnya, mereka memilih pengobatan alternatif. 

Lama kelamaan sakitnya ternyata semakin parah. Terakhir bola matanya sampai keluar dan turun ke pipi. Sementara pengobat alternatifnya bilang bahwa reaksi pengobatan baru akan nampak hasilnya enam bulan kemudian. Kembali aku menyarankan pada ibunya agar membawa anak tersebut ke rumah sakit. Kukatakan bahwa kecepatan kanker berkembang jauh lebih cepat dari pengobatan alternatifnya. Anak itu tidak bisa menunggu sampai enam bulan lagi. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya mereka membawanya ke RSCM dua minggu sebelum ramadhan. 

Dua minggu setelah Idul Fitri, anak lelaki tersebut dibawa pulang. Sebagai pasien peserta BPJS, jatah rawat inapnya cuma 2 bulan. Selanjutnya mereka harus daftar lagi. Antri lagi. Untuk mendapatkan ruang rawat inap berikutnya. Kulihat mata anak tersebut telah direposisi dengan kemoterapi rutin yang dilakukan seminggu sekali, meskipun masih belum sempurna. 

Kufikir pada rawat inap kedua, ia akan lebih membaik. Nyatanya kanker berkembang jauh lebih cepat dari daya tahan tubuhnya. Hari ini ia kembali pada Sang Empunya. Jujur aku tak memiliki cukup kekuatan untuk melihat wajahnya. Hanya suamiku yang bersimpuh dan menatap wajahnya untuk terakhir kali.

Kanker Rhabdomyosarcoma adalah kanker ganas yang hingga hari ini belum diketahui pasti penyebabnya. Beberapa ahli mengatakan karena faktor genetik, pola hidup, pengaruh radiasi sinar Xray, radikal bebas, dan gelombang elektomagnetik. Penyakit ini biasanya ditandai dengan adanya benjolan kecil serupa bisul di daerah jaringan lunak seperti ; mata, kepala, leher, kantung kemih, vagina, prostat, testis, lengan, kaki, ketiak, dan sinovial. Penyakit ini dapat dideteksi dengan tes darah, diagnosa tulang, dan CT Scan, disamping juga dengan merunut riwayat kesehatan kedua orangtuanya. Orangtua yang sering mengkonsumsi alkohol dan narkoba, cenderung menyebabkan mutasi dan perubahan gen yang memicu penyakit tersebut. 

Satu hal yang perlu diketahui, sebagai seorang praktisi akupunkturis dan herbalis, saya menganjurkan untuk tidak menyandarkan usaha pada pengobatan aternatif semata. Jikapun ingin melakukan pengobatan alternatif, harus disinergikan antara akupunktur, pengobatan dengan herba, dan pengobatan medis semisal kemoterapi untuk mempercepat memutus metastase sel-sel kanker tersebut. Patut diketahui bahwa metastase (penyebaran) sel-sel kanker jauh lebih cepat dari perkiraan siapapun. Penanganan penyakit kanker, berarti berpacu denga waktu. Segala hal memang harus diupayakan. tapi hati-hati jangan sampai terjebak dalam fanatisme pengobatan tertentu. Pengobatan alternatif, semisal dengan herba, membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk melihat hasilnya. Sebagaiman sifat herba itu sendiri yang bertumbuh tidak dalam waktu cepat. Sementara pengobatan dengan akupunktur tidak serta merta mematikan sel-sel kankernya, melainkan meningkatkan daya tahan tubuh penderita dan melokalisir kanker agar tidak bermetastase lebih cepat. Sedangkan kemoterapi adalah upaya memutus mata rantai metastase tersebut dengan mematikan sel-sel kanker.

Tidak ada pengobatan yang bisa berdiri sendiri. Mensinergikan upaya pengobatan adalah langkah terbaik untuk mengatasi penyakit ganas semisal kanker. Pengobatan alternatif semata, memang efektif untuk penyakit-penyakit ringan yang akan langsung nampak hasilnya. Tapi jangan sesekali bermain sekedar di ranah alternatif saja jika pemyakit yang dihadapi adalah penyakit ganas. 

Bagaimanapun, Allah adalah Sang MahaPenyembuh. Semua usaha pengobatan adalah ikhtiar kita sebagai manusia yang diberiNya iman, akal, dan pikiran. Mencegah tentu saja lebih baik dari mengobati. Jika segala ikhtiar telah purna dijalani, maka tawakal kepada segala kehendak dan keputusan Allah adalah yang terbaik bagi setiap hambaNya. 

*Palapa, 03 September 2014. Teriring doa untuk almarhum ananda Haikal bin Abdul Rokhim.

 


Tuesday, July 15, 2014

Ramadhan Pertama


Memasuki hari ke 18 Ramadhan, di sela-sela aktivitas pekerjaan, sesuatu menggelitik benakku dan berloncatan untuk dikeluarkan. Sesuatu bernama ide. Sang ide ini tidak berhenti meraung-meraung di ruang kepalaku sebelum ia dibebaskan. Maka inilah jalan pembebasan buat sang ide.

Ini adalah Ramadhan pertamaku sebagai seorang istri dari Muhamad Mubin. Lelaki yang meminangku dan memintaku menjadi istrinya dan sempat merasa down karena kuejek di awal pedekatenya hehehe *piiis Maas :)

Entah kapan kami mulai saling suka. Kesamaan hobby membaca karya-karya Bastian Tito, membuat percakapan di antara kami mengalir lancar. Sampai satu ketika dia mengirim sms padaku dan membahasakan dirinya 'mas' tentu saja aku tertawa terpingkal-pingkal membaca sms-nya. Bagaimana tidak, usianya 12 tahun lebih muda dariku. Lalu sekonyong-konyong dia menyebut dirinya mas bagiku. Kubalas sms nya dengan sebaris kalimat, "kamu salah kirim sms ya? gak lagi panas kan?" Aku menulis kalimat itu sambil tersenyum lebar.

Rupanya kalimat itu sempat membuatnya down. Untuk beberapa hari, dia tidak sms apalagi telepon. Aku merasa kehilangan. Tidak ada teman becanda, bercerita, dan berdiskusi soal buku itu, karya si anu, atau sekedar haha hihi gak jelas. Aku berinisiatif untuk meneleponnya lebih dulu. Menanyakan khabarnya dan kenapa tidak menghubungiku. Setelah hari itu, dia mulai lebih berani untuk pedekate dan memintaku jadi istrinya. Aku meragu. Terperangkap di titik kebimbangan. Hingga meluncur dari mulutku 3 syarat yang harus dia penuhi kalau mau aku jadi istrinya. Kemudian, aku terperangah takjub .... saat ketiga syarat itu dapat dia penuhi. Aku mencair ....

Eeehm apa sih yang menarik dari seorang Mubin buatku? Kejujurannya yang apa adanya. Bahkan hingga yang paling buruk yang biasanya disembunyikan para lelaki saat pedekate, semua diceritakannya padaku. Apakah dalam proses menuju pernikahan kami tidak pernah ribut? Tentu saja ribut-ribut kecil kadang terjadi. Bahkan hingga hari ini, setelah 2 bulan dan 5 hari pernikahan kami. Dinamika rumah tangga selalu begitu kan? 

Aku berpegang pada prinsip komunikasi. Tidak ada kebekuan, keributan, kemarahan atau masalah sekecil apapun yang bisa teratasi tanpa komunikasi yang sehat dalam sebuah pernikahan. Kami sama-sama belajar saling memahami. Aku yang banyak ngomong, cenderung bawel dan bisa sibuk dengan banyak hal dalam mengisi waktu, berbanding terbalik dengan suamiku yang cenderung diam, tidak suka berdebat, dan sering lebih asyik menghabiskan waktu dengan main game. 

Jika ada masalah, biasanya aku menulis puanjaaaang sekaliii untuknya. Mengapa harus nulis? Karena aku cengeng. Sebelum selesai bicara, bisa-bisa aku mewek dan pembicaraan tidak akan pernah sampai pada intinya. Dan suamiku paling tidak suka lihat aku nangis tidak jelas, bikin dia sedih katanya. Maka aku pilih menulis jika ada masalah di antara kami. Aku menyebutnya "surat cinta" Lalu apa tulisanku berbalas? Tidak sama sekali. Suamiku tidak pernah membalas semua uneg-unegku lewat tulisan. Dia membalasnya dengan perubahan sikap nyata, meski kadang masih sering diingatkan. Yaa kan kami masih terus belajar saling memahami :)

Ramadhan pertama kami berjalan seperti layaknya pasangan-pasangan lain. Ini memang bukan pernikahan pertama kami. Tapi buatku, inilah Ramadhan luar biasa sebagai istrinya. Saat puasa yang biasanya aku tidak pernah nyuci nyetrika, karena 8 tahun kesendirianku selalu akrab dengan tampat laundry.  Sebagai istri, aku belajar untuk bisa nyuci dan nyetrika meski tidak licin-licin banget. Jadilah hari pertama puasa aku tepar karena cucian segunung.  Satu hal yang kusuka, aku bisa jadi ratu dapur. Memasak adalah hobbyku selain menulis. Tentu saja aku menemukan kebebasan meracik menu setiap hari. Beda dengan kehidupanku sebagai anak kos yang selalu beli menu instan yang dapurnya sepanjang Karang Menjangan.

Lelakiku bukanlah suami yang banyak menuntut soal menu makanan. Apapun yang kusediakan selalu dimakannya. Kalau enak dia bilang enak banget. Kalau tidak enak, cuma dibilang, kurang enak. Sejujurnya suamiku adalah lelaki yang temperamental. Mudah marah jika emosinya tersulut. Jadi aku harus punya teknik jitu untuk melembutkan hatinya. Tentu saja dengan doa kepada yang Maha membolak balikan hati, agar meniupkan kelembutan pada hatinya. 

Suamiku juga bukan lelaki romantis, jadi suprise ketika kucium tangannya, lalu dengan penuh kelembutan dia meraih kepalaku, mengecup dahi, kedua pipi, dan menyapu bibirku dengan kecupan lembut setiap kali berangkat dan pulang kerja.Hatiku selalu berdesir dan berulang kali jatuh cinta kalau sudah seperti itu. Belum lagi melihat matanya yang menggemintang setiap kali kami bertemu setelah seharian sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Matanya menyiratkan kerinduan yang tak terungkap dengan kata. Aaah yaa aku takkan pernah lupa, ketika suatu kali di rumah mertua, dia mencariku sepulang kerja, padahal aku cuma sedang tidur-tiduran di kamar. Ekpresinya itu loooh ... seakan-akan takut kalau istrinya hilang hehehe ....

Sementara aku sendiri kadang keras kepala. Suka mendebat. Namun bagaimanapun, aku harus bisa menempatkan diri sebagai istri yang baik untuknya. Aku berusaha menyesuaikan diri dalam ryhtme kehidupan baru yang harus kutata nada dan iramanya. Bukan perkara mudah menyelaraskan dua hati dan dua kepala. namun dengan niat baik, keikhlasan dan cinta, sepertinya tidak ada yang yang tidak mungkin untuk dilakukan.

Kami memang sedang saling belajar. Ramadhan ini menjadi madrasah untuk saling memahami dengan cinta, kasih sayang, dan kelembutan. Masa lalu memang pernah ada dalam hidup kami. Namun kami hidup untuk hari ini dan tentu esok. maka masa lalu tinggal lagi sebuah memorabilia di dalam kotak penyimpanan yang diletakkan di sudut hati. Biar saja ia berdebu. Cukup diambil segala yang baiknya untuk lebih diperbaiki hari ini. Kemudian biarkan yang buruk membusuk dan menjadi kompos untuk menyuburkan cinta kami.

Pernikahan bukan soal beda usia bagi kami, melainkan soal niat menjadikannya sebagai ibadah. bagaimanapun suamiku adalah imamku. Terlepas dari segala kekurangannya, sebagai istri aku wajib mematuhinya selagi dalam ketaatan pada Allah. Pernikahan bukan juga soal kesempurnaan. Karena kami sama tidak sempurna. Tapi kami bisa saling menyempurnakan dalam banyak hal. 

Percik-percik kecil mungkin saja terjadi, tapi takkan pernah  kami biarkan jadi api yang akan membakar hati dan kedamaian. Perjalanan ini baru dimulai. Masih panjang liku-liku di depan yang harus dilalui. Semoga Allah selalu membimbing kami menjaga agar rumah cinta kami bertahta sakinah, mawaddah, dan rahmah. Di sisa hari Ramadhan, biar kuuntai lebih banyak pinta untuk dilambungkan ke petala langit, bagi perjalanan cinta kami, bagi kedamaian negeri ini, dan bagi saudara-saudara tercinta di palestina dan di bumi manapun.

*Hadiah kecil untuk 2 bulan pernikahan kita, mas ... 
*Palapa, 16 Juli 2014














Monday, June 23, 2014

Surabaya, Sebuah Kenangan Tanpa Akhir (part 2)

Launching HIIB
Apa rasanya kehilangan separuh dari kehidupanmu? Kehilangan hari-hari di mana kamu merasa hidup dengan segala aktivitas yang menyegarkan dan menumbuhkan jiwa. Itu yang saat ini sedang kualami. Rasanya seperti ada lubang hampa udara di dalam jiwa. 

Aku rindu Surabaya. Terlebih rindu dengan aktivitas berkesenian, nyastra dan diskusi-diskusi ringan yang kerapkali menimbulkan ide-ide segar yang mengalir tiada henti. Tercatat aku telah kehilangan dua momen berkelas sejak kutinggalkan Surabaya. 

Pertama, aku tidak bisa menghadiri launching buku Hidup Ini Indah, Beib. Buku yang sempat kukawal proses editingnya dan berisi empat tulisanku. Setiap karya untukku adalah anak jiwa yang dikandung dan dilahirkan sepenuh hati. Aku mencurahkan isi kepala dan hatiku dalam buku ini. Buku ke 14 yang kulahirkan dari hatiku. 

Membayangkan keceriaan, sorot kamera, liputan media dan haha hihi bersama 36 penulis yang semuanya perempuan, cukup membuat hatiku ngilu. Tanpa terasa ketegaran yang kubangun merembes diam-diam dari kelopak mata. Meski aku masih bisa berkomen-komen via facebook, tapi kebahagiaan itu tak purna tanpa aku berada di sana, Rolas Cafe, tempat buku itu diluncurkan. 

Nobi Darsini dan Stebby Whiji
Kedua, aku kehilangan kesempatan menyaksikan Mbak Wina nyinden, Shenobi dan Stebby menari tayub sebagai Darsini dan Kang Widji, Denny Tri Aryanti yang bermonolog, dan tentu saja proses yang mengiringi anak jiwa ke 8 seorang penulis keren, Wina Bojonegoro. Ah ya, tentu aku juga kehilangan kesempatan menyakskan kerempongan seorang stage manager, Didi Cahya, si among tamu Evie Suryani, dan si mungil Heti Palestina Yunani yang enerjik. Duuh membayangkan keceriaan suasana di Perpustakaan BI yang mengawinkan seni dan sastra di atas pentas, rasanya nelongso, Sumpaaah nelongso. Lebay mungkin, tapi itu rasaku.

Denny Tri Aryanti
Setiap pilihan tentu membawa konsekwensi yang mengiringinya. Bukan berarti aku tak bahagia dengan kehidupanku hari ini, bersama suami dan aktivitasku sehari-hari. Tapi sungguh, ada yang sunyi di sudut hati. Bahkan akhir-akhir ini otak kananku nyaris beku. Jemariku sulit diajak menari melahirkan barisan cerita. Sepertinya aku butuh dopping. Sayangnya dopping itu berarti aku harus ke Surabaya, meski cuma untuk satu atau dua hari. 

Surabaya memang bukan tanah kelahiranku, but its like home for my soul. Sebuah rumah di mana aku ingin selalu kembali. Sebuah keluarga di mana aku ingin selalu didekap dalam peluk hangat mereka. Sebuah tempat di mana aku merasa berarti dalam segala kemampuan diri.

Aaah ... ini bukan keluhan, cuma serupa ndleming seorang Titie yang sedang merindui keluarga besarnya di Surabaya. Andai saja di jakarta kutemui ruang dan komunitas di mana aku bisa mengekspresikan kemampuan diri ....

Well, whatever, hari ini adalah milikku. Duniaku. Cuma aku yang bisa mengubah segala kerinduan ini menjadi sepotong kekuatan jiwa untuk menjalani hari-hari di kota besar bernama jakarta. Surabaya memang sebuah kenangan tanpa akhir. Tapi hari ini adalah kenyataan yang harus kujalani. Aku tak bisa hidup di dalam ruang-ruang kenangan, yang harusnya kulakukan adalah menjadikan kenangan itu sebagai bagian dari upaya menumbuhkan jiwa kembali di belantara ibu kota negara ini. Aku bisa! pasti bisa!

*Kutulis usai ditelepon Didi Cahya, Duri Kepa 24 Juni 2014

Wednesday, May 7, 2014

Surabaya, Sebuah Kenangan Tanpa Akhir (Part 1)

Setelah sekian lama blog ini berdebu, tanpa disentuh, tak dibersihkan, tak ditengok, mirip rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya jalan-jalan. Terpaksa harus nyapu-nyapu dulu, bersih-bersih dulu, masak air, nyeduh cokelat panas, baru duduk manis di sudut ternyaman buat menulis.

Aku ingin berayun sejenak di kursi malas di sudut ruangan ini, sambil menerawang ke sudut-sudut kenangan. Melihat lagi jalan-jalan yang telah kulintasi. Mengintip kemasan-kemasan rasa yang terbingkai manis di sebuah kota bernama Surabaya.

Surabaya? Ya Surabaya. Sebuah kota tempat aku dilahirkan kembali menjadi sosok pribadi baru, bak bayi terlahir dari rahim sang ibu. Sebuah kota yang bahkan tak pernah sebelumnya terangan untuk menjadi tempat tinggal. Surabaya yang telah menjadi tanah kelahiran kedua, home sweet home yang sarat dinamika. 

Menjadi salah satu warga di kota "seribu taman" yang asri, adalah sebuah kebanggan tersendiri. Aku yang bukan siapa-siapa, yang datang ke kota ini dengan jiwa yang terkoyak dan berdarah-darah, mendapatkan ribuan cinta dan kasih sayang yang menumbuhkan jiwa. Cinta yang membesarkanku menjadi sosok yang memiliki nama. Bukan sekedar nama yang disematkan, melainkan sebuah keberartian hingga diri ini memiliki kemampuan untuk berbagi kasih, ilmu, dan pengalaman.

Sebuah perjalanan yang bermula dari kepercayaan seorang Mayoko Aiko, yang memberiku amanah untuk mengelola, menjaga, dan membesarkan komunitas penulis bernama CErita Nulis Diskusi On Line (CENDOL) Chapter Jawa Timur (BONEKTIM), membuatku menjelma menjadi sosok bunda bagi ribuan anak, kakak bagi ribuan adik, dan mitra bagi banyak komunitas. 

Berawal dari koordinator CENDOL Jawa Timur, aku melakukan penetrasi komunikasi dengan banyak penulis, seniman, pekerja seni, pejabat birokrasi, hingga para pedagang di seputaran pasar Karang Menjangan. Sebuah hubungan simbiosis mutualisme yang menjadi sebuah jalinan pertemanan yang berkembang dengan baik. 

Bersama BONEKTIM, melahirkan sebuah proyek mengajar anak-anak di area lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, membuatku seringkali harus blusukan di Doli. Mengeja dengan terbata sebuah kehidupan yang kerap diatasnamakan sebagai takdir, kehidupan anak-anak yang memiliki lubang menganga di jiwanya. Kehidupan yang bersicepat dengan derap lendir pekerja seks komersial yang disuling ratusan kali oleh para penikmatnya. Aku menemukan banyak kearifan, ketulusan, kasih sayang, dan harapan yang perlahan tumbuh dari anak-anak tak berdosa yang bahkan tak pernah meminta dilahirkan di lingkungan hitam, bahkan dari rahim para penjaja syahwat. Meski harus seringkali kuhapus airmata diam-diam tiap kali anak-anak tersebut bercerita atau mengadu banyak hal padaku.

Tak cuma blusukan di Doli. Pertemuan rutin bulanan yang kusebut KOPDAR, menjadi media untuk mengeratkan persaudaraan di antara anggota BONEKTIM, juga media sharing karya. Rasanya bahagia tiap kali anggota BONEKTIM berhasil menerbitkan buku-buku karya mereka. 

Lewat aktivitas bersama BONEKTIM, aku mengenal Didi Cahya (penyiar), Evie Suryani (Humas BARPUS Kota Surabaya), Wina Bojonegoro (penulis senior), Heti Palestina (Pekerja media), Alm. Johan Budhie Sava (pemilik jaringan tobuk Togamas), komunitas Sae Sanget, Arini Pakistyaningsih (Kepala BARPUS kota Surabaya) ,dan masih banyak nama lagi yang mewarnai perjalanan seorang Titie Surya.

Bersama mereka aku berkiprah dalam banyak suasana. Menghasilkan karya, mengisi panggung-panggung seni dan perbukuan, serta menularkan virus menulis lewat workshop di sekolah-sekolah, dan pelatihan bagi ratusan petugas teknis perpustakaan. Hidup menjadi sangat bergairah dan penuh warna buatku. Tiada hari untuk bermenung apalagi sekedar memanjakan kegalauan, dan meratapi luka-luka yang pernah ada.

Bahagia adalah pilihan. Aku memilih bahagia dengan mengembangkan pikiran positif dan beraktivitas di segala bidang yang mampu kulakukan. Kuyakin bukan tanpa maksud Allah memperjalankan aku melewati banyak lintasan dan peristiwa. Satu hal kuyakin, apapun luka-luka dan noda masa lalu setiap orang, masa depannya masih suci. Surabaya menjadi kawah candradimuka buatku mengembangkan aura positif dalam diriku. Mengutip ucapan Didi Cahya, " Titie Surya yang pertama kali saya wawancarai di radio Smart FM, berbeda dengan Titie Surya hari ini. Dia lebih ceria, lebih memancarkan aura bahagia."

Kusesap cokelat panas yang mulai mendingin. Kusandarkan punggungku ke kursi malas sambil meregangkan kedua tangan ke udara. Kulemparkan pandanganku pada langit-langit. Memetakan wajah-wajah yang kurindukan. Aaah ... rinduku pada mereka serupa rinduku pada setiap sudut Surabaya. Aku ingin mengistirahatkan mata dulu sejenak, sambil tersenyum pada setiap wajah yang bermain di dalam benakku. 

*Duri Kepa, 08 Mei 2014. Pukul 11.45




Followers

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting